
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Gue bukan ngerasa jatuh cinta ke bunda Dewi yang pernah gue kenal, tapi jatuh cinta ama cewek yang baru pertama kali gue liat. Dan entah kenapa di hari pertama itu gue langsung nembak dia. Mungkin gue ketakutan keduluan orang lain. Tapi sedihnya sampai sekarang gue belum dapat lampu hijau dari dia, walau anak-anaknya sih udah jadi CS an ama gue,” jelas Putra terbuka pada para sahabatnya.
Ririen jengah dengan keterus terangan Putra pada team nya, tapi dia memang tidak aneh karena sejak dulu mereka seperti itu, sering sharing berbagai persoalan.
Semua diam. Tak menyangka ada kisah ribet antara ketua genks dan pembimbing mereka. Dalam benak mereka masing-masing tentu mengerti alasan penolakan bunda mereka yang merasa tak pantas menerima cinta mantan siswanya yang usianya terpaut lebih muda dan dia berstatus janda anak tiga. Tapi mereka juga sadar kalau cinta yang dimiliki Putra tidak salah karena panah cinta tak bisa kita atur mau kemana dia menuju.
Tetiba Sanih mengalihkan topik pembicaraan, “Sanih mau kasih kejutan nih,” Sanih berjalan ke ruang keluarga untuk mengambil tas nya. Dia membagikan undangan pernikahannya yang akan dilaksanakan dua minggu lagi.
“Wah senangnya, selamat ya sayang, semoga lancar acaranya,” Ririen langsung memeluk dan mencium Sanih. “Kenapa calon suamimu enggak kamu ajak ke sini?”
“Kalau dia ikut Sanih enggak bisa bercanda bebas ama teman-teman Bun, dia selalu minta Sanih bersikap dewasa. Jadi enggak boleh cekakakan lagi,” jawab Sanih dengan manjanya .
Sore menjelang maghrib baru semua anak kemdur pulang. Kecuali Putra sebagai tuan rumah. Sore tadi dia sudah meninggalkan teman-temanya karena dia punya janji dengan Fajar ke bengkel sepeda. Dan dia baru kembali ketika teman-temannya hendak pulang.
“Istirahat aja Mom, biar Daddy yang beresin,” pinta Putra.
“Enggak, nanti biar para embak tinggal cuci piring aja. Enggak repot koq,” jawab Ririen santai. Dia mengelap meja depan juga meja tengah. Dan membawa gelas kotor serta piring snack ke belakang.
“Ini mau Magrib, pegang Alesha aja,” Putra berbisik lirih pada Ririen. Kalau soal anak, Putra sering lebih keras pada Ririen seakan dia lah ayah anak-anak itu.
***
__ADS_1
Ririen sedang bersiap untuk datang ke resepsi pernikahan Sanih, sejak minggu lalu Putra mewanti-wanti dia harus berangkat dengan laki-laki itu, Ririen sudah hampir rampung dandan ketika Fajri masuk kamarnya dan mengatakan daddynya sudah datang.
Kali ini Ririen mengenakan gaun one piece sederhana, gaun pas body dengan panjang di bawah lutut, berwana biru donker, dengan panjang lengan ¾ dan sepatu serta dompet berwarna biru juga. Kali ini rambutnya dicepol keatas memperlihatkan leher jenjangnya.
Putra yang melihat penampilan Ririen kali ini hanya bisa menelan ludah saja, dia merasakan ada yang memberontak di pangkal pahanya. Senjata kecilnya siap bertempur. Kebetulan Putra juga memakai batik biru donker, sehingga mereka pas menjadi couple yang serasi.
“Jangan jauh dariku,” bisik Putra saat mereka baru saja selesai mengisi buku tamu secara terpisah.
Selain dengan gank Kemdur, ternyata di sana Ririen banyak bertemu mantan siswanya, karena itu dia sengaja menjauh dari Putra karena tidak ingin jadi bahan gunjingan. Ririen tak peduli pesan Putra saat akan mausk gedung resepsi tadi. Dia tak ingin namanya jadi bahan omongan oleh para mantan siswa.
Ririen semakin merasa tak bisa menerima kehadiran Putra dalam hidupnya saat secara tidak sengaja dia mendengar bisik-bisik beberapa siswa yang tidak pernah dia ajar karena dari kelas IPS.
“Itu bukannya Ketos yang dulu pernah tidur ama elo?” tanya seorang perempuan agak gemuk menunjuk Putra yang sedang berbincang dengan kolega kerjanya yang kebetulan bertemu di sini.
“Mana?” tanya perempuan satunya yang berdandan mencolok. Cantik dan seksi hanya make upnya terlalu tebal menurut Ririen.
“Dulu gue ngejar dia, gue ngemis cintanya, tapi dia cuma bilang, kalo mau main bedil ayok, tapi kalau main hati jangan ngarep! Gila enggak dia, dia enggak pake ngerayu atau nyanjung kita buat mau ama dia, dia malah nolak kalau buat berhubungan batin, dia cuma kayak orang beli bensin, datengin, buka lalu ngeloyor, enggak pakai ikatan apa pun,” sahut si menor.
“Lo diem ya, gue mau nyosor dia dulu,” dan si menor langsung berjalan menghampiri Putra dengan lenggok yang dibuat sesexy mungkin. Dia percaya diri Putra akan tergoda oleh tegur sapanya.
“Bu Dewi, apa khabar?” sapa seorang laki-laki muda.
“Hei Mas Udin, baik Mas. Wah tumben nih ketemu di resepsi,” sapa Ririen. Saepudin adalah staff keuangan di kantor pusat tempatnya bekerja.
“Kapan mulai masuk kerja Bu?” tanya mas Udin ramah.
__ADS_1
“Senin Mas, udah habis cutiku,” Ririen menjawab sambil tersenyum, dia tidak sadar semua perilakunya selalu diawasi tatapan tajam dari mata elang Putra.
“Ke sana yok Mas, kita antri siomay atau empek-empek,” ajak Ririen. Karena tadi mas Udin bilang dia datang sendiri. Mereka berjalan beriringan menuju saung siomay dan empek-empek.
Putra tidak menanggapi sapaan perempuan yang dia sendiri aja lupa siapa namanya, dia langsung bergegas menghampiri Ririen yang kebetulan saat ini sudah bertemu dengan Wendy. Putra tentu tak rela Ririen dan pria itu mencari makan berduaan.
“Kamu mau ambil apa Mom?” tanya Putra lembut ditelinga Ririen.
“Enggak tau, pengen siomay, tapi pengen empek-empek juga sih,” jawab Ririen.
“Tu ada kursi kosong dekat ibu itu, Mommy duduk aja nanti biar Daddy ambilkan, tapi enggak akan Daddy kasih sambel ya, kasian Alesha kalau Mommy makan sambel,” Ririen menuruti saran Putra, dia berjalan menuju kursi yang tadi ditunjuk berondong itu, sementara Putra dan Wendy mengantri untuk mengambil makanan. Putra kembali dengan dua piring, satu berisi siomay, satunya berisi empek-empek.
‘Anak muda, belum menikah, tapi dia mikirin ASI yang aku hasilkan bila aku kebanyakan makan sambal. Bahkan suamiku dulu saja tak peduli. Berondong ini malah peduli padahal Alesha bukan putrinya!’ Ririen tersentuh dengan perkataan Putra barusan.
“Wah kalian serasi. Kapan sebar undangan?” seorang rekan Wendy menyikut gadis tinggi dengan wajah tirus itu. Temannya mengira Wendy dan Putra adalah pasangan. Karena sejak SMA memang Wendy sering terlihat sangat akrab dengan Putra.
“Kalau elo udah lima kali nikah baru gue ama kak Putra bakal mikirin pernikahan kami. Itu pun baru sampe dipikirin. Bukan mau nyebar undangan!” jawab Wendy asal njeplak.
“Udah, ayok kita balik,” ajak Putra santai. Dia hanay tersenyum saja melihat Wendy keqi.
\==========================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta