WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
PACARNYA CANTIK MA


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 “Eh Dewi, ama siapa di sini?” tanya bu Rini pura-pura tidak tahu.


“Sendiri Ma, ‘kan saya kerja di sini,” jawab Ririen.


“Oh iya lupa, Putra juga pernah bilang waktu awal buka pameran, pas dia pulang tengah malam lalu langsung minum aja semaleman enggak tidur,” pancing mama Putra.


“Maksud Mama?” Ririen penasaran bertanya, dia sudah terpancing, sedang Nuna dan Wiwied mendekati tukang kerak telor yang sedang dibeli Hilman.


“Waktu pembukaan PRJ Putra pulang hampir pagi, pas Mama bangun, tapi dia enggak masuk kamar, dia cuma duduk di depan doang, ngerokok klebas klebus sama minum beer, tau kenapa.” Rini memperlihatkan wajah sedih mengingat kejadian dini hari itu.


“Trus sejak itu dia jadi uring-uringan sama jarang makan, kemaren dia muntah kayaknya karena lambungnya sakit. Hari ini juga enggak kerja, lebih-lebih kemaren dia dengar kamu mau pindah Bali. Hari ini dia sama sekali enggak keluar kamar, tadi Mama ajak ke sini enggak mau, badannya juga agak demam sih. Dia kalau sakit susah diajak ke dokter, jadi tadi Mama kasih minum air jeruk pakai madu aja,” bu Rini menceritakan fakta kondisi Putra saat ini.


“Kasihan Ma, suruh pacarnya ngurusin dia dong Ma, pacarnya cantik lho Ma, Ririen pernah liat tiga hari lalu,” Ririen tanpa sadar memperlihatkan kecemburuannya.


“Dia mah kalau udah bilang A ya A, enggak bakal jadi B. Setahu Mama mah dia sukanya cuma ama kamu, dia sering ngeluh sedih enggak bisa ketemu anak-anak. Di meja kamarnya banyak coklat yang tiap hari dia beli dua batang. Enggak dia taroh kulkas karena takut ada yang makan,” kata bu Rini lagi.


Ririen diam seribu bahasa, ‘Bagaimana Putra bisa tahu dia mau pindah ke cabang Bali? Kalau karena perpisahan sementara aja Putra sudah sangat terpuruk, bagaimana bila nanti dia beneran pindah ke Bali?’


‘Ah dia pasti malah lebih senang bila aku pindah ke Bali karena dia bebas pacaran dengan gadis muda itu ‘kan. Udah biarin aja, enggak usah dipikirin, mending sekarang aku focus kerja aja, cari duit buat anak-anakku,’ pikir Ririen


“Ma, itu A’ Hilman dan Nuna udah selesai beli kerak telornya, Ririen pamit kerja lagi ya Ma,” Ririen kembali mencium tangan bu Rini lalu dia kembali ke standnya, dia sampai lupa tujuannya untuk beli minum.


***


Semalam PRJ sudah ditutup. Hari ini dan besok kantor pemasaran tutup. Hari ini Ririen bersiap untuk pulang ke Cilangkap, lusa Fajar mulai masuk SD di usianya yang sudah lima tahun, dan Fajri mulai masuk TK A.


Siang sehabis makan mereka bersiap pulang, tentu saja rumah harus dibersihkan karena satu bulan ditinggal. Walau masih sangat lelah sehabis penutupan, tentu saja Ririen memaksakan pulang. Dan di sinilah dia sekarang, di rumah yang dia beli dari hasil keringatnya sendiri.


Fajar dan Fajri langsung lari ke belakang, mereka kangen dengan hewan peliharaan mereka, ternyata anak ayam kate sudah menetas, ada enam anak yang mereka lihat, dan si upiek kelinci fuzzy lop mereka sudah beranak. “Mommy lihat, ada ayam kecil di kandang” teriak Fajar.

__ADS_1


“Jangan dekat-dekat Kak, biasanya kalau punya anak, induk ayam jadi galak, dia tidak mau anaknya diganggu,” Ririen memberitahu kelakuan hewan bila punya anak.


“Kakak ‘kan enggak nakal, enggak ganggu anaknya,” kilah Fajar.


“Kamu memang enggak ganggu, tapi kamu dekati aja, ibunya merasa terganggu, dia pikir kamu mau ambil anaknya,” Ririen kembali menjelaskan hal yang belum dimengerti anaknya.


***


‘Kemarin PRJ sudah tutup, di mana dia sekarang? Apa aku sudah bisa menghubunginya? Apa dia serius akan pindah ke Bali?’ Putra mulai gelisah.


Mamanya sudah memberi tahu tanggapan dingin dari Ririen saat mamanya menceritakan kondisinya. Sudah jam sembilan malam, Putra makin ketakutan bila Ririen beneran pindah kerja ke Bali karena ingin menjauh darinya


“Hallo, kenapa Put?” Tanya Ririen saat menerima panggilan telepon, padahal saat ini sudah hampir jam sebelas malam. Untuk orang umum tentu sudah tak sopan telepon orang hampir tengah malam.


“Pa khabar Mom?” Putra sangat bahagia Ririen mau menerima teleponnya. Dia tadi ragu menghubungi. Tapi rasa kangen ini tak bisa dia tahan lagi.


“Baik pastinya,” sahut Ririen datar dan tidak balik menanyakan kondisi Putra.


“Alhamdulillah bagus, malah hasilnya hampir dua kali lipat  dari target,” sahut Ririen.


“Mom, koq ketus gitu sih suaramu? Enggak kangen Daddy?” Putra merajuk, dia sangat merindukan perempuan pujaannya itu, tapi yang dikangenin malah cueq aja


“Enggak tuh,” jawab Ririen acuh.


“Daddy kesana sekarang ya? Mommy masih di Cempaka Putih? Daddy kangen dan juga mau bicara,” jelas Putra.


“Sudah tengah malam, enggak usah datang, kami sejak sore tadi sudah di Cilangkap,” jawab Ririen. Dia tahu kenekadan mantan siswanya itu. Bila tak diberitahu kalau dia sudah ada di Cilangkap, bisa jadi Putra langsung menuju ke Cempaka Putih rumah ayahnya.


“Besok pagi-pagi Daddy ke rumah ya, Daddy juga kangen ama anak-anak,” pinta Putra lagi. Dia tak peduli penolakan yang Ririen perlhatkan.


“Jangan ke rumah dulu, nanti aja,” tolak Ririen.


“Nanti aja sampai kamu sudah ready pindah ke Bali, begitu maksudmu?” desak Putra.

__ADS_1


Ririen yang mendengar itu tercekat, dia kaget Putra ketakutan bila dia pindah ke Bali, bukankah dia sudah punya gebetan baru?


Putra menutup sambungan teleponnya, diambilnya kunci motor dan dia kenakan jaket, dari rumahnya ke rumah Ririen paling lama hanya sepuluh menit. Dia tidak bisa menunda lagi, semua harus dituntaskan malam ini juga.


Tok ... tok … tok ….


Ririen mendengar pintu rumahnya diketuk, dua asisten rumah tangganya pasti tidak mendengar karena kamar mereka di belakang, dan mereka juga kecapean bersih-bersih debu rumah.


Ririen keluar kamar dengan malas-malasan. Diintipnya dari kaca, siapa yang bertamu tengah malam. Tidak terlihat orang dibalik pintunya, tapi dia melihat motor Putra di halamannya, sudah parkir di sebelah mobilnya. Dia membuka pintu dengan malas. Putra langsung mengucap salam ketika pintu dibuka.


“Assalamu’alaykum Cintaku,” sapa Putra lembut dan diraihnya tubuh mungil perempuan di depannya yang sudah ingin berbalik badan untuk masuk ke dalam rumah.


Putra memeluk tubuh Ririen erat, mencium aroma tubuh yang sangat dia rindukannya, “I miss you very much honey, do you miss me?” bisiknya.


Ririen tak membalas, hanya menyuruh Putra masuk agar pintu bisa ditutup. “Duduk deh, aku bikinkan teh dulu ya, atau mau kopi?”


“Terserah,” jawab Putra sambil membuka jacketnya.


“Pilihannya cuma teh atau kopi, enggak ada terserah,” ketus Ririen menjawab Putra sambil berjalan ke dapur.


\========================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL BETWEEN QATAR AND JOGJA   YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2