
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Tak ada makanan mewah atau special menyambut anak dan cucunya. Memang seperti itulah ibu, selalu sederhana. Menu itu sudah ada di tabel masaknya. Bu Purbo orang yang tak mau pusing memikirkan menu setiap hari. Banyak ibu yang bingung akan masak apa hari ini.
Bu Purbo tidak seperti itu. Dia sudah membuat menu untuk satu minggu kedepan. Jadi setiap hari dia tidak kalang kabut dan pusing dengan urusan menu. Untung keluarga Putra, familiar dengan menu ini dan mereka suka. Karena walau uang berlebih Ririen juga tak pernah membiasakan makan junk food atau hanya ayam dan daging.
Sejak dulu Ririen selalu memberi makanan sehat untuk anak-anak dan suaminya. “Eyang aku mau nambah oseng ususnya,” pinta Alesha pada bu Purbo yang memang lebih dekat dengan piring oseng daripada Ririen.
Putra sendiri sekarang sudah banyak berubah. Dia sudah biasa makan sayuran sejak menikah dengan Ririen. Apalagi semua yang dia tak sukai juga ditiru Fajri. Itu sebabnya dia memaksa dirinya berubah agar Fajri melihatnya.
Putra merasa harus memberi contoh dengan perbuatan nyata bukan dengan kata-kata. Sejak tadi Ririen sudah menghubungi ketiga kakak perempuannya untuk makan malam bareng di Muara Karang esok malam. Dia sengaja memilih tempat yang sama dengan peserta yang berbeda.
Malam nanti Ririen sudah menjadwalkan waktu berdua dengan Putra untuk menyusuri tempat yang menjadi kenangan buat mereka di Jakarta.
***
“Kereeeeeeeeeeen,” Ririen melihat koleksi anggrek ayahnya yang sedang berbunga. Sekarang banyak Cattleya dan Phalaenopsis hybrid yang sedang berbunga. Dan yang paling membuatnya terpesona adalah Coelogyne pandurata atau anggrek hitam -yang tidak berwarna hitam- sedang menampakkan kemolekannya.
Juga Grammatophyllum speciosum atau anggrek tebu yang bulb nya gendut-gendut dan sedang memunculkan kuncup bunganya. Belum mekar, tapi itu sudah sangat membuat ayahnya juga Ririen sangat bahagia, anggrek tebu berbunga adalah prestasi pemeliharaan bagi perawatnya.
Di kebun belakang ini Ririen merasa sedang berada di surganya anggrek. Anggrek species pun banyak yang sedang knop ( istilah kuncup untuk dunia anggrek ).
“Aku sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,” pekik Alesha yang menyusul mommynya ke kebun belakang. Gadis kecil Ririen ini memang sepertinya menuruni hobby atung dan mommynya.
Alesha akan merekam keindahan bunga-bunga itu dibenaknya untuk dia pindah ke canvas lukisnya. Sejak kecil Alesha senang menanam. Ririen mulai melihat ketika gadis kecilnya berusia tiga tahun dan menemukan bawang merah di dapur yang keluar daunnya lalu dia tanam.
__ADS_1
Selanjutnya setiap hari Alesha memperhatikan pertumbuhan bawang merah yang dia “tanam” itu. Padahal hanya dia letakkan di pot kecil bermedia tanpa dibenamkan. Sejak saat itu Ririen tahu, Alesha lah yang menuruni hobby berkebunnya.
“Mom, buat foto close up setiap bunga untukku please,” pinta Alesha pada sang bunda. Ririen pun mengambil ponsel di sakunya lalu membuat foto sesuai permintaan Alesha.
Ririen tahu Alesha minta foto close up untuk membantu ingatannya bila dia melukis nanti. Ririen buat foto close up untuk memperlihatkan detail tiap gradasi warna bunga anggrek koleksi ayahnya.
“Kamu juga bergaya disana, biar Mommy bikin foto,” Ririen menyuruh Alesha berpose dengan aneka anggrek itu. Mereka berdua tenggelam dalam keasyikan diantara kemolekan tanaman peliharaan pak Kusumo Purbowisono -ayah Ririen-.
Putra dan pak Kusumo hanya memandangi kedua perempuan cantik beda usia itu dari teras sambil minum teh sore hari. Fajar dan Fajri sedang bercerita dengan eyang uti sementara si kembar belum bangun dari istirahat siang mereka.
***
Makan malam kali ini dengan sop oyong dipadu soun dan baso, perkedel kentang dan semur ayam. Bukan karena pak Kusumo tidak memberi uang belanja berlebih, tapi memang bu Purbo tidak membuat sesuatu yang istimewa.
Saat Ririen mengabarkan akan datang, bu Purbo sudah bertanya pada putrinya, apa yang harus dia masak untuk cucu-cucunya. Dan Ririen memang melarang ibunya memasak diluar menu rutinnya. Ririen bilang anak-anaknya tak rewel dengan makanan. “Eyang, aku suka banget sop soun dengan oyong,” Fajar memuji masakan eyang utinya.
“Aku suka perkedel,” Fajri memberi pendapatnya pada menu makan malam yang tersaji kali ini.
“Kalau begitu makan yang banyak sesuai kesukaan kalian,” jawab pak Kusumo. Dengan menu sederhana seperti itu saja mereka tetap bahagia.
“Nanti sehabis makan Mommy dan Daddy akan keluar sebentar. Kalian jangan nakal di rumah,” Ririen memberitahu anak-anaknya dia akan keluar berdua Putra.
“Abang dan Mas, jaga sikembar ya. Habis makan ‘kan mereka enggak lama langsung bobo.”
Si kembar memang beberapa kali ditinggal di rumah bila Ririen dan Putra harus keluar rumah dan biasanya mereka dijaga para pengasuhnya di rumah. “I will Mom, don’t worry,” jawab Fajri. Dia paling care kalau disuruh menjaga adik-adiknya.
***
Tempat pertama yang Putra tuju adalah Pekan Raya Jakarta. Putra tidak masuk ke area, hanya berhenti dari jauh untuk bertukar cerita dengan kekasih hatinya.
__ADS_1
“Tempat ini bikin Daddy patah hati. Karena pacar Daddy minta kami enggak bertemu selama dia jaga stand disana,” Putra mengingat hari pertama pameran dia mengantar Ririen dengan motornya, lalu menjemput dengan mobil. Sepulang pameran itulah Ririen meminta dirinya untuk menjauh!
“Apa yang kamu rasa saat itu?” tanya Ririen sambil mengusap dagu Putra lembut. Ririen ingat kekejamannya saat itu.
“Patah hati! Serius itu lebih sakit dari saat Daddy melihat Ayu dan Herman tidur bersama pagi itu,” cerita Putra.
“Perempuan yang kalau secara logika pasti mau menerima cinta bujangan mapan. Perempuan dengan tiga anak! Tapi dengan tegas menolak cinta yang Daddy persembahkan. Dia memang bukan perempuan biasa. Dan Daddy seperti air hujan. Yang selalu datang kembali walau tahu akan jatuh!”
“Aku ingat itu, tapi saat itu memang Mommy masih enggak percaya ama laki-laki yang ngaku cinta disaat pertemuan pertama. Anak bawang mapan yang bilang cinta ama janda anak tiga. NONSENSE,”
Ririen ingat kondisinya saat hari pertama bertemu, Putra langsung menyatakan cinta dan selanjutnya langsung masuk kedalam semua lingkup hidupnya. Hari pertama bertemu Putra memaksa menemaninya kerja ke Slipi tanpa bisa ditolak.
“Daddy juga enggak tahu kenapa itu bisa terjadi. Ama Ayu enggak pernah bilang cinta, trus enggak pernah posesif. Daddy baru ngerasa mentok pas lihat Mommy datang di reuni dan Sanih teriak : bundaaaaaaaa.”
“Saat itu serasa enggak bisa napas. Dan yang Daddy rasa adalah penyesalan! Karena Daddy pikir saat itu Daddy naksir istri orang,” jelas Putra mengingat pertama kali dia jatuh cinta pada Ririen.
Padahal saat Ririen menjadi gurunya, dia sama sekali tak pernah mempunyai rasa menyukai perempuan itu. Dan Putra juga tidak tahu mengapa dia sangat posesif saat mencintai Ririen. Cinta memang tak bisa kita jabarkan dengan logika seperti matematika.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNREQUITED LOVE YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETIN JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL UNREQUITED LOVE ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta