WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
DIA HANYA AYAH BIOLOGIS ANAKKU


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Maaf Pak, anak saya tidak sengaja, maaf,” Putra memohon maaf pada orang yang ditabrak Fajri. Dipeluknya Fajri agar tidak menangis. Sambil menggendong Fajri kembali meminta maaf atas nama anaknya.


“Jagoan Daddy enggak boleh nangis dan minta maaf sama Bapak ini ya,” saat itulah Putra melihat orang yang ditabrak Fajri adalah Ricky, ayah kandung Fajri.


Tentu Putra tahu mantan suami Ririen karena dulu sering ke rumah gurunya dan melihat foto-foto lelaki itu di rumah gurunya tersebut.


‘Ternyata … dia hanya ayah biologis anak-anakku. Dia tak mengenali anak kandungnya!’ batin Putra.


“Enggak apa-apa Pak, biasa anak kecil, biar saya ganti ice creamnya,” jawab Ricky ramah.


“Enggak perlu Pak, biar saya saja yang belikan lagi, ini kesalahan anak saya,” tukas Putra cepat.


“Kakak minta maaf dulu sayang, habis itu Daddy belikan ganti ice creamnya,” perintah Putra pada Fajri sambil mengambil tangan kanan Fajri lalu diulurkannya pada Ricky.


“Maaf Om,” pinta Fajri.


“Iya enggak apa-apa, siapa namamu anak ganteng?” tanya Ricky sambil memegang tangan Fajri.


“Ajli,” jawab Fajri sambil memeluk leher daddynya.


“Namanya Fajri, sekali lagi maafkan anak saya, dan saya permisi Pak,” pamit Putra lalu kembali ke kasir untuk membeli dua ice cream lagi.


***


RICKY POV


Siang sehabis keluar jam makan siang, aku enggak balik ke kantor. Lagi bete, banyak pekerjaan dan aku lagi mendekati seorang anak baru di gudang sebelah. Bukan di kantorku. Lokasi perkantoranku adalah arena pergudangan. Ceweq yang sedang aku incar dari gudang tekstil. Dia tinggi kurus, putih. Katanya dia bagian administrasi gudang. Sehingga awal perkenalan kami sering membahas tentang pekerjaan kami.


Dia diploma dua administrasi dari Bogor, masih polos. Dia tinggal dengan kakak sepupunya. Mereka kost dekat gudang agar tidak banyak biaya transport.


‘Kamu siang ini off?’ tadi sebelum jam istirahat aku kirim pesan padanya.


‘Sebenarnya off sejak pagi, hanya karena ada yang harus dilaporkan, ya off sejak jam makan siang,’ Tini membalas pesanku. Nama lengkapnya Murtini.


‘Jalan yok habis aku Jumatan,’ ajakku. Padahal boro-boro aku salat Jumat.

__ADS_1


‘Emang kamu enggak kerja?’ tanya Tini lagi.


‘Kerjalah. Tapi bisa koq keluar sesudah salat Jum’at,’ jawabku cepat.


‘Oke, ketemu dimana?’ balasnya.


‘Tunggu aja di pos satpam gudangmu. Aku kesitu habis Jum’atan,’ balasku.


Lalu aku sengaja membawanya untuk makan siang di sebuah gerai ayam goreng. Aku senang berhasil mengajak dia keluar berdua. Biasanya dia jarang bisa sendirian. Karena kakak sepupunya selalu ikut kemana pun dia pergi.


“Huaaaaaaaaaa,” teriak seorang anak berusia sekitar tiga tahun yang menabrakku dan ice cream miliknya tumpah di celanaku.


“Maaf Pak, anak saya tidak sengaja, maaf,” seorang lelaki yang sepertinya wajahnya pernah aku lihat memohon maaf padaku.


‘Dimana ya pernah lihat wajah ini?’ pikirku. Yang pasti aku pernah lihat dia. Wajahnya seperti tak asing untuk mataku.


Lelaki itu memeluk anaknya  agar tidak menangis. Sambil menggendong anaknya, lelaki itu kembali meminta maaf.


“Jagoan Daddy enggak boleh nangis dan minta maaf sama Bapak ini ya,” dengan lembut lelaki muda itu membujuk anaknya. Wajah anaknya tampan dan chubby. Aku juga seperti familiar dengan wajah batita ini. Tapi entah mirip siapa. Apa mirip wajahku ya?


“Enggak apa-apa Pak, biasa anak kecil, biar saya ganti ice creamnya,” jawabku cepat. Aku tak ingin anak ganteng itu sedih.


“Kakak minta maaf dulu sayang, habis itu Daddy belikan ganti ice creamnya,” perintah sang ayah anak chubby sambil mengambil tangan kanan si kecil lalu diulurkannya padaku.


“Maaf Om,” pinta anak manis itu.


“Iya enggak apa-apa, siapa namamu anak ganteng?” tanyaku sambil memegang tangannya.


“Ajli,” jawab si kecil sambil memeluk leher ayahnya.


“Namanya Fajri, sekali lagi maafkan anak saya, dan saya permisi Pak,” pamit lelaki muda itu.


‘Fajri? Namanya seperti nama anak keduaku! Yah benaaaaaaaaar! Aku ingat sekarang. Lelaki itu pernah aku lihat di rumah sakit beberapa bulan lalu bersama Ririen dan bayi perempuanku. Jadi tadi itu anak kandungku?’


Kulihat lelaki itu kembali membeli dua buah ice cream. Dan kuikuti kemana lelaki itu berjalan. Ternyata dia menemui seorang anak lelaki berusia sekitar lima tahun yang aku ingat wajahnya sebagai anak sulungku.


Kalau wajah Fajar aku ingat, karena dia sudah cukup besar saat aku meninggalkan mamanya. Beda dengan Fajri yang bahkan baru berusia satu tahun kala itu.


“Jadi makan enggak?” tanya Tini membuyarkan konsentrasiku memandang lelaki muda itu dengan kedua anak kandungku.

__ADS_1


“Jadilah,” jawabku cepat dan segera menggandeng Tini untuk memesan ayam dan nasi sesuai keinginannya. Setelah itu aku kembali memperhatikan kedua anakku.


Aku melihat bagaimana telatennya lelaki itu pada kedua anak kandungku. Dia bersihkan wajah anakku dengan tissue basah. Juga jemari tangan anakku. Sesudah itu dia ciumi Fajri hingga bocah itu tertawa senang.


Bahkan dulu saat aku bersama Ririen, aku tak pernah mengurus Fajar sama sekali. Tak pernah aku pergi berdua dengan Fajar saja. Lelaki itu malah pergi dengan kedua anakku tanpa ibu mereka. Dan dia tak merasa kesulitan. Malah anak-anak terlihat bahagia.


“Kamu seneng ama anak itu?” tanya Tini.


“Wajahnya lucu, kayak bakpao,” sahutku. Untung mereka bertiga lelaki semua sehingga Tini tidak cemburu. Kalau mereka perginya bertiga Ririen, bisa-bisa Tini cemburu karena ak terlalu fokus pada mereka.


“Ha ha ha, kamu tu pikirannya malah makanan mulu,” sahut Tini.


“Pikiranku tu sebenernya cuma ke kamu koq. Cuma karena lihat pipi anak itu aja jadi inget bakpao,” jawabku merayunya.


“Gombal ah kamu,” kulihat wajah Tini semu dadu.


Aku senang bila gadis yang aku rayu mulai terkena jeratku. Aku sudah bosan dengan Okta istriku. Dia sudah mulai rewel. Aku lebih baik cari mangsa baru saja.


“Aku seriusan. Ngapain ngegombal. Cuma kamu yang ada dipikiranku. Kalau enggak, mana mungkin aku ngebela-belain keluar jam kantor? Karena aku suka ama kamu maka aku ambil resiko buat ketemuan ama kamu. Kalau enggak gini kamu selalu aja berdua ama kakak sepupumu. Kapan aku bisa deket kamu coba?” aku menggenggam jemarinya dan mengecupnya. Aku tak peduli saat ini dilokasi umum.


Hanya sekedar cium tangan, tapi dilakukan di lokasi umum biasanya seorang gadis merasa sangat melayang karena merasa diistimewakan. Aku hafal soal itu.


Aku sudah melupakan kedua anak kandungku. Saat ini aku lebih fokus pada targetku berikutnya. Target untuk mencicipi segel yang selalu aku sukai.


RICKY END POV


\=============================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : MAMA RENI , DENGAN JUDUL NOVEL  ONE NIGHT WITH IPAR YOK!


 



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2