
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Mbak Dewi kalau mau pulang enggak apa-apa lho duluan, kayaknya ini sudah hampir selesai, tinggal ‘finishing touch’ aja,” kata pak Imron yang memang paling tua di antara yang yang hadir di sana.
“Justru ‘finishing touch’ nya yang saya enggak mau terlewatkan,” jawab Ririen, “Enggak koq saya enggak keburu-buru,” balas Ririen lagi. Putra datang bukan berarti dia wajib pulang kan?
“Tapi tahun ini ‘kan punya baby, enggak kayak tahun-tahun sebelumnya,” kilah pak Imron lagi.
“Santai Pak, ini sambil di makan lho buat ganjel perut,” Ririen menyerahkan kotak kotak martabak manis yang dibawakan Putra tadi, sedang dia sendiri memakan kerak telor yang memang hanya dibelikan satu saja.
Sesekali dia menyuapi Putra potongan kerak telor. Lalu dia berdiri minta sesuatu dirubah sesuai keinginannya, duduk lagi, berdiri lagi mengatur sesuatu. Putra sudah paham kemampuan kerja pujaan hatinya, Putra pernah melihat Ririen mengadakan even lumayan besar dan rumit sendirian hanya dibantu dirinya dan teman-teman sekolahnya.
“Alhamdulillah selesai juga,” gumam Ririen. Mereka menutup kerja hari itu dengan doa bersama dan saling mengingatkan agar besok jam 3 sore harus sudah standby di lokasi karena pembukaan di mulai jam 5 sore.
***
Ririen pun bersiap pulang setelah membawa sampah-sampah disekitarnya dan dia masukkan tong sampah.
“Besok berangkat jam berapa Mom?” tanya Putra saat mereka berjalan keluar hall menuju parkiran.
“Jam 1 dari rumah, tapi besok aku enggak bawa mobil,” balas Ririen.
“Kenapa?” tanya Putra, dia malah bingung.
“Wah enggak bisa gerak, tahun pertama aku bawa mobil, enggak bisa masuk, akhirnya jalan kaki jauh banget ke dalam karena parkir di luar arena, tahun kemaren aku nyewa ojek buat datang ke acara pembukaan. Besok minta Dendy buat anterin aku, dia kemaren sudah setuju,” cerita Ririen.
“Besok Daddy aja yang antar pakai motor ya?” pinta Putra.
Ririen berhenti, dia balik badan dengan tangan sudah di pintu mobilnya. “Kemaren ‘kan aku sudah minta kamu menjauh, apa susahnya sih?”
“Jangan bantah, atau kamu aku cium di sini sekarang juga,” ancam Putra.
“Sekarang Daddy ikutin mobil Mommy dari belakang biar Daddy tau rumah mertua Daddy, besok jam satu siang Daddy sudah standby antar Mommy dengan motor,” dia mengecup kening Ririen lalu balik badan menuju ke mobilnya yang parkir sedikit agak jauh dari mobil Ririen.
__ADS_1
Dengan sabar Putra mengikuti mobil Ririen ke arah Cempaka Putih Tengah I. Rumah orang tua Ririen.
Sesampai di rumah ibunya, Ririen keluar mobil untuk membuka pagar, Putra pun turun sambil membawa kresek berisi dua kotak martabak serta duabatang coklat untuk dua jagoannya. “Daddy langsung pulang ya, titip ini untuk 2 jagoanku,” katanya sambil memberikan dua batang coklat, dipegangnya wajah Ririen dan dikecup selintas bibirnya.
Ririen kaget dan memukul lengan Putra, tapi Putra tidak peduli dia malah memeluk erat Ririen dan mencium keningnya “Met bobo cintaku, jangan ngambeg terus, bikin Daddy enggak konsen kerja”
Esoknya jam 12 siang Putra sudah sampai di rumah orang tua Ririen. Pekik bahagia dua jagoannya menyambutnya. Dia membopong keduanya serta menciumnya berulang-ulang bergantian. Bu Purbowati ibunda Ririen yang melihat interaksi cucu-cucunya dengan tamunya yang dia belum kenal sampai kagum tapi juga sedih.
“Daddy tadi coklat Kakak dipatahin Fajri,” lapor Fajar pada daddynya.
“Koq bisa patah, apa kalian rebutan? ‘Kan Daddy sudah belikan kalian satu-satu?” tanya Putra.
“Dede rebut punya Kakak,” jawab Fajar lagi.
“Baru jam segini koq udah datang aja? Aku ‘kan belum siap,” keluh Ririen
“Kakak turun ya, Daddy cape lho itu, kalian udah berat, nanti Daddy jatuh gendong kalian berdua gitu,” Ririen mengingatkan kedua anaknya.
“Ndak, Kakak mau sama Daddy,” jawab Fajar yang teramat merindu daddyny.
“Ndak mau,” jawab Fajri sambil geleng-geleng dan memeluk leher Putra erat-erat.
“Ya dua-duanya ama Daddy, tapi jangan cekek Daddy gini dong, Daddy cium Mommy dulu ya?” pinta Putra.
Fajri melonggarkan pelukannya, Putra mencium kening Ririen, dia berbisik, “Ini alasan aku datang lebih awal, karena aku enggak mau anak-anak cemburu sama Mommynya yang menguasai Daddynya.”
“Ya sudah, aku urus Alesha dulu ya, kamu sudah makan belum? Makan dulu sebelum berangkat ya? Aku kenalin dulu ama ibu yok,” ajak Ririen.
“Bu, kenalkan teman Ade,” kata Ririen pada ibunya.
‘Ririen menyebut dirinya ade’, batin Putra. Satu masukkan lagi yang dia ketahui tentang perempuan idamannya ini.
Putra dengan susah payah menyalami ibunya Ririen, karena dia sedang menggendong dua jagoannya. “Duduk Nak, berat itu gendong dua anak seperti itu,” perintah bu Purbowati, mempersilakan Putra duduk.
“Fajar, Fajri turun ya, kasihan itu om nya keberatan gendong kalian,” perintah bu Wati pada kedua cucunya.
__ADS_1
“Daddy enggak boleh duduk, enggak boleh,” rengek Fajar. Tak biasanya dia kolokan seperti ini.
“Kakak koq tumben rewel sih Kak, enggak gitu dong sayang, cape itu Daddynya, pangku Daddy dua-duanya ya, nanti Daddy bacain cerita gimana?” bujuk Ririen yang bingung akan kerewelan Fajar yang tidak seperti biasanya.
“Coba Kakak ambil bukunya, Daddy bacain ya mau?” bujuk Putra. Lelaki ini juga menyadari perubahan sikap Fajar kali ini.
Fajar segera melorot dari gendongan Putra dan mengambil buku dari tasnya, dia segera berlari dan duduk di pangkuan Putra sebelah kanan, karena di kiri sudah ada Fajri.
“Sopo tho Nduk?” tanya bu Wati di dalam kamar yang ditempati Ririen.
“Bingung Bu nyeritainnya, intinya dia suka ama Ade, tapi Ade koq enggak pengen nikah lagi, Ade enggak mau gagal lagi, tapi dia telaten dan sayang banget ama anak-anak. Keluarganya juga enggak masalahin posisi Ade yang udah punya tiga anak dan lebih tua dari dia,” jawab Ririen.
“Lha, kowe lebih tua dari dia. Trus kamu sudah bertemu keluarganya?” tanya bu Wati. Translate bahasa bu Wati artinya lho, kamu lebih tua dari dia?
“Ya iyalah, wong dia mantan muridku mbiyen” jawab Ririen, dia bilang ya iyalah, ‘kan dia mantan muridku.
“Dan mamanya sudah ngundang aku. Semua enggak ada yang menolakku. Keluarganya sangat baik,” sahut Ririen sambil mengganti tasnya.
“Lha dhalaaah, koq iso?” bu Wati bingung, koq bisa katanya.
“Itulah Bu, kalau Ade kaya harta sih mungkin kita ragu dia tulus enggak, kalau soal duit jelas dia lebih banyak dari Ade, wong dia punya usaha sendiri, bukan kerja ama orang lain. Kalau bilang dia mau mainin Ade, ya enggak juga, wong selama ini dia sopan enggak pernah neko-neko, apalagi ngajak ngamar seperti Ricky dulu. Bingung ‘kan Bu?” tanya Ririen sambil bersiap mandi, dia baru saja selesai memberi ASI pada Alesha. Tapi dia ingin membawa keluar Alesha dulu untuk digendong daddynya.
\=================================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL TELL LAURA I LOVE HER YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1