
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Namun tiba-tiba saja Fajri membelokan pembicaraan ke hal lain yang enggak nyambung. “Mom, atu ndak mau dipandil tata’ atu mau dipandil abang,” seru anak yang hampir berusia empat tahun tapi belum jelas bicaranya itu, beda dengan Fajar. Saat Fajar seusia Fajri sang kakak sudah lancar bicara. ( atu ndak mau dipandil tata’ atu mau dipandil abang = aku enggak mau dipanggil kakak, aku mau dipanggil abang ).
“Kenapa kamu maunya dipanggil Abang?” tanya Ririen sambil membelai kepala Fajri yang sedang berbaring di paha nya, jagoan keci itu sudah lelah hari ini.
“Bial telen ( biar keren )” jawab Fajri.
“Kakak juga keren,” bantah Fajar.
“Ndak, atu maunya di pandil Abang, dan atu mau punya ade lagi yang lati-lati,” balas Fajri yang menginginkan adik laki-laki.
***
Satu bulan sejak week end dari Bali, Ririen bersiap untuk mengundang dua keluarga untuk berkumpul kembali di rumahnya, besok adalah ulang tahun Fajri yang ke empat tahun. Tak ada pesta, hanya kumpul dua keluarga saja, tidak mengundang teman-teman sama sekali. Itu saja sudah sangat rame, kemarin Putra hanya membagikan baju sekolah dan alat tulis bagi anak-anak panti asuhan serta tentu saja sumbangan sembako dan uang tunai bagi yayasan.
“Dad, I want to talk with you alone right now, it’s important” Fajar menarik daddynya yang saat itu sedang berbicara dengan kakek ( Galih Purwanagara, ayah Putra ) dan kakek uyutnya Alamsyah Purwanagara ( kakek Putra ).
Putra mengikuti Fajar yang menarik dirinya ke kamarnya, Ririen melihat kejadian itu. “Kenapa Kak?” tanya Putra dengan sabar melihat wajah anaknya yang terlihat sedang tak nyaman.
“Apa benar, Daddy bukan ayahku?” Fajar menatap mata Putra minta penjelasan dengan jujur.
“Yang kamu rasa selama ini bagaimana? Apa daddy bukan ayahmu?” tanya Putra hati-hati, ini persoalan sangat pelik, harusnya dibicarakan dengan Ririen juga, bukan hanya dirinya sendiri.
“Daddy is mine” jawab Fajar pasti.
“Right son, Daddy adalah milikmu, milik Fajri dan Alesha, apa pun yang kamu dengar di sana, yang penting adalah yang kamu rasakan. Dalam hati Daddy dan dalam hatimu sama kan? Kita saling cinta?” tanya Putra.
__ADS_1
“Ya Dadd, daddy adalah papaku, daddy ayahku” jawab Fajar yang terlihat lebih dewasa dari anak berumur tujuh tahun.
“Peluk Daddy dulu,” pinta Putra. Sehabis memeluknya lalu Putra berbisik pada Fajar.
“Saat ini banyak tamu, kita temani dulu para tamu yok, yang penting Kakak sudah tahu kalau Daddy sangat sayang sama Kakak, nanti kalau tamu sudah pulang kita bahas lagi masalah ini dengan mommy juga ya?” hibur Putra.
Sekali lagi dipeluknya anak sulungnya itu lalu dibopongnya keluar kamarnya.
“Loh koq jagoan Nenek digendong Daddy?” tanya bu Rini saat melihat anak dan cucunya keluar dari kamar Fajar.
Mendapat pertanyaan itu Fajar menyembunyikan wajahnya dileher Putra dan memeluk leher Putra erat-erat. Ririen mengernyitkan alisnya sebagai tanda bertanya pada suaminya. Putra hanya membalasnya dengan tersenyum.
Sampai para tamu pulang Fajar tidak mau turun dari pangkuan daddynya, Ririen sangat khawatir karena tidak biasanya Fajar seperti ini, bahkan saat daddynya mau ke toilet pun dia memaksa menunggu di depan pintunya agar tidak di tinggal oleh Putra. Ada apakah?
Sehabis semua tamu pulang, Ririen sengaja duduk santai di karpet depan TV dengan Fajri dan Alesha. Ririen ingin Fajar juga kumpul bersamanya. Namun Fajar tetap nempel dengan daddynya saja, saat itu Putra sedang menutupi semua pintu dan gordyn. Fajar sama sekali tidak ingin jauh dari daddynya. Akhirnya Putra duduk di sebelah Ririen dan mengusap kepala Fajri dan Alesha, juga menciumi kening anak-anaknya.
“Mom, Kakak tadi tanya, apa Daddy ini bukan ayahnya Kakak,” kata Putra sambil menggenggam tangan Ririen kemudian menciumnya sementara Fajar sudah kembali duduk di pangkuan Putra.
“Daddy sudah jawab koq Mom, apa pun yang orang bilang, kita rasakan aja apa yang ada di hati kita, Kakak merasa enggak bukan anak Daddy? Kakak bilang daddy miliknya, lalu apa lagi yang perlu diragukan, iya kan Mom?” Putra sengaja menjabarkan agar Ririen dan dirinya se iya sekata menjawab pertanyaan polos anak mereka.
“Kakak inget dulu punya papa enggak?” tanya Ririen pelan, agar tidak salah menjelaskan pada anaknya.
“Lupa,” jawab Fajar.
“Kakak ingat waktu Mommy nikah dengan Daddy di rumah eyang enggak?” tanya Ririen lagi. Mencoba menggali dengan hal lain.
“Ingat. Yang pakai sungkeman, pakai lempar daun sirih dan injak telor,” jawab Fajar. Lelaki kecil ingat hal itu dengan jelas. Belum satu tahun peristiwa itu terjadi.
“Nah biasanya orang nikah nanti punya anak Kak. Sebelum Mommy nikah dengan Daddy, Mommy pernah menikah dengan papanya Kakak, kalau Kakak mau bisa lihat photo-photo di album lama.”
__ADS_1
“Dengan papa Ricky, Mommy punya tiga anak, yaitu Kakak, Fajri dan Alesha, tapi trus papa Ricky ninggalin Mommy. Jadi Mommy menikah lagi dengan Daddy. Tapi biar gimana pun daddy tetap ayahmu, seperti yang selama ini Kakak rasa. Daddy juga sayang ke Kakak. Jadi seperti yang Daddy bilang, yang penting yang Kakak rasakan di hati aja ya?” jelas Ririen yang agak bingung menjabarkan pernikahan dan perceraian ke anak yang umurnya belum sampai tujuh tahun.
“Daddy nanti tinggalin Mommy juga seperti papa Ricky?” tanya Fajar sambil mulai terisak.
“Daddy enggak akan tinggalin Mommy dan semua anak Daddy, Daddy sayang kalian,” Putra menjawab sambil memeluk Fajar dan Ririen.
“Promise?” tanya Fajar
“Keep my promise son,” Putra menciumi puncak kepala Fajar dalam-dalam, dia bisa merasakan ketakutan yang dirasakan Fajar saat ini, lebih-lebih tadi di kamarnya Fajar sampai menangis gemetaran. “Fajri dan Kakak tu dua jagoan Daddy. Enggak perlu ragu,” jelasnya lagi.
“Memang tadi Kakak dengar apa koq tanya Daddy bukan ayah Kakak?” pancing Ririen.
“Katanya Fajri mirip ayahnya, untung Kakak enggak mirip Ricky. Trus semoga kelakuannya enggak mirip Ricky. Gitu Kakak dengar di dapur tadi,” lapor Fajar.
“Kakak pernah ketemu dengan papa koq waktu kita bertiga beli cincin Mommy, tapi Kakak enggak ngenalin papa, Daddy aja tau koq,” Putra menerangkan bahwa mereka pernah ketemu Ricky di mall.
“Dan kalau Kakak mau, Kakak boleh nginep di rumah oma, mamanya papamu, daddy enggak akan melarang.”
\=================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : AISY ARBIA, DENGAN JUDUL NOVEL PRAHARA DARAH BIRU YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta