
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Ririen pun membuka tas dan memberikan ponselnya pada Ilham. Kasih melihat suaminya bisa berkomunikasi dengan Ririen. Padahal sejak tadi Ririen tak mau terbuka padanya setelah bercerita selintas dia ada masalah denganPutra.
Kasih mengembangkan senyum manis dibibir tipisnya. ‘Kalian itu sangat cocok menjadi kakak beradik.’ Kasih dan Ilham sama-sama anak tunggal mereka sangat sayang pada Ririen dan Putra.
Ilham memasukkan kartu cadangan yang dia ambil dari dompetnya. Dia menyalakan ponsel Ririen dan melihat foto yang Ririen maksud. Dia mengirim foto-foto serta nomor ponsel pengirim foto ke nomor miliknya. Lalu dia matikan lagi ponsel Ririen dan memasukkan nomor asli milik adik angkatnya itu.
“Ini Bu, penyebab adik Abang sedih,” Ilham memberikan ponselnya untuk Kasih lihat.
“Menurut Ibu aneh juga kalau meeting tapi lepas baju seperti ini Yah,” cetus Kasih melihat foto Putra dikamar hotel itu.
“Kecurigaan kalian itu benar. Tapi kita ‘kan belum tanya Putra. Belum tentu ‘kan dia berbuat yang enggak benar?” bantah Ilham. Dia tahu dua perempuan cantik didepannya tak mau menerima alasan apa pun. Terlebih saat marah seperti yang Ririen rasakan saat ini.
“Sekarang kita makan dulu. Habis makan kita bahas langkah selanjutnya,” Ilham menarik tangan Ririen dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memeluk pinggang istrinya.
***
Sudah sore. Sejak tadi Putra sudah tiba di rumah. Dia khawatir akan Ririen yang tak bisa dia hubungi. Ponsel istrinya mati. Padahal bila Ririen sedang tidak dirumah, dia akan bolak balik menghubungi asisten rumah tangga untuk mengecek anak-anaknya. Tapi hari ini hal itu tidak Ririen lakukan. Tak ada telepon dari Ririen sama sekali ke nomor rumah.
__ADS_1
‘Aku harus cari kamu kemana Honey? Mengapa bikin aku cemas seperti ini?’ Putra terus memikirkan kemungkinan dimana keberadaan istri tercintanya.
“Mommy kemana Dadd?” Fajri mencari sosok ibu tercintanya. Sedang adik-adiknya belum mengerti cemas kehilangan ibu karena Ririen belum seharian meninggalkan rumah.
“Daddy juga enggak tahu Son, sejak keluar rumah HP nya enggak aktiv. Sedang Mommy enggak pernah keluar rumah tanpa ngecek adek-adekmu,” sahut Putra sambil terus memandangi ponselnya seakan tak percaya Ririen menghilang tanpa khabar.
Salat Maghrib di rumah keluarga Putra kali ini menambah parah duka hati Putra. Tak ada Ririen dibarisan makmum. Dan anak-anaknya semua terdiam tanpa celoteh riang. Bahkan twins pun seakan mengerti ada yang tak beres kali ini. Mereka juga hanya diam sejak Fajar pulang dan memberitahu agar mereka tidak rewel. Alesha sejak mendengar itu selalu terisak. Membuat twins merasa ada ‘sesuatu’.
***
“Abang kabari suamimu dulu biar dia enggak panik ya?” Ilham mencoba membujuk Ririen.
“Aku telepon Fajar saja Bang,” jawab Ririen.
“Apa Abang punya nomor ponsel Fajar?” tanya Ririen bingung. Dia tidak hafal nomor ponsel milik anak sulungnya itu.
“Mbak ada, kamu pakai ponsel Mbak aja bila kamu enggak mau ponselmu hidup,” Kasih memberikan ponselnya untuk digunakan Ririen.
Fajar kaget begitu sampai teras rumahnya ponselnya berbunyi. Panggilan dari bude Kasih. Tak biasanya bude menghubungi nomornya. Dulu sang bude menyimpan nomornya untuk membuat kejutan ulang tahun mommynya.
“Assalamu’alaykum Bude,” sapa Fajar sopan.
“Wa’alaykum salam Mas, ini Mommy,” sahut Ririen.
__ADS_1
“Kenapa Mommy telepon pakai nomor Bude? Mommy dimana?” tanya Fajar penasaran. Sejak tadi daddynya menghubungi bertanya tentang mommynya setelah Putra pergi kerja. Kebetulan hari ini Fajar masuk kuliah siang. Yang dia tahu begitu daddynya berangkat, mommynya masuk kamar lalu keluar langsung pergi tanpa bicara sepatah kata pun padanya.
“Kamu dimana Mas, jangan dekat Daddy. Please sekali ini dengar Mommy,” Ririen meminta pengertian putra sulungnya. Dia anggap Fajar cukup dewasa diusianya menjelang delapan belas tahun.
“Mas baru standarin motor, belum sampai rumah. Masih depan nursery. Ada apa Mom?” tanya Fajar khawatir.
“Ada sesuatu yang mengganggu. Kamu masuk rumah dulu. Nanti habis salat maghrib kamu ke rumah bude Kasih. Akan Mommy beritahu semuanya. Tapi sekarang kamu seakan enggak tahu kalau sudah Mommy telepon. Cium sayang Mommy buat adik-adikmu,” Ririen langsung memutus telepon dengan putranya. Dia tak sanggup menahan sesak didada.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL THE BLESSING OF PICKPOCKETING YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL THE BLESSING OF PICKPOCKETING ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaaaaaaaaaa….
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.
Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta
__ADS_1