
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Kak, salim dulu dong,” Ririen mengingatkan anaknya agar sopan terhadap orang tua. Putra mengusap puncak kepala Fajar lalu mengangkat bocah itu tinggi di atas kepalanya.
“Anak Daddy makin berat aja ya, udah bikin PR nya Kak?” sapa Putra, jujur dia kangen terhadap jagoan sulungnya ini, dia juga kangen membacakan cerita serta mengajaknya bermain bola.
“Daddy banyak kerjaan sayang, maaf ya Daddy lama enggak pulang. Tiap hari Daddy pulang malam, jadi Daddy pulang Kakak udah bobo,” katanya menerangkan mengapa dia lama tidak datang. Fajri yang baru selesai mandi langsung berlari memeluk kaki Putra. Putra pun menggendong Fajar dan Fajri di masing-masing tangannya.
Ririen kembali trenyuh melihat pemandangan itu. Kedua jagoannya sangat butuh kasih sayang seorang ayah. Lebih tepatnya, kedua anaknya butuh Putra, bukan yang lain. Dia juga tadi melihat Alesha yang tak mau turun dari gendongan Putra.
Dibiarkannya Fajar dan Fajri puas ngobrol dan main dengan Putra, bahkan makan malam pun Fajri minta disuapi Putra. Saat anak-anak sudah berangkat tidur Ririen menghampiri Putra. “Mau makan malam enggak?”
Putra melihat mata Ririen, mengapa dia bertanya seperti itu? Mengapa dia tidak ngajak makan malah bertanya? Apa lagi yang harus dikatakannya?
“Kenapa sih ngomongnya gitu? Aku salah apa sama kamu sejak terakhir ketemu kamu marah ama aku?” tanya Putra pelan.
“Sekarang kamu jawab dulu mau makan enggak, karena terakhir ke sini kamu ‘kan sudah enggak mau makan di sini. Apa aku salah kalau sekarang aku tanya? Dari pada sudah atur makan lalu kamu enggak mau makan ‘kan percuma?” sahut Ririen.
“Please forgive me, waktu itu bukan enggak mau makan malam di sini, tapi aku bingung kamu sedang marah sejak keluar dari rumahku. Aku enggak tau aku salah apa, waktu itu kamu bilang mau belanja bulanan, tapi keluar rumah kamu langsung ngambeg ‘kan aku bingung.”
“Kamu ‘tu kalau udah ngambeg enggak bisa dibujuk dengan permintaan maaf, jadi ya aku mending pulang aja ‘kan? Lalu habis itu aku super sibuk, tiap hari aku di proyek sampai malam, kadang jam tujuh masih di lapangan lalu ke kantor sebentar, jam sembilan baru keluar kantor makanya enggak sempat ke sini, hari Minggu kemaren kakek sakit jadi aku nemani mama ke rumahnya. Itu alasanku sepuluh hari ini enggak ke sini.”
“Jangan mikir aku enggak rindu kalian, aku kepikiran kalian koq. Tapi aku emang lagi banyak kerjaan, dan aku enggak mau ndatangi kamu bila aku lagi suntuk. Aku enggak mau terpancing emosi, jadi aku lebih baik nunda sampai aku bisa santai ketemu kalian. Sekarang ayok kita makan dulu, kamu enggak boleh telat makan,” Putra menjelaskan panjang lebar alasannya tidak datang akhir-akhir ini.
Dia memeluk bahu Ririen membimbingnya ke meja makan.
__ADS_1
Meja makan masih kosong, Ririen memang belum menyuruh asisten rumah tangganya untuk atur makan, karena kalau dia sendirian dia hanya mengambil nasi dan lauk lalu duduk sendirian di meja makan. Ririen mengeluarkan nasi serta lauk dan piring serta air minum.
“Segini?” tanya Ririen saat menyendokkan nasi untuk Putra.
“Ya cukup,” jawab Putra, dia mendapat kemajuan lagi, Ririen menyendok nasi ke piringnya.
“Pakai apa? Ini pasti ‘kan? Tambahnya apa?” kebetulan hari itu Ririen masak pepes ikan mas kesukaan Putra.
“Itu aja deh kayaknya,” sahut Putra. Dia memang pemilih kalau urusan sayuran. Selama di London itu malah menguntungkannya, dia hanya makan makanan western yang sedikit sayurannya.
“Kamu tadi nyuruh aku makan protein, sekarang giliran aku yang maksa kamu makan sayuran, seharian ini menu kamu kurang serat,” jawab Ririen sambil menyendokan capcay ke piring Putra.
“Mom aku enggak suka sayuran,” keluh Putra lirih, tapi dia tak bisa melawan, karena saat dia memaksa Ririen makan protein hewani pun, dia tak mau dibantah.
“Aku enggak mau tahu! Ayo mulai makan,” Ririen menyendok nasi untuknya sambil mengambil capcay dan kerupuk serta ikan goreng.
“Kebohongan dan enggak tepat waktu!” jawab Putra cepat.
Kalau soal ketepatan waktu memang Ririen sudah mengetahui sejak Putra menjadi siswanya, karena adik-adik kelasnya selalu mendengungkan hal itu, mereka selalu saling mengingatkan agar tepat waktu biar tidak dimarahin oleh Putra.
Sehabis makan mereka pindah ke ruang keluarga, Putra sengaja duduk di karpet bersandar di kursi.
“Boleh aku tau kenapa waktu itu kamu marah, aku enggak ingin itu terjadi lagi,” Putra memulai percakapan mereka.
“Aku dibodohin sama kamu dan aku enggak suka,” jawab Ririen, dia duduk di kursi panjang seberang Putra.
“Maksudmu dibodohin gimana? Aku malah enggak ngerti,” kilah Putra. Dia tak merasa melakukan hal yang dituduhkan Ririen padanya.
__ADS_1
“Kamu bilang mama ngundang buat makan siang, tapi kamu enggak bilang itu ulang tahunmu. Bego banget ‘kan aku? Senang ‘kan kamu aku diketawain keluargamu?” Ririen kembali keqi mengenang kejadian hari itu.
“Honey jangan gitu ah, enggak ada yang ngejek kamu ‘kan saat itu? Lagi liat enggak saat itu enggak ada acara khusus misal potong kue atau nyanyiin lagu ulang tahun? Jadi gara-gara itu trus ngambeg? So sweet banget, kalau tau ulang tahunku mau kasih kado apa coba?” goda Putra.
Ririen tidak membalas godaan Putra, dia malah pindah ke topik lain yang mengganggu benaknya selama ini. “Aku boleh ngomong serius enggak Put?” tanya Ririen sambil menatap lekat mata laki-laki di depannya.
“Apa selama ini kita enggak pernah ngomong serius?” jawab Putra, membalas pandangan Ririen lekat-lekat.
“Sepuluh hari kamu enggak hadir di rumah ini, aku mulai kembali seperti saat kita belum bertemu. Aku kembali kekehidupan normalku tanpa kamu. Anak-anak pun mulai terbiasa kembali tanpa sosok ayah, walau hari ke 2 sampai ke 4 mereka bertanya mengapa daddynya enggak pulang.” Pelan Ririen menjeda kalimat lanjutannya.
“Aku menjawab bahwa kamu sibuk kerja. Hari selanjutnya mereka sudah enggak berharap, mungkin … sekali lagi mungkin. Mungkin mereka masih berharap tapi enggak berani bertanya lagi padaku, walau sesekali bila ada suara motor atau mobil berhenti di depan rumah, mereka segera berlari ke depan, berharap daddynya datang,” sampai situ Ririen berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya, dia mulai merasakan sesak di dadanya.
“Aku ingin mulai besok kamu menjauh dariku, leave me alone, tinggalkan kami sebelum kami enggak bisa lepas dari dirimu. Aku enggak ingin anak-anakku terluka,” pinta Ririen lirih sambil menundukkan wajahnya.
\============================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL UNREQUITED LOVE YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1