
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Adzan maghrib sudah berkumandang ketika Putra terbangun. Dia bergegas ke kamar dan membangunkan Ririen. Mereka segera salat lalu Putra membangunkan kedua jagoannya sedang Ririen menyiapkan semua keperluan mereka untuk makan malam. “Mang, tolong bikinkan bara-nya ya,” pinta Ririen pada penjaga villa.
“Muhun Bu, akan saya siapkan.” sang mamang cepat mengerjakan apa yang Ririen perintah.
“Kita bakar yang buat makan malam dulu ya? Jagungnya belakangan,” Putra mengajak kedua jagoan membakar sate udang dan sate kelinci terlebih dahulu.
Ririen menyiapkan nasi serta aneka sambal untuk sate-sate yang mereka buat. Dia mengambil sate udang yang sudah matang dan mulai menyuapi Leona dan Leoni lebih dulu. Kedua bungsunya itu waktu makannya tentu saja lebih cepat daripada kakak-kakaknya yang lain.
“Mbak mau makan dengan apa sayang?” tanya Ririen. Dia menyodorkan sepiring nasi pada Alesha.
“Pakai sate kelinci aja,” jawab Alesha. Tentu ini luar biasa karena Alesha sangat suka dengan udang bakar.
“Makan sendiri atau disuapi?” tanya Ririen lagi. Dia sering takut Alesha iri pada kedua adiknya yang masih lebih banyak dibantu.
“Makan sendiri! Mbak sudah besar,” jawab Alesha sambil mulai menyuap nasi dengan sate kelinci.
“Kalian kenapa sih enggak pernah bosan dengan kegiatan bebakarann yang rutin kita lakukan?” tanya Putra iseng sambil mengatur arang agar bara nya rata.
“Daddy ingat enggak pertama kali kita melakukan bebakaran?” Fajar malah menjawab pertanyaan Putra dengan pertanyaan.
Putra tentu harus hati-hati menjawab pertanyaan jebakan Fajar kali ini. Dia takut salah jawab dan melukai perasaan anak sulungnya itu. “Ingat Mas, ketika kita bikin tenda di Bogor ya?”
“Itu alasan Mas suka dengan bebakaran!” jawab Fajar tanpa menerangkan apa maksud perkataannya.
“Saat itu aku masih kecil banget Dadd, tapi aku ingat, kita sekeluarga sangat bahagia. Dan itu pengalaman pertama kami piknik sekeluarga. Pertama kali kami boleh tidur di tenda. Pertama kali kami merasakan peran Daddy yang sangat kami butuhkan!” akhirnya Fajri yang menjabarkan mengapa mereka berdua sangat senang dengan kegiatan bebakaran yang rutin mereka lakukan sejak mereka tinggal di Jogja.
Ririen hanya bisa menangis dalam hati mendengar penjelasan Fajri. Dia juga ingat saat itu dia kabur ke Bogor karena marah pada Putra. Marah yang berkepanjangan.
__ADS_1
Andai tak ada pergerakan bayi diperutnya tentu saat itu kemarahannya masih terus berlangsung. Ririen tak membayangkan, apa anak-anaknya akan tumbuh seperti sekarang bila Ricky yang menjadi pendampingnya? Sedang Ricky sama sekali tak pernah ‘touch’ terhadap anak-anaknya.
Putra memang sering ngobrol dari hati ke hati dengan kedua jagoannya ini. Dia sering bingung, Fajar dan Fajri sering bisa saling melengkapi penjelasan seperti yang barusan mereka lakukan. Seakan pemikiran keduanya terhubung dengan telepati. Mereka seakan dua anak kembar yang bisa saling tahu isi pikiran satu sama lain.
“Mas juga suka dengan peraturan Daddy, kami tak boleh melakukan kegiatan diluar rumah saat hari Sabtu dan Minggu. Karena hari itu adalah hari keluarga. Walau kedepannya kami akan sering mbolos dihari Sabtu dan Minggu itu karena kegiatan kami. Tapi kami tetap akan memprioritaskan kumpul dengan keluarga,” sekarang Fajar yang mengeluarkan kata-kata bijaknya.
“Disambi makan Dadd,” Ririen menginterupsi pembicaraan tiga jagoannya. Dia memberikan piring nasi untuk Fajar dan Fajri. Sedang satu piring nasi yang sudah dia beri sate kelinci dan sate udang sudah dia siapkan.
Ririen membuka tusukannya dan ditambahkan sedikit kecap pedas. Tanpa ragu dia suapi Putra didepan Fajar dan Fajri.
“Udang dan kelincinya habiskan dibakar lho. Tapi ini tolong kalian antar dulu ke rumah penjaga villa.” Ririen meminta Fajri mengantar sepiring sate udang dan kelinci untuk keluarag penjaga villa.
Putra menerima suapan dari istrinya sambil terus membakar sate udang dan kelinci. Malam ini Ririen sengaja tidak mengeluarkan sosis dan bakso untuk dibakar. Takut banyak tersisa. Lebih baik bakso dan sosis untuk campuran mie atau nasi goreng saja. Toh sehabis makan nanti anak-anaknya akan membuat jagung bakar.
“Kakak … lihat mulut embak hitam,” pekik Leoni pada Leona. Dia tertawa melihat mulut Alesha yang cemong karena makan jagung bakar.
“Mulut Ade’ juga hitam. Giginya hitam juga,” Alesha memberikan cermin kecil mainannya.
Malam ini anak-anak puas karena kembali makan sate kelinci olahan sendiri. Kebahagian memang tak perlu mewah. Kumpul bersama semua yang kita cinta, itu sudah membuat hati berbunga.
***
“Sikat gigi yang bersih ya? Lalu langsung bobo. Jangan lupa pakai kaos kaki biar tidur kalian nyenyak,” Putra mengajak ketiga bidadari kecilnya untuk masuk ke kamar mereka. Walau nanti tentu saja dua yang kecil akan merengek untuk tidur dengannya dan Ririen.
Kalau sedang liburan seperti ini jangan harap dia dan istrinya punya waktu untuk berdua dalam kamar ketika malam.
“Malam ini Mbak juga mau tidur dengan Daddy,” nah … belum-belum malah Alesha yang lebih dulu minta tidur dengan orang tuanya.
“Daddy ingin bercerita pada Adek dan Kakak, Mbak ke kamar Mommy duluan aja,” Putra sengaja memancing Alesha agar tidur dikamar bersama kedua adiknya.
“Mbak akan mendengarkan cerita dulu, nanti kalau sudah selesai baru Mbak pindah ke kamar Mommy,” Alesha pun mengubah rencananya. Dia tak ingin ketinggalan cerita dari daddynya.
Putra menyelimuti kedua gadis kembarnya dan dia berbaring disisi mereka untuk mulai bercerita. Alesha yang enggan ditinggal akhirnya ikut berbaring dibelakang Leona jarak terjauh dari Putra. Karena yang di depan Putra adalah Leoni.
__ADS_1
“Daddy cerita tentang Rapunzel ya : dulu kala di sebuah kerajaan yang sangat kaya, Raja dan Ratu sedang menantikan kelahiran anak pertama mereka. Tidak lama, penantian mereka membuahkan hasil. Ratu mengandung anak pertamanya.”
“Namun, kebahagiaan itu terancam ketika sang Ratu jatuh sakit. Tabib istana menyarankan kepada Raja untuk mencari bunga rampion. Bunga itu merupakan satu-satunya obat yang bisa menyembuhkan Ratu.” sampai sini Putra melihat Leona sudah mulai terlelap. Leoni malah masih terlihat segar dengan binar mata kejoranya dan Alesha sudah dengan mata seperti lampu lima watt.
“Karena sangat mencintai istrinya, Raja pun berkelana mencari bunga rampion. Usahanya membuahkan hasil ketika Raja bersama beberapa prajurit menemukan bunga rampion di dalam hutan seberang istana.”
Akhirnya Alesha pun ikut terlelap. Sedang Leoni mulai terpejam tapi sesekali masih berupaya menahan matanya agar tak terpejam.
Putra menepuk-nepuk pangkal paha Leoni dengan lembut agar cepat tertidur. Setelah ketiganya terlelap Putra mengecup kening ketiganya dan keluar menuju kamar anak lelakinya. Di villa ini keduanya tidur bersama.
“Good night Son,” Putra mencium kening Fajri yang masih membaca.
“Night too Dadd,” balas Fajri.
“Night Son,” Putra pun melakukan hal yang sama untuk Fajar
“Night too Dadd, I love U,” Fajar memeluk Putra
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL TELL LAURA I LOVE HER YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL TELL LAURA I LOVE HER ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1