
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Menurut Daddy gimana solusinya? Kita pindahkan dia ke sanggar lain atau kita biarkan dia membunuh bakat melukisnya?”
“Terserah Mommy aja,” jawab Putra. “Tapi sebaiknya, kita tanya dulu ke Princess, dia masih mau belajar melukis ditempat lain atau tidak?”
“Ya enggak gitu dong jawabannya, itu bukan diskusi namanya pak CEO. Masa diskusi ama ibu rumah tangga jawabannya pasrah gitu,” sindir Ririen.
“Masalahnya lawan bicara si CEO itu mantan marketing Te O Pe, yang enggak bisa dikalahin debatnya. Apalagi kalau udah diskusi urusan woman in top,” goda Putra.
“Ihhhh, omes, kenapa larinya ke woman in top?” cecar Ririen.
“Karena si CEO lagi kepengen gaya itu,” jawab Putra sambil cengar cengir.
“Sayangnya si marketing lagi enggak minat,’ balas Ririen cepat.
Putra menciumi leher Ririen dan berbisik pelan. “Kalau gitu gaya konvensional aja ya, yang penting ibu marketing mendesah aja,” serangnya yang memang membuat Ririen terus mendesah.
***
“Morning cintaku,” sapa Putra di Minggu pagi ini, semalam mereka bermalam mingguan di kamar dan membuat Putra lupa menyampaikan wacana keluarga besarnya yang ingin membuka supermarket bangunannya di Jogja.
“Mom, Daddy lupa, kemarin papa dan A’ Hilman cerita pengen buka supermarket bangunan di Jogja, dan papa minta Daddy yang awasin. Walau enggak perlu tiap hari stay disana.”
“Daddy pikir gimana kalau kantor Daddy juga Daddy pindahin ke Jogja. Jasa kontraktor kecil kan di sana masih terbuka luas pasarnya,” Putra sangat hati-hati memilih kata, dia tak ingin istrinya salah pengertian.
__ADS_1
“Kalau Mommy tanpa pikir panjang sih setuju Dadd, masalahnya kita siap enggak jauh dari mama dan ibu?” tanya Ririen.
“Dulu kita sangat tergantung dengan mama dan ibu ‘kan karena anak-anak masih kecil-kecil lalu Mommy masih kerja dan sering tugas ke luar daerah. Sekarang ‘kan faktor itu sudah bisa kita atasi karena Mommy sudah enggak aktiv di kantor?” papar Putra.
“Trus kantor Daddy yang di sini nanti biar dipegang Nuna dan calon suaminya,” jelas Putra lagi. Nuna memang menjalin hubungan dengan salah satu insinyur yang kerja di kantor Putra itu.
Ririen sangat antusias dengan wacana membuka usaha di Jogja, dan dia pun berpikir Jogja juga kota yang bagus untuk pertumbuhan pendidikan anak-anaknya. Hari-hari berikutnya topik pembicaraan suami istri itu adalah mengenai rencana kepindahan mereka.
Ririen tak ingin mereka cepat-cepat beli rumah agar bisa segera pindah, dia inginnya Putra beli tanah untuk mereka bangun rumah. Dan masih seperti biasa Ririen tidak mau rumah tingkat, biar dia dianggap kolot, pokoknya itu sudah prinsipnya.
Dia juga minta dirumah yang akan di bangun tak ada ruang tamu. Dia minta rumah hanya untuk private. Ruang tamu dia minta dibuat terbuka dan terpisah dari rumah, jadi dibuat di halaman depan seperti joglo atau gazebo besar. Sehingga rumahnya nanti benar-benar hanya untuk mereka dan keluarga.
Ririen sudah membayangkan kehangatan rumahnya, dengan lima kamar anak,dua kamar tamu, satu kamar utama serta empat kamar asisten rumah tangga. Dan yang tak pernah boleh dilupakan adalah space untuk hewan dan tanaman Ririen.
Setelah planning matang maka Putra mulai mencari info tanah yang akan dibelinya untuk kantor serta rumahnya, karena tanah untuk supermarket bahan bangunan sudah diurus oleh A’ Hilman, sedang masalah perizinan diurus oleh teteh Risye yang memang seorang notaris, beda bidang dengan A’ Gilar yang memilih bidang advokat.
“Lalu kita minta mama atau ibu buat jaga mereka?” tanya Ririen.
“Keduanya aja kita tanya, kalau kita hanya tanya ibu pasti mama akan merasa sedih mengapa bukan dia yang diminta jaga cucunya, begitu pun sebaliknya. Kamu ‘kan tau keduanya paling enggak mau kalau enggak ditawarin. Jadi kalau keduanya mau nginap ya enggak apa-apa, toh mereka malah senang kalau bisa ngobrol sambil jaga anak-anak,” saran Putra.
“Ok, Mommy akan telepon mereka besok,” kata Ririen.
“Gimana kalau besok sore kita main aja ke mama buat bilang, jadi enggak lewat telepon, lalu lusa kita ke ibu,” usul Putra. Dia anggap lebih sopan bicara langsung, toh jadwal mereka masih ada beberapa hari, tidak keburu-buru. Putra sangat menghargai kedua orang tuanya. Dan dia pun melakukan hal itu pada mertuanya.
“Ok boss, besok Mommy akan bikin puding mangga buat mama, jadi kita bawa puding mangga ya,” Ririen menyetujui saran suaminya. Dia ingat tadi asisten rumah tangga nya panen mangga matang sangat banyak.
***
__ADS_1
Sore ini Ririen dan Putra terbang ke Jogja, mereka bilang akan honeymoon ke 99 he he he, karena dulu ketika Ririen masih kerja, setiap Ririen dinas luar kota Putra akan selalu meluangkan waktu untuk menemaninya diakhir kunjungan lalu selanjutnya mereka akan menghabiskan waktu berdua sebelum pulang ke rumah.
Kali ini Putra tidak ambil hotel mewah, mereka mencoba hotel kecil di dalam gang daerah Sosrowijayan. Banyak penginapan bersih dan murah disini. Dan yang terpenting adalah sangat njawani, lingkungan Jawa yang kental, tak seperti suasana hotel mewah.
Malam mereka menikmati kuliner pinggir jalan. Ririen sangat menikmati perjalanan mereka kali ini. Dan dia langsung mendapat ide rumahnya nanti tidak akan di plester, tapi dia minta asri pakai bata merah, dan minta furniturenya juga yang etnik, bukan furniture modern.
“Kalau begitu besok sehabis lihat-lihat tanahnya, kita ke daerah Kasongan Mom, lihat-lihat gerabah. Trus kita coba hunting furniture juga. Artinya kita enggak bisa buru-buru rumah penuh ya, kita isi pelan-pelan sedapatnya aja gimana?” usul Putra.
“Iya Dadd, untuk furniturenya aja kita beli baru di sini, kalau tempat tidur dan alat dapur ya kita bawa dari rumah kita yang sekarang di Jakarta aja. Enggak perlu boros beli baru semua,” kata Ririen menyetujui usulan Putra
Akhirnya Putra menyetujui pendapat Ririen, yang memilih tanah untuk rumah di daerah Sedayu sedang untuk kantor Ririen memilih di daerah Wirobrajan. Putra pernah bilang pendapat Ririen adalah skala prioritasnya, dan dia buktikan saat ini. Pendapat Ririen lah yang dia ambil.
Lusa teteh Risye akan datang membantu, dia sudah menghubungi notaris area setempat untuk transaksi adik iparnya.
Selesai sudah proses untuk mendapatkan tanah. Tadi Putra juga sudah mulai mengurus IMB bagi pembangunan rumah dan kantornya. Bulan depan sesudah semua perizinan selesai baru mereka akan membangun rumah dan kantor itu.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNCOMPLETED STORY YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta