WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
TAK AKAN ADA DAMAI!


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Dimana Ririen? Mengapa dia tidak cross check pada sopir yang ikut ke Semarang? Mengapa dia enggak tanya aku?” tanya Putra pada Ilham.


“Wajar dia bertindak seperti itu. Ingat dia pernah terluka. Begitu ada yang mengingatkan kembali pada perselingkuhan, dia akan langsung terluka tanpa pernah bisa berpikir jernih.”


“Sekarang Abang akan pulang dulu. Abang akan mencoba meyakinkan dia masalah salah info seperti ini. Nanti kalian bisa diskusi bila dia sudah bisa bertemu. Sekarang kamu tenang. Istirahat dan jaga anak-anakmu. Dia ada dirumah Abang,” Ilham menghabiskan kopinya dan segera pamit karena sudah malam.


Tanpa menunggu waktu, Putra langsung mengirim email pada PPI pusat dan PPI cabang Jogja kelakuan Sarah yang menyebabkan kericuhan dirumah tangganya. Dia juga akan mengajukan pengaduan tindakan tidak menyenangkan ke pihak berwajib esok hari. Dia sudah mendapat bio data Sarah dari buku besar di PPI.


‘Tak akan ada damai!’ demikian tekad Putra.


***


Pagi tanpa kehadiran Ririen dirumah tentu beda. Walau Putra sudah tahu dimana istrinya berada, tapi tetap wajahnya belum ceria. Kasih dan Ilham bilang Ririen belum ingin bertemu dengannya. Walau sekarang ponsel Ririen sudah aktiv dan sejak tadi dia sudah menyapa putra putrinya di nomor telepon rumah. Hanya Putra yang tidak dia sapa.


Pagi ini Putra akan ke kantor polisi untuk membuat aduan resmi. Dia tak mau membuang-buang waktu. Alamat yang Putra cantumkan sebagai alamat Sarah adalah rumahnya di Jakarta juga kantor PPI cabang Jogja. Dia juga mengirim email dan fax bukti laporan ke pihak berwajib pada PPI pusat dan Jogja, sehingga tanpa menunda laporan itu sudah langsung dibaca penerima fax.

__ADS_1


Putra tahu kalau hanya email, yang bisa buka email kantor hanya orang berwenang. Tapi kalau fax, siapa pun bisa menerimanya. Dia ingin laporannya segera viral dan membuat malu Sarah.


“Abang, aku sudah bikin pengaduan resmi, ini buktinya,” Putra mengirim foto laporan kasusnya pada Ilham agar Ririen tahu dia benar-benar bersih.


“Nanti makan siang, Abang coba pulang dan memperlihatkannya pada Ririen. Kamu yang sabar dan jaga anak-anak,” jawab Ilham pada percakapan mereka menjelang siang hari ini.


“Baik Bang, aku putus ya pembicaraan kita,” Putra menutup sambungan teleponnya dan segera melajukan mobilnya keluar dari kantor polisi tempat dia membuat pengaduan kasus.


***


“Kamu gila Sarah, kamu sudah lihat fax yang diterima kantor PPI tadi?” tanya Lucky pada kakak sepupunya yang sedang santai merokok di kantin.


Lucky dan Sarah bukan bekerja di PPI. Mereka hanya relawan untuk beberapa even yang diselenggarakan PPI saja. Mereka kerja dikantor milik papa Sarah. Mereka bekerja di jalan Magelang yang masih wilayah Jogja.


“Pak Putra mengadukanmu ke polisi karena perbuatan tidak menyenangkan!” sahut Lucky.


“Dan semua orang di PPI sudah tahu kelakuanmu. Karena sejak ada fax itu, semua aibmu selama di London dan New York langsung diumbar oleh semua orang.” Lucky tak bisa lagi menghentikan bola salju yang bergulir.


“Serius dia langsung membuat laporan seperti itu? Bahkan aku belum pernah bertemu muka berhadapan dengannya,” Sarah kaget mendengar info yang Lucky sebutkan barusan.


“Justru karena dia belum pernah berbuat apa pun denganmu maka dia bebas melakukan pelaporan. Berbeda dengan kasus-kasus lamamu. Semua lelaki itu mau kamu goda, sehingga istrinya tak bisa menggugatmu. Sedang sejak awal pak Putra sangat membencimu,” Lucky menyadarkan Sarah, kalau kali ini perempuan itu terbentur cadas.

__ADS_1


Sarah terdiam. Tak menyangka sifat tak mau kalahnya kali ini terbentur dinding tinggi. Dulu semua perempuan korbannya memang tak bisa menggugat lewat jalur hukum karena suami mereka tekuk lutut akan pesona tubuhnya. Tapi kali ini malah pihak lelaki yang tak ingin dia goda. Pihak lelaki yang tak suka bila istrinya terluka sehingga pihak lelaki itu yang melaporkannya.


Sarah berpikir keras untuk mencari sosok yang bisa membantunya. Dulu perempuan korbannya paling hanya bisa memakinya. Paling banter mereka menampar atau menjambaknya.


“Temani aku untuk mengajak damai pak Putra,” Sarah takut terlibat kasus hukum. Dia akan makin dikucilkan keluarganya bila dia mencoreng nama besar keluarganya.


“Sorry. Rasanya cukup pendampinganku selama ini. Sebelum kamu menggoda pak Putra, berkali-kali aku sudah memperingatkanmu. Jadi saat ini, aku angkat tangan. Kamu urus sendiri,”  rupanya toleransi Lucky pada Sarah sudah mencapai ambang batas. Lucky kembali menekuni laptopnya. Dia adalah manager keuangan diperusahaan papanya Sarah.


***


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL  INFIDELITY BEFORE MARRIAGE  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL INFIDELITY BEFORE MARRIAGE ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaaaaaaaaaa….


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.


Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta


__ADS_2