
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Sehabis salat dan makan siang Putra menunggu semua peserta rapat masuk. Dia ingin tahu apa tanggapan manusia-manusia munafik yang asal kerja tak mempedulikan apakah hasil kerja mereka sesuai harapan atau tidak.
'*Apa mereka masih punya muka? Kerja koq asal aja*.' Putra paling kesal dengan orang seperti itu.
Banyak wajah tak percaya diri saat kembali masuk ke ruang rapat. Karena saat mereka ngedumel di luar, temannya langsung bicara : ngomong di forum. Jangan kayak anak PAUD!
Jadi akhirnya mereka diam.
"Baik. Kita mulai tanggapan apa yang tadi pak Putra katakan." Fajri kembali membuka raapt siang ini.
Masih ada satu dua orang yang bersikeras kalau kerja mereka telah baik dan benar sesuai dengan tujuan. Saat Putra kupas lebih dalam mereka diam.
"Tujuan saya datang kesini bukan untuk menjatuhkan kalian. Saya datang untuk membangunkan kalian dari kerja semu yang tak akan menghasilkan apa pun."
"Satu dua kali dengan pola kerja anda seperti ini, mungkin, sekali lagi mungkin, anda masih bisa ditarik untuk bekerja dalam proyek lain."
"Tapi untuk selanjutnya nama anda akan hancur dan anda tak akan bisa bekerja lagi di mana pun."
"Sebelum itu terjadi sebaiknya anda bangkit dan putar haluan!"
__ADS_1
"Saat ini anda selamat. Karena saya atau Fajri tak akan mencoret anda dari team. Tapi tidak untuk proyek selanjutnya."
"Kami akan menilai anda semua untuk kerjasama lanjutan."
Akhirnya semua sadar. Apa yang Putra katakan benar adanya. Orang akan menerima kita bekerja saat belum kenal dan belum mengetahui pola kerja kita. Begitu sudah tahu tentang kita, mereka tak mau lagi memakai kita.
Itu artinya kita selalu dihargai dengan upah anak belum berpengalaman terus, karena tak ada nilai plus yang kita berikan.
"Dalam proyek ini promosi itu ujung tombak. Kalau team promosi asal kerja tanpa target, mau dbawa kemana proyek ini? Saya minta besok semua sudah berubah dan lusa kita mantabkan.",
"Sekarang kita bahas hal lain yaitu tiket."
"Saya tidak tahu harga pasaran tiket pertunjukan seperti ini. Saya tidak mau tahu masalah penggunaan uang tiket."
"Saya hanya ingin tahu jumlah tiket masuk gratis termasuk yang untuk wartawan, keluarga, rekanan, sponsor dan lain-lain."
"Saya ingin tahu rincian prosentasenya. Itu penting untuk bagian keuangan menghitung laba rugi. Jangan sampai bagian keuangan tak tahu jumlah tiket gratis yang akan disebar."
"Berapa tiket VVIP, berapa tiket VIP berapa tiket KELAS I, KELAS II, KELAS III."
"Perhatikan itu."
__ADS_1
Putra pulang lebih dulu. Dia akan biarkan Fajri terus bicara dengan teamnya.
\*\*\*
"Bang, apa kamu sudah beri undangan VIP untuk Papamu?” tanya Putra malam ini saat mereka kembali membahas proyek konser tunggal Fajri.
Biar bagaimana pun Putra selalu mengingatkan Fajar, Fajri dan Alesha tentang keberadaan Ricky sebagai ayah biologis ketiga anaknya itu.
“Sorry Dad, untuk masalah itu Abang enggak mau komen. Abang enggak akan undang dia, benar dia ayah biologisku tapi dia bukan orang tuaku. Daddy harus tau dan pahami betul prinsip Abang soal ini,” jawab Fajri lugas. Biasanya soal apa pun dia tak akan ngebantah Putra dengan ketus seperti soal Ricky.
Putra sadar, sulit sekali merobohkan dinding yang sudah dibangun oleh ketiga anak-anaknya untuk sosok Ricky.
Putra berupaya tidak bersitegang dengan mereka karena untuk masalah Ricky tak akan pernah ada jalan keluar terbaik.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE itu ya.
__ADS_1