WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
NAPAK TILAS KE SMA MEKAR


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI. JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Mom, jadi makan kerang?” tanya Putra saat mereka selesai salat ashar.


“Mau Dadd, gimana kalau sekalian di Muara Baru? Kita ajak mama, papa, Nuna dan kalau bisa A Hilman juga A Gilar?” Ririen sangat suka berkumpul dengan keluarga besar.


“Oke, kalau seperti itu jangan malam ini, agar semua bisa ikut. Takutnya kalau dadakan mereka ada yang enggak bisa gabung. Sekarang kita hubungi mereka semua, kita bilang aja acaranya besok.” Putra pun setuju dengan rencana Ririen.


“Malam ini gimana kalau kita berdua aja Dadd? Kita lihat dari jauh rumah di Cilangkap. Trus kita jalan-jalan sekitar Kranggan, Jati Rangga dan tempat jual duren di Setu?” Ririen kembali melontarkan wacana kegiatan malam ini.


“Kalau hanya ingin berduaan, kita harus pakai motor Mom, Daddy pinjam motor mamang dulu ya,” Putra kembali setuju. Mereka akan napak tilas cinta mereka dulu.


***


Ririen mendekap punggung suaminya dengan erat. Mereka sedang di depan SMA MEKAR JATI RANGGA. Tempat awal mereka bertemu dengan status ibu guru dan siswa. Mereka juga berhenti cukup lama memandang bangunan kecamatan JATI SAMPURNA yang sudah sangat berbeda dengan saat mereka berada di sana sebagai panitia rally sepeda SABA DESA 1.


Di sana juga ada awal duka Putra saat mengetahui perselingkuhan Ayu dan Herman. Yang akhirnya menjadi titik balik kebahagiaannya karena bisa bersatu dengan Ririen.


“Kamu enggak pengen lihat BUPERTA CIBUBUR Dadd?” goda Ririen.


“Cukup lah, sekarang gimana kita ke tempat makan duren? Pertama ada orang cemburu lalu manggil MAS? Padahal sebelumnya masih ragu mau panggil A’a atau apa,” Putra malah menggoda Ririen.


“Ha ha ha … iya, pertama manggil Mas di sana ya Dadd? Tapi sejak anak-anak besar, malah jarang manggil Mas, kebawa anak-anak jadi lebih enak manggil Daddy,” Ririen pun malah tertawa mengingat saat itu.


Putra kembali melajukan motor pelan-pelan. Setiap sudut yang ada memorinya dia berhenti dan mereka bercerita. Bahagia itu sederhana. Hanya melihat lokasi yang pernah menjadi kenangan mereka saja Ririen dan Putra cukup bahagia.


Terakhir mereka sengaja duduk manis di lokasi tempat jualan duren. Saat ini sedang tak musim buah itu. Lapakmya digunakan sebagai tempat jualan duku dan manggis. Maka Putra dan Ririen pun membeli kedua buah itu untuk dibawa pulang.


***

__ADS_1


Malam kedua, semua keluarga Purwanagara kumpul makan aneka hidangan sea food di Muara Baru. Putra tak menyangka Ririen bisa menjadi penghubung semua untuk berkumpul. “Aku enggak bawa oleh-oleh Mbak, Teh. Karena kami naik pesawat. Baju anak-anak saja sudah sangat membuat pusing,” tegas Ririen pada kedua kakak iparnya.


“Kamu tuh ya, apa kami berharap oleh-olehmu? Kita ketemu aja udah sangat bersyukur. Belum lagi kiriman rutinmu yang tiba-tiba nongol di kantorku,” mbak Wiwied menyanggah rasa tak enak dari adik iparnya itu.


“Bener banget, aku sudah tahu, kalau ada paket dikantor, pengirimnya pasti nyonya Jogja,” teh Risye membalas kata-kata kakak ipar sulungnya. Kedua kakak ipar Ririen memang masih bisa bekerja di kantor.


Putra memang tak melarang Ririen bekerja, kesadaran Ririen yang dulu membuatnya resign. Lima anaknya butuh dia menjadi  fullday moms.


Pak Galih memperhatikan tiga menantu perempuannya dengan pandangan mata bahagia. tiga perempuan hebat yang terpilih menjadi pendamping Purwanagara muda.


Pak Galih juga sangat bersyukur Rini istrinya adalah perempuan terbaik untuknya. Istrinya tak pernah mempermasalahkan saat dua dari tiga anak lelaki mereka izin meminang janda. Dia tahu, beberapa calon mertua tidak membolehkan anak lelakinya menikahi janda. Apalagi janda beranak tiga seperti Ririen.


“Kakek, mau udang bakar seperti punyaku?” tanya Alesha. Dia seperti Putra, sangat suka udang bakar.


“Mau sayang, Kakek mau bangeeeeet,” pak Galih mengambi udang yang disodorkan Alesha.


“Kamu seperti daddy dan kakekmu, sukanya udang bakar,” bu Rini mengomentari Alesha yang mengantarkan udang untuk suaminya.


***


“Kenapa enggak satu minggu sih disininya?” tanya pak Galih saat keluarga Putra pamit pulang, sepertinya baru kemarin anak, menantu dan cucunya datang untuk menginap.


“Sisa liburan anak-anak hanya dua minggu Pa dari kami berangkat kemarin. Jadi kami harus bagi-bagi waktu. Sekarang kami mau ke rumah Ibu. Disana juga tiga hari seperti juga disini. Sesudah itu kami akan lima hari di Bandung. Selanjutnya pulang ke Jogja tiga hari sebelum anak-anak kembali sekolah,” Ririen menjelaskan pada ayah mertuanya yang belum puas bercengkerama dengan lima cucunya.


“Jadi kalian belum ke Cempaka Putih?” tanya bu Rini heran. Ternyata menantunya mengatur kunjungan ke mertuanya lebih dulu daripada ke rumah orangtuanya. Biasanya anak lebih mendahulukan orang tua daripada mertua.


“Belum Ma,” Putra menjawab. Mereka memang belum memberi khabar tentang kedatangannya ke ibu. Baru semalam Ririen mengabari keluarganya. Ririen tak ingin kedua orangtuanya enggak bisa tidur saat berharap kedatangan para cucunya. Jadi Ririen mengabari baru semalam.


***


Keluarga kecil  Putra dan Ririen menuju rumah pak Kusumo Purbowisono di Cempaka Putih diantar sopir pak Galih. “Eyaaaaaaaaaaang!” seperti biasa kelima anak Putra berteriak saat memasuki rumah eyangnya.

__ADS_1


“Assalamu’alaykum,” Putra dan Ririen mengucap salam saat memasuki rumah orang tua Ririen.


“Wa’alaykum salam,” jawaban lembut dari dalam terdengar. Perempuan tua itu sedang sibuk memeluk kelima cucu terkasih yang sedang gantian memeluk dan menciuminya. Ririen dan Putra tersenyum bahagia melihat kelakuan lima buah hati mereka yang sedang rebutan menciumi eyang utinya.


“Kalian sudah sampai,” eyang kakung pun langsung mendatangi lima cucunya. Dia baru saja selesai berkebun di halaman belakang.


“Atuuuuuuuuuuuung,” teriak kelimanya berbarengan. Eyang kakung memang lebih sering mereka panggil ATUNG. Karena ketika anak mbak Ariesta Purbowisono kecil tak bisa menyebut kakung lalu menyebutnya atung. Sehingga akhirnya semua cucunya memanggilnya atung.


Dan sekarang mereka menyerbu eyang kakung kecuali Leoni yang langsung duduk dipangkuan eyang putri. Sejak tadi dia kalah bersaing dengan ke empat kakaknya. Sedang Putra dan Ririen harus sabar menanti jalur kosong untuk bisa bersalaman apalagi memeluk ayah dan ibunya.


“Ibu sehat?” tanya Ririen yang bisa mendekati ibunya. Tersisa Leoni dalam dekap perempuan sabar dan lembut itu. Dia memeluk dan menciumi ibunya tanpa pernah puas. Bukan hanya cium pipi sebagai basa basi.


“Alhamdulillah sehat, kemarin Ayah aja yang agak naik kolesterolnya. Mas Teguh yang antar ayah periksa,’ jawab bu Purbowati  -nama ibunya Ririen-. Putra juga segera salim pada ibu mertuanya.


Mereka makan siang bersama. Ibu memasak sayur bening kelor dan labu siam. Oseng usus ayam kecap dicampur dengan kacang panjang lauknya berupa tahu dan tempe goreng.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  UNCOMPLETED  STORY   YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL  UNCOMPLETED  STORY   ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2