
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Hari ke dua Ririen dinas ke Jogja, Putra segera ingin menyusul istrinya, dia menghubungi mamanya untuk datang ke Duren Sawit menjaga anak- anaknya sementara dia mempersiapkan ransel berisi baju gantinya.
Siang tadi Putra sudah menanyakan info hotel tempat Ririen menginap selama di Jogja. Taksi yang mamanya tumpangi masuk ke halaman rumahnya, bu Rini dan Nuna turun membawa koper kecil baju ganti mereka, tidak pakai basa basi Putra menyalami mamanya dan menggunakan taksi tersebut untuk ke bandara. Sejak pulang sekolah tadi dia sudah menjelaskan pada kedua jagoannya bahwa dia akan menjemput mommy mereka dan di rumah mereka di temani oleh nenek dan tante Nuna.
Putra memesan kamar hotel yang akan dia tempati dengan Ririen, karena dia akan memaksa Ririen untuk tidur dengan dirinya. Sudah jam enam sore. Putra meninggalkan pesan untuk Ririen dia menunggu di lobby hotel. Sesudah itu dia menghubungi HP Ririen. Ririen yang sudah membaca pesan pesan segera mengangkat saat Putra meneleponnya. “Hallo Mom, kamu di mana?” tanya Putra lembut.
“Di kamar 507,” jawab Ririen, tidak enak dengan Tuti bila ketahuan dia sedang ribut dengan suaminya.
“Mbak, aku pindah ke kamar suamiku yo, ni dia sebentar lagi mau jemput ke sini,” beritahu Ririen .
“Iya, enggak apa-apa,” jawab Tuti.
“Suami Mbak mah, ke mana aja selalu ndampingi ya, apa kali ini juga bawa anak-anak seperti di Bali?” tanya Tuti lagi.
“Enggak. Dia sendirian,” tak lama kemudian terdengar kamarnya di ketuk. Ririen membukakan pintu.
“Miss you Mom,” Putra menyapa sambil memeluk serta mencium kening istrinya. Putra di persilakan masuk, lalu Ririen menggeret kopernya yang segera di ambil oleh Putra.
“Mbak Tuti, saya bawa barang istri saya ke kamar dulu ya, lalu kita keluar makan, saya tunggu kalian di lobby,” sapa Putra pada Tuti. Lalu dia keluar kamar sendirian membawa koper dan tas Ririen.
“Ayo Mbak, kita makan dulu,” ajak Ririen. “Enaknya malam ini kita makan di mana?” tanya Ririen lagi.
“Katanya kemaren pengen coba gudeg manggar?” sahur Tuti. Gudeg manggar adalah gudeg yang bahan dasarnya bukan dari nangka seperti gudeg yang terkenal itu. Bahan dasar gudeg manggar adalah tangkai bunga kelapa muda yang masih tertutup seludangnya. Dan gudeg manggar sulit didapat, karena jarang penjualnya.
“Iya Mbak, penasaran apa bedanya dengan gudeg berbahan dasar nangka,” jawab Ririen, “Kita cari resto gudeg manggar ya.”
__ADS_1
“Mau makan apa Mom?” tanya Putra sambil melingkarkan lengannya di pinggang Ririen.
“Coba tanya rekomendasi orang hotel tentang gudeg manggar,” jawab Ririen berpura manis karena di depan Tuti.
Mereka pun menaiki dua becak menuju rumah makan gudeg manggar, tentu Ririen berdua dengan Tuti, alasannya tidak enak Tuti sendirian.
“Besok pesawat jam berapa Mbak?” tanya Ririen.
“Jam enam sore Mbak, tapi pagi saya akan membatalkan tiket Mbak Ratih, sayang ‘kan kalau hangus, lebih baik di potong biaya admin 25% tapi masih bisa refund,” Tuti memberi tahu jadwal kerjanya besok pagi, karena tadi pak Putra memberitahunya Dewi akan pulang dengannya hari Senin nanti.
“Kira-kira besok lama enggak ya cek material. ‘Kan hari Jum’at anak produksi juga pada Jum’atan,” tanya Ririen.
“Kita ‘kan enggak ikutan full dengan anak produksi, kita mau dibawa bu Kasih ke perusahaan pribadinya dibidang batik tulis, kalau yayasan ‘kan milik eyangnya,” jelas Tuti.
“Waduh, bojoku besok gimana ya, aku suruh dia cari kegiatan sendiri dulu aja deh, sampai kita balik ke hotel, lagi kamu jam empat harus sudah on the way ke bandara kan?” Ririen bingung terhadap kegiatan Putra besok.
***
Putra yang melihat perilaku Ririen terhadapnya semakin putus asa. Dia tahu sejak tadi Ririen sangat perhatian dan manja hanya kamuflase karena di depan Tuti saja.
“I love you Mom” peluk Putra dari belakang, diusapnya perut Ririen dengan lembut .“Anak-anak Daddy sehat kan, senang kan dibawa Mommy kerja,” Putra menyapa dua anaknya di dalam perut Ririen.
Ririen tidak menepis pelukan atau usapan Putra, tapi dia hanya diam membatu tanpa ekspresi. Tidak ada wajah kesal, wajah sedih atau marah serta ji-jik, dia hanya menampilkan wajah datar tanpa ekspresi sama sekali. “Please jangan diam gini, bicara dong Mom,” pinta Putra.
Ririen tak menggubrisnya dan tertidur tanpa mempedulikan Putra sama sekali. Putra yang melihat istrinya tertidur meninggalkan dirinya, sangat tidak percaya. Diciuminya Ririen dan dipeluknya dengan lembut, dibisiki kata-kata maaf di telinga Ririen walau istrinya sudah tertidur, dia yakin dialam bawah sadarnya Ririen akan tetap mendengar bisikannya.
“Jangan pernah berpikir buruk Mom, Daddy enggak ada hubungan apa pun dengan perempuan itu, Daddy hanya mencintaimu dan akan selalu mencintaimu. Enggak ada orang lainnya di hati Daddy. Only you in my heart.”
Paginya mereka sarapan di hotel. “Mau ini Mom?” tanya Putra menawarkan bubur ayam pada Ririen.
__ADS_1
“Enggak, aku mau soto kudus aja, tapi pengen burger juga sih. Nanti aja deh, sekarang mau makan bubur gudeg aja,” sahut Ririen. Mereka bicara, tepatnya Ririen bicara karena ada Tuti bersama mereka.
“Mbak, barusan sekretaris bu Kasih meminta kita sarapan di rumahnya sekalian survey ke lokasi batik tulisnya, jadi kita enggak ketemu ama anak-anak produksi yang baru semalam datang,” lapor Tuti.
“Oh ya wes, kita ganjel aja secukupnya di sini, lalu kita bersiap ke rumah bu Kasih, kita naik apa ke sana?” tanya Ririen.
“Sudah di tunggu mobil yayasan bu Kasih di depan hotel, sudah dikasih nomor driver juga agar dia bersiap di lobby kalau kita mau keluar,” jelas Tuti.
“Mas mau ikut kita lihat usaha batik tulis atau mau punya kegiatan sendiri?” tanya Ririen pada Putra.
“Mas ‘kan kesini nemani dan ngejaga Mommy kerja, ya Mas ikut kamulah” jawan Putra diplomatis. Setidaknya bila bersama orang lain dia masih mendapat jawaban dan attensi dari Ririen.
“Ya udah Tut, cukuplah kita nge ganjelnya, yok cuzz biar enggak kelamaan ditungguin bu Kasih,” Ririen pun meminta Tuti menghubungi driver bu Kasih agar standby di lobby
***
Sudah jam empat sore, Tuti baru saja berangkat ke bandara diantar oleh mobil yayasannya bu Kasih, yang memaksa tamunya mendapat service darinya.
Ririen kembali ke kamar, dia cukup lelah hari ini, dia ingin istirahat, tapi tentu saja dia menghubungi dulu para kekasih hatinya agar tak terlupa seperti kemarin. “Mommy apa benar Daddy ke Jogja menjemput Mommy?” tanya Fajar mengecek keberadaan daddynya. Lelaki kecil itu tahu ketidak beresan yang terjadi.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : MAYYA_ZHA, DENGAN JUDUL NOVEL PEMILIK KEHORMAANKU YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta