
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Selesai dari Sukasari, mobil langsung diarahkan ke Pondok Bitung oleh mang Kusen. Sekarang Ririen belanja banyak jenis tanaman. Dulu dia belanja hanya tanaman yang dia sukai. Sekarang karena akan membuat nursery, tentu tak bisa seperti itu lagi. Harus banyak jenis tanaman yang tersedia. Walau tetap ada major commodity.
“Langsung dikirim ke alamat ini ya.” Ririen memberikan kartu nama miliknya pada petani yang dia beli tanamannya. “Nanti tanpa saya kesini bisa pesan lewat telepon ‘kan?”
“Iya Bu, bisa. Untuk selanjutnya bisa lewat telepon saja.”
“Sebelum ke Ciapus kita cari makan siang dulu Mang. Rumah makan yang khas Sunda ya,” pinta Ririen. Karena dia baru selesai belanja ketika waktu makan siang.
“Baik Bu,” jawab mang Kusen patuh.
“Mas, tolong tas mukena Mommy, kita makan sekalian salat Dzuhur,” Ririen minta diambilkan mukena saat mang Kusen berhenti di rumah makan SAUNG SUNDA.
__ADS_1
“Ayok Mang, jangan malu seperti itu. Saya ‘kan juga anak papa. Kata papa biasanya kalau papa makan ‘kan Mamang juga makan bareng. Jadi ke saya juga harus sama seperti itu,” Ririen menyuruh mang Kusen makan dengan santai tanpa perlu malu atau tidak enak.
“Muhun Neng,” jawab mang Kusen.
‘Keluarga pak Galih memang semuanya baik dan tak pernah membedakan manusia berdasarkan pekerjaan dan harta,’ batin mang Kusen. Dia pun mengambil lauk yang dia inginkan.
“Sedang di mana Mom?” Putra menghubungi Ririen saat mereka selesai makan siang.
“Lagi istirahad Dadd. Salat sekalian makan siang,” balas Ririen. Suaminya memang selalu seperti itu. Sehari bisa lima sampai tujuh kali absen dirinya bila dia sedang jauh seperti sekarang.
“Daddy sudah makan?” Ririen balik bertanya.
‘Take care ya Dadd. Mau bicara dengan Mas?” tanya Ririen. Dia tahu pasti ada saja yang akan dibicarakan Putra dengan semua anaknya.
“Pasti mau lah Mom,” jawab Putra cepat. Ririen langsung memberikan ponselnya pada Fajar yang sejak tadi sudah tak sabar ingin bercerita dengan daddynya.
“Dadd, tadi akhirnya Moomy dapat bibit poh-poh an lho,” Fajar membahas hal yang tak terduga. Karena beberapa kali Ririen membeli bibit itu tak pernah berhasil ditanam di Jogja. Tadi petaninya berjanji akan menyiapkan bibitan dengan dibungkus media basah agar bisa tetap tumbuh sampai di Jogja.
__ADS_1
“Pasti Mommy senang banget ya Mas,” tanya Putra.
“Iya lah Dadd, wong enggak sengaja aja nemuin tu bibit. Kan yang dicari Mommy tanaman hias bukan jenis itu,” sahut Fajar.
Cukup lama Fajar dan Putra bercerita. Memang seperti itulah Putra. Selalu ada saja bahan pembicaraan dengan anak-anaknya
***
Mereka sampai di Ciapus. Banyak petani dan pedagang tanaman disini yang lokasi kebunnya tidak masuk mobil karena masuk gang kecil. Tapi tentu saja itu bukan hambatan untuk Ririen. Dia hunting banyak jenis tanaman dan seperti biasa dia minta kirim semua jenis yang dia beli.
“Keren ya Mas, di gang kecil begini banyak petani tanaman hias. Wah andai Alesha ikut pasti dia akan suka,” Ririen kagum pada para petani tanaman hias disini. Mereka juga sangat erat kerjasamanya. Beberapa pedagang yang barangnya hanya sedikit menyerahkan pada temannya untuk digabungkan pengirimannya agar tidak terlalu banyak kardus yang dikirim.
\===========================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta