WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
PEREMPUAN ITU ADALAH NAPASKU


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Selanjutnya Putra memutar balik arah mobilnya, sengaja tidak masuk jalan tol agar bisa menikmati kota Jakarta di waktu malam. Mereka melewati tenda pedagang kerang dan kepiting rebus, tempat mereka makan saat Ririen minta Putra menjauh.


Kali ini Putra sengaja mampir walau keluar rumah habis makan. Mereka tetap memesan menu yang tersedia di sana. Malam ini mereka hanya memesan enam piring udang rebus. Mereka hanya cari situasi yang pernah mereka rasakan bertahun-tahun lalu.


Cukup puas mengingat memori mereka di tenda kerang dan kepiting rebus pinggir jalan itu, Putra melajukan mobilnya menuju arah rumah sakit tempat Alesha berobat dan saat itu Putra marah karena tak diberitahu.


Putra ingat saat itu dia sedang sibuk dengan kecelakaan pekerja proyeknya. “Ini tempat Daddy merasa tak dihargai, saat Daddy tahu anak Daddy sakit dan Daddy tidak diberi khabar!”


“Kamu banyak terluka saat memulai mencintai, kenapa terus aja sibuk dan nge gas ngejar cinta perempuan itu?” tanya Ririen seakan yang dia tanyakan bukan dirinya.


“Karena perempuan itu dan anak-anaknya adalah napasku,” jawab Putra pasti.


“Mommy tahu, perempuan yang kamu bilang tadi itu, saat ini sudah punya dua anak perempuan denganku. Tapi cintaku buat anak perempuannya lebih besar. Jangan bilang aku tidak mencintai anak-anakku!”


“Bohong besar orang yang bilang dia mencintai anaknya sama besar! Semua anak punya porsi cinta yang berbeda di hati kedua orang tuanya. Dan Daddy enggak munafik, cinta Daddy ke Alesha lebih besar daripada cinta Daddy ke Leona dan Leoni”


“Apa cinta Mommy ke  Leona dan Leoni bisa sama besar?” tanya Putra. “Tak perlu di jawab! Daddy hanya kasih tahu, kita enggak bisa mengatur perasaan kita untuk selalu membagi rata cinta kita pada anak-anak.”


Dan Ririen membenarkan apa yang diucapkan Putra. Dia sendiri sebagai ibu sering membandingkan kedua gadis kembarnya. Apalagi dengan Alesha. “Thank you for loving me so deeply,” Ririen mengecup pipi suaminya.


Putra melanjutkan mobilnya menuju Duren Sawit. “Ini bangunan pertama yang Daddy buat di Indonesia! Kantor pertama. Disini semuanya berawal. Dari meletakkan batu pertama, lalu bangunan belum jadi Daddy sudah bekerja disitu, karena butuh income,” Putra memandang kantor pertamanya yang sekarang dipimpin Tetuko adik iparnya -suami Laluna Purwanagara -.


“Di gedung itu Mommy melihat dua perempuan mengejar cintamu,” Ririen memintas kenangan atas gedung itu.

__ADS_1


“Mereka mengejar bayangan. Tak akan pernah terpegang!” balas Putra  mengecup selintas pipi istrinya.


“Modal pertama bukan dari Kakek?” tanya Ririen, karena dia tahu Putra  adalah cucu tercinta kakeknya.


“Enggak. Buat usaha semua dari uang tabungan Daddy selama bekerja paruh waktu di London. Saat itu Papa dan A’ Hilman kaget saat Daddy beli tanah ini dan langsung membangun. Bahkan bahan bangunannya Daddy beli di A Hilman, walau saat itu papa mau bantu. Daddy enggak mau,” jawab Putra .


“Kamu hebat,” Ririen mengira Putra  tidak setangguh itu. Ternyata suaminya tak pernah mau dibantu oleh keluarganya.


“Kalau urusan usaha, emang Daddy enggak mau dibantu. Tapi urusan cinta, Daddy sangat butuh bantuan mereka. Karena mereka lah Daddy bisa bertahan ngejar Mommy saat itu,” Putra  mengingat saat dia putus asa, keluarganya lah yang selalu memberi semangat untuk jangan berhenti dan terus berjuang.


“Lanjut ya,”Putra menyalakan kembali mesin mobilnya. Mereka menuju rumah pertama mereka di Duren Sawit. Memang itulah harta pertama mereka setelah mereka menikah walau tanahnya dibeli sebelum Putra menikah dengan Ririen.


“Wah rumahnya terawat ya Dadd,” Ririen memperhatikan rumah yang mereka kontrakan itu.


“Iya, karena saat mau dikontrak ‘kan Tuko ngasih warning, rumah itu harus dirawat dengan baik,” jawab Putra , dia mengenang saat pertama di rumah itu. Juga saat mereka pertama kali membawa bayi Leona dan Leoni masuk rumah itu.


“Inget ‘kan saat kamu periksa disini? Lalu juga saat awal Mommy marah dan enggak ngajak bicara Daddy walau sedang periksa hamil sekali pun?” goda Putra  saat mereka sedang di depan rumah bersalin tempat si kembar lahir.


“Itu pengalaman tak terlupa Mom. Daddy merasakan gerakan babies. Amazing bangeeeet,” Putra  mengecupi jemari Ririen yang berada dalam genggamannya.


“Kalau enggak ingat itu kehamilan anak pertamamu, Mommy enggak akan kasih kesempatan saat itu. Tapi Mommy sadar, Daddy belum pernah tahu pergerakan bayi didalam rahim. Jadi Mommy langsung kasih Daddy buat ngerasainnya,” Ririen memberitahu mengapa dia memberi kesempatan itu.


“Wah tega bener kalau enggak kasih Daddy kesempatan itu,” Putra  pura-pura merajuk. Dan walau tahu Putra  hanya berpura-pura, tetap saja Ririen memberinya kecupan dipipi suami tercintanya itu. Berondong mapan dan tajir yang mengejar cintanya hingga beberapa kali terjatuh.


“Masih mau lanjut atau pulang nih?” tanya Putra dengan manisnya.


“Lanjutlah, ngapain kita pulang cepet kayak anak pacaran yang takut dimarahin ama calon mertua,” goda Ririen.


“Baiklah kalau maunya baginda ratu seperti itu,” Putra pun kembali menyalakan mesin mobilnya. Dia melajukan mobil milik mertuanya kesebuah bangunan sekolah dasar.

__ADS_1


“Dulu ada perempuan cantik yang memutuskan akan meninggalkan Daddy dan pindah kelain pulau karena tak tahan tiap hari di bully sesama pengantar anak didik,” Putra menatap tajam sekolah Fajar dan Fajri itu.


Putra tak bisa membayangkan bila Ririen benar-benar meninggalkannya. Dia yakin hidupnya akan lebih buruk dari saat dia melihat kekasihnya satu tempat tidur dengan sahabatnya sendiri.


“Saat itu aku enggak yakin dengan kekuatan cintamu Mas. Karena cinta yang pernah singgah hanya menyisakan kepingan hati yang sulit dirakit kembali menjadi sebuah bentuk yang manis. Bahkan menyusun kepingan puzzle lebih mudah,” Ririen mengingat saat itu dia memang sudah menyerah karena dituduh menggunakan cara tak wajar dengan memberi guna-guna pada jejaka ganteng yang memiliki masa depan cemerlang itu.


Ririen sadar diri sebagai janda anak tiga tentu dia “tak pantas” bersanding dengan Putra. Terlebih usianya lebih tua.


“Iya sayank, aku tahu koq, kita ‘kan hanya sedang napak tilas, bukan sedang mencari pembenaran. Justru dengan mengenang masa sulit itu kita akan menjadi lebih kuat. Karena cinta kita dibangun dengan perjuangan sangat berat buat kita berdua. Sehingga saat ada badai, kita kuat menghadapinya,” Putra memeluk Ririen erat.


“Sekarang nasib si bibik gimana ya Mas?” entah mengapa sejak tadi Ririen ingin kembali memanggil MAS bila mereka sedang berdua.


“Pernah dengar sejak ultimatum A’ Hilman dan tidak mendapat jatah bulanan lagi, anak-anaknya dipindah ke sekolah negeri yang gratisan dan dia menjadi buruh cuci”.


“Tapi selanjutnya enggak pernah dengar khabarnya lagi. Dan enggak pengen tahu juga. Itu ‘kan jalan yang dia pilih. Andai dia selalu berlaku baik, tentu A’ Burhan enggak bakal memberi hukuman seperti itu,” jelas Putra.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  UNCOMPLETED STORY  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETIN JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL  UNCOMPLETED STORY  ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2