WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
BERTUKAR CERITA SAAT MAKAN


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI. JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Ririen meniriskan anakan anggrek yang telah dia rendam dengan larutan B1 untuk membuat tanaman tidak stress sehabis perjalanan jauh. Dia menyiapkan juga pakis cacah yang sudah dia rendam semalaman dalam larutan anti jamur dan anti bakteri agar steril.


 “Seperti ini ya Mbak,” Ririen memberi contoh pada Alesha. Ririen  memberitahu size tanaman yang akan mereka repotting terlebih dahulu dan size pot tanahnya.


“Mas Priyo, kamu letakkan anggrek yang sudah saya repotting di rak anggrek,” perintah Ririen pada seorang pegawainya.


“Mommy ini sudah,” Leona buntutnya Alesha menyerahkan sebuah pot hasil repottingnya.


“Pintarnya anak Mommy,” Ririen menerima hasil karya anaknya dengan penuh pujian. Tapi tetap dia revisi. Karena hasil kerja Leona jauh dari kata sempurna. Setidaknya anak itu mau mencoba dengan kesadarannya sendiri.


Sebelum maghrib, Ririen meminta kedua anaknya berhenti dan cuci tangan. Dia juga harus menyiapkan makan malam bagi anak dan suaminya. Lumayan, sore ini dia berhasil seperempat anakan anggrek yang dia beli. Anggrek remaja dan dewasa belum dia kerjakan. Untung tanaman lain belum datang.


Tak ada yang berubah untuk keluarganya. Ririen tetap ratu rumah tangga. Dia tetap menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam. Dia tetap membantu anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah. Dia tetap menjemput anak-anak pulang sekolah karena berangkat sekolah diantar Putra.


Sekarang Fajar dan Fajri sudah tidak di jemput. Mereka pulang sendiri dengan angkutan umum agar ada sosialisasi dengan teman sebaya. Walau sudah kuliah Fajar belum boleh bawa motor karena belum punya SIM. Fajar juga sudah bisa menyetir mobil. Sesekali Putra atau Ririen minta diantar ke suatu tempat. Tapi untuk pergi sendiri juga belum dibolehkan Putra. Sekali lagi karena belum ada SIM mengingat putra sulung mereka belum berusia 17 tahun.


***

__ADS_1


“Mbak mau pakai apa lauknya?” tanya Ririen pada Alesha. Semua anak dia perhatikan keseimbangan lauk dan sayurnya terutama Fajri yang tidak suka sayuran persis seperti Putra.


Setelah anak-anak selesai dia perhatikan baru dia mulai mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya. Putra lebih dahulu dia layani di meja makan bila mereka makan berdua, tapi bila makan bersama anak-anak, tentu perhatian Ririen dan Putra adalah anak-anak mereka lebih dulu.


Celoteh riang anak-anak bercerita kegiatan mereka meramaikan meja makan. Putra memang tak suka makan dalam diam. Mumpung berkumpul Putra ingin anak-anak bercerita. “Mom, tadi piagam dari propinsi diperlihatkan saat upacara. Abang maju menerimanya,” Fajri memberitahu prestasinya di lomba lukis.


Fajri yang sudah pesimis tapi di pompa semangat oleh Ririen berhasil mendapat juara harapan. Suatu prestasi tak terduga dari anak yang ‘tak bisa’ melukis seperti dirinya. Terlebih lomba yang dia ikuti adalah antar sekolah se propinsi DIY.


Dan yang lebih mencengangkan Sandy yang biasa menang di kejuaraan lukis malah tak meraih juara apa pun.  Saat lomba menang, Fajri sudah langsung menerima hadiah uang pembinaan, piala dan piagam dari panitia. Tapi belum diumumkan di sekolah. Baru tadi sekolah mengumumkan saat upacara, sehingga Fajri menerima kembali piagam sebagai formalitas.


“Keren Bang. Seperti Mommy dan Daddy bilang, kita kerjakan saja yang terbaik. Soal hasil ya serahkan pada penilai,” Putra memberi pujian pada anaknya sebagai pemacu semangat.


Namun dari ketiga nak itu, hanya Alesha yang mengembangkan bakat melukisnya.


“Mommy tadi itu …


“Daddy koq …


“Mommy apa aku …


Terus seperti itu sampai mereka selesai makan. Putra dan Ririen tetap menanggapi mereka dengan sabar.

__ADS_1


***


Sehabis makan Ririen memantau ketiga gadis kecilnya membuat pekerjaan rumah. Dan Putra memantau Fajar dan Fajri.  Mereka semua berkumpul di ruang keluarga, tidak dikamar masing-masing agar Ririen mudah memperhatikan. Sehingga Fajar dan Fajri juga ikut berkumpul disana daripada dikamar masing-masing.


“Adek selesai Mom,” ucap Leoni lebih dahulu.


“Oke, bereskan buku untuk besok pagi. Siapkan seragammu di meja belajar. Termasuk kaos kaki agar pagi-pagi tidak kalang kabut,” Ririen melihat hasil kerja Leoni.


“Dadd, mengapa seperti ini?” Fajar memperlihatkan buku yang dia baca pada Putra.


“Banyak pendapat soal penjabaran itu Mas. Daddy bukan kuliah bidang Hukum, tapi pernah baca banyak argumen penyanggah. Coba Mas cari tentang hal itu,” Putra menjawab pertanyaan Fajar.


\===========================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2