
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Sambil menunggu obat, Putra mengusap perut Ririen yang mulai terlihat membuncit di usia kehamilan tiga bulan kali ini. Ririen mulai mengenakan rok atau celana hamil, sejak dulu dia tidak suka pakai baju hamil one piece untuk pakaian kerjanya. Menurutnya pakaian hamil one piece seperti daster rumah saja sehingga dia tidak pede memakainya untuk busana kerja.
Hari sudah gelap saat mereka keluar dari parkiran rumah sakit. Putra membawa Ririen makan mie ayam pangsit jamur kesukaan Ririen tanpa memberitahunya.
Ririen memesan pangsit rebus tanpa mie namun extra jamur. Kebiasaan Ririen kalau makan mie ayam itu tanpa kuah, maka karena hanya pesan pangsit rebus dia menekankan agar kuahnya dipisah. Tentu saja dia sangat senang makan pangsit rebus. Dia menghabiskan dua porsi. Kalau tidak malu ingin rasanya dia bilang terima kasih pada suaminya.
Tiap malam Putra selalu berupaya membujuk Ririen untuk memaafkannya. Memeluknya penuh kasih, mengajaknya bicara, bahkan bicara dengan anak-anak mereka. Dia tidak pernah lelah melakukan itu. Namun malam ini dia salah ucap yang membuat Ririen menjadi emosi. Dia tidak mikir kata-katanya barusan akan membuat Ririen naik pitam.
“Cintaaaaaaa, ayo dong jangan diam aja, jangan kaya anak kecil gini dong,” bisik Putra sambil menciumi puncak kepala Ririen dan mengusap perutnya.
“Kamu yang anak kecil, kalau sudah enggak suka ama saya, ya tinggal pulangin saya ke Ayah, enggak usah menjadi beban kamu seperti itu,” Ririen memekik keras lalu bangkit dan keluar kamar. Dia masuk ke kamar Alesha dan mengunci pintu penghubung serta pintu depan kamar Alesha.
Sejak malam itu, Ririen resmi pindah kamar, dia tidak pernah lagi tidur di kamarnya. Putra makin frustasi melihat kelakuan istrinya. Dia tak mungkin marah, karena bisa berakibat fatal. Dia sangat tahu Ririen masih terluka oleh pengkhianatan yang dilakukan Ricky sehingga sekarang berimbas seperti ini karena kembali merasa dikhianati.
Putra sangat takut kejiwaan bayinya ikut terganggu, karena dari beberapa buku kehamilan yang dia baca, di sebutkan kejiwaan ibu berpengaruh terhadap bayi yang dikandungnya.
Setiap pagi dan malam Putra selalu mengingatkan Ririen meminum vitamin kehamilannya juga mengingatkan makan siang saat Ririen di kantor. “Malam ini Daddy enggak pulang ya Mom, Daddy pergi dengan A’ Hilman untuk urus material di toko yang di Cirebon,” pamit Putra saat sarapan.
“Iya, hati-hati,” jawab Ririen di depan kedua anaknya.
“Besok kalian berangkat sekolah diantar sopir kantor Daddy ya, jangan rewel dan jangan bikin Mommy marah,” Putra memberitahu anak-anaknya.
Saat pamit Putra mencium puncak kepala dan kening Ririen sambil berbisik, “I love you more and more. Mengapa sulit sekali memaafkan? Apa Daddy segitu kotornya enggak bisa Mommy maafkan?”
***
“Mbak, di Jakarta sini kalau cari buah ciplukan di mana ya? Waktu itu saya pernah beli di pasar Beringharjo,” cetus Ririen siang ini saat mereka sedang makan siang di kantornya.
__ADS_1
“Wah saya mana tahu Mbak, pas ke Jogja aja saya ‘kan enggak ikut beli, mungkin pas saya sudah pulang ya?” sahut Tuti bingung.
“Tiba-tiba koq pengen tho Mbak, beli di mana ya?” Ririen bingung sendiri. Akhirnya sepulang kerja dia mencari di toko buah besar yang juga menjual buah-buah import. Didapatinya buah ciplukan beda jenis. Yang di jual di supermarket buah ini jenis buahnya berwarna kuning tua dan ukuran buahnya lebih besar. Tertulis nama buahnya Golden berry. Ririen membelinya tiga kotak, disimpannya di kulkas, dia sangat menikmati buah itu walau tetap masih kepengen buah ciplukan di pasar Beringharjo.
Tiga hari kemudian di kantor Ririen kedatangan tamu yang memberikan besek kecil berisi buah ciplukan lokal. Rupanya Tuti kasihan melihat atasannya ngidam, dia meminta bantuan bu Kasih. Bu Kasih mengirimkannya via travel ke anak buahnya di Jakarta yang di minta mengantarkannya ke kantor Ririen.
“Mbak matur nuwun ciplukane. Enggak sekalian dikirim gudeg?” Ririen langsung menghubungi Kasih. Mengucapkan terima kasiha atas kiriman buah ciplukannya.
“Tuti enggak bilang minta gudeg owg,” balas Kasih.
“Ha ha ha … besok-besok tak suruh dia minta gudeg Wijilan,” sahut Ririen.
***
Putra yang melihat buah ciplukan lokal dan import di kulkasnya mengira pasti Ririen ngidam tapi tidak mau mengatakan padanya. Hatinya makin terluka karena dia merasa tidak di anggap oleh istrinya.
“Mom, kalau kepengen sesuatu bilang Daddy ya? Jangan dipendam sendiri, jangan dicari sendiri. Sampai kapan pun Daddy tetap suamimu dan ayah anak-anakmu,” bisik Putra malam ini.
Dipeluknya istrinya, walau dia sangat ingin melakukan kewajiban sebagai suami dia selalu menahannya sejak terakhir di Jogja dulu. Putra tidak ingin istrinya tambah marah. Malam ini saja dia bisa memeluk Ririen karena Ririen lupa mengunci pintu kamar sehabis ambil minum untuk Alesha barusan.
Yang penasaran ama buah ciplukan, ini Yanktie kasih gambar nya ya
***
Pagi ini perut Ririen kram, dia tidak bangun, sehingga Fajri masuk ke kamar Alesha karena tidak melihat mommynya di meja makan. “Bang, panggilin mbak Yuni suruh gendong dede Lesha ya,” pinta Ririen.
“Mommy atit?” tanya Fajri khawatir.
“Enggak apa-apa, Mom hanya malas bangun,” Ririen memberi alasan pada anaknya.
__ADS_1
“Mbak Yun, suluh ambil Dede, Mommy enda bisa banun,” Fajri memanggil mbaknya di dapur. Putra yang mendengar itu langsung bergegas masuk kamar Alesha.
“Mommy sakit? Apa yang dirasa?” Putra sangat panik memegang tangan Ririen lalu meraba keningnya.
“Kasih maem Alesha dan mandikan ya Mbak,” Ririen tidak menjawab Putra. Dia malah memerintah Yuni yang sudah masuk ke kamar Alesha.
“Mom, kali ini Daddy marah kalau Mommy enggak jawab. Apa yang Mommy rasain? Kita ke rumah sakit sekarang ya?” desak Putra keras, tapi Ririen tetap diam dan berbalik badan.
“Please jangan gini dong Mom, ini bukan hanya soal Mommy dan baby twins, ini juga menyangkut Daddy, Alesha, Fajri dan Fajar. Kalau sekarang Mommy sakit, kami semua sedih. Please jawab dong cintaaaa,” Putra merengek putus asa menghadapi keras hati istrinya.
Karena Ririen tetap diam, akhirnya Putra meminta mbak Riries datang memeriksa Ririen dan membujuknya untuk mengatakan apa yang dia rasa.
Mbak Riries datang setelah Putra pulang mengantar anak-anak sekolah. “Kamu kenapa De’? tanya mbak Ries lembut, dia mengukur tensi adiknya. Sesudah itu dia meraba perut Ririen yang dia rasakan sangat keras karena kram.
“Aku enggak apa-apa,” lirih Ririen menjawab dan akhirnya dia terisak.
“Kamu enggak sayang bayimu? Kamu enggak sayang Fajar, Fajri dan Lesha?” tanya mbak Riries hati-hati, sengaja dia tidak menyebut nama Putra. Riries tak ingin adiknya terpancing emosinya.
“Aku sayang semua anakku, tapi aku sakit karena kembali dikhianati,” pecah tangis Ririen makin keras.
“Kalau kamu selalu pendam seperti ini, enggak baik buat kondisi bayimu. Kalau enggak kuat bisa-bisa kamu keguguran lho,” jelas mbak Riries lagi.
\==========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : ALYA AZIZ, DENGAN JUDUL NOVEL KAKAK IPARKU CINTA PERTAMAKU YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta