WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
FEELING KU ENGGAK ENAK


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


Sabtu ini Putra memanggil temannya yang jago bikin photo, dia ingin mewujudkan aneka ide nya. Setting rumah banyak yang dia rubah untuk aneka spot photo yang dia inginkan. Bapak yang satu itu memang paling kreatif bila mencurahkan aneka ide cemerlangnya.


***


Semalam Ririen mencapai titik nadir. Dia mengibarkan bendera putih, dia menangis dipelukan suaminya dan memohon maaf atas ke egoisannya untuk terus berkiprah di dunia karier.


“Mommy nyerah Dadd,” bisiknya disela tangisannya.


Putra yang tak tau ada masalah apa langsung terkejut, apa Ririen ingin minta cerai? Ada masalah apa lagi sehingga Ririen ingin mundur?


Sejuta tanya menjadikan Putra hanya diam saat istrinya menangis didadanya. Padahal sekarang dia jarang mau bertemu klien di luar kantor, karena takut bila kejadian di cafe terulang, dia takut orang melihat dia hanya berduaan dengan wanita lalu terdengar Ririen bisa terjadi salah paham lagi.


Kalau pun harus ketemu diluar kantor, dia akan mengajak Nuna yang sekarang sudah bekerja di kantornya sebagai manager keuangan, sehingga tak akan ada salah paham lagi serta menutup celah ada wanita yang ingin mendekatinya.


PUTRA PAMUNGKAS PURWANAGARA POV


Aku baru saja masuk kamarku lalu berbaring setelah membantu dua jagoanku mengerjakan PR mereka. Baru ingin berbaring kudengar telepon dari mama, ternyata mengabarkan teteh Mira baru saja melahirkan anak ke tiga yang kembali perempuan sehingga anak A’ Gilar semua nya perempuan sedang anak A’ Hilman dua juga semua perempuan. Mama berseloroh untung ada dua jagoanku sehingga dia tetap memiliki dua cucu laki-laki. Mama, papa serta kakek memang tak pernah menganggap tiga anak Ririen bukan cucu mereka.


Mereka sangat menyayangi ke tiga anakku itu tanpa membedakan dengan cucu kandungnya. Kuletakan ponsel ku di meja kecil dekat tempat tidurku, meja tempat Ririen biasa meletakkan air putih bekal malam, sekaligus sebagai meja lampu hias kamar ini.


Kulihat istriku memasuki kamar dengan wajah lusuh, dia langsung menjatuhkan badannya didadaku dan menangis, walau kurasakan sakit saat dia menjatuhkan badan didadaku, tapi lebih sakit mendengar tangisannya.


“Mommy nyerah Dadd” bisiknya disela tangisannya.


“Hei kenapa bidadariku nangis kayak gini, ada apa? Nyerah kenapa?” cecarku yang bingung akan kata-kata menyerahnya.

__ADS_1


“Barusan Alesha cerita, dia di bully teman-temannya karena enggak punya ibu, semua temannya pernah diantar mamanya, dia enggak, Padahal Mommy sering antar dia tapi tidak sampai kelasnya. Alesha enggak nangis, tapi aku tau dia sedih!” keluh Ririen.


“Enggak perlu pakai nangis, solusinya sederhana, besok Mommy antar Alesha sampai kelasnya. Bereskan?” sahutku santai.


“Enggak sesederhana itu Dadd, tetap aja karena kesalahanku, Alesha jadi terluka!” sesal Ririen.


“Mom, look at me,” pintaku pada kesayanganku itu . “Apa Alesha cerita saat dibully itu dia menangis? Apa Alesha mengadukan hal itu pada guru kelasnya?” tanyaku lagi.


“Aku juga tanya seperti itu pada Alesha, dia bilang buat apa nangis wong dia punya Mommy, dan Mommy sering antar dia sampai depan gerbang. Dan dia juga bilang buat apa lapor bu Guru karena bu guru enggak akan bisa bantu dia ngejelasin ama teman-temannya!” begitu jawab Ririen tentang reaksi putri mereka.


“See … anak kita aja enggak terluka mengapa kamu bikin persoalan jadi berat?” bujukku sambil memeluk erat tubuh mungil Ririen. “Sekarang Mommy tidur ya, jaga kesehatanmu,” pintanya.


“Mommy berhenti kerja aja ya Dad,” kata istriku, walau pelan aku mendengarnya dengan jelas. Aku bahagia mendengarnya tapi aku juga ragu mengijinkannya. Karena untuk istriku bekerja bukan sekedar mencari uang. Namun lebih pada mencari kepuasan batin. Itulah sebabnya aku tak segera menjawab, aku harus cari kata-kata yang tepat agar dia benar-benar mendapat jawaban yang memuaskan, sesuai keinginannya.


“Jangan ambil keputusan saat sedang emosi!” saranku.  “Daddy bahagia banget kalau Mommy mau berhenti kerja karena keinginan Mommy. Bukan karena tekanan keadaan. Apa pun keputusan Mommy selalu akan dapat dukungan penuh dari Daddy dan anak-anak.”


Kupererat pelukanku dan kembali ku ajak dia untuk tidur agar bisa berpikir dengan tenang, bukan berdasarkan emosi sesaat.


***


Satu minggu sejak diskusi dengan Putra, akhirnya Ririen memutuskan akan menyudahi kiprahnya di dunia kantor, dia ingin fokus sebagai mommy penuh waktu. Dia sudah mengajukan surat pengunduran resmi ke manager HRD kantornya, tapi tidak langsung di ACC, dia diminta untuk membantu kantor mencari penggantinya selama tiga bulan ke depan.


Namun entah bagaimana, saat surat pengunduran diri sudah diajukan,order malah semakin banyak sehingga kesibukan Ririen makin meningkat. Puncaknya besok dia harus berangkat ke Makasar karena akan ada penandatanganan MOU dengan universitas ternama di kota itu.


Ririen menangis saat hendak berangkat ke bandara, saat ini tentu saja dia tak akan bisa menerima bila Putra kembali menemaninya. Sekarang ada lima anak di rumah dan dua diantaranya masih bayi berusia enam bulan.


“Mantabkan hati, jangan nangis begitu, kamu tu pergi kerja, bukan main dan bersenang-senang. Jadi jangan merasa bersalah seperti ini!” bujuk Putra lembut.


‘Dia lelaki terbaik. Dia tak menekan dan marah karena aku harus pergi, malah selalu mensupportku. Bagaimana aku enggak tambah pengen nangis?’ batin Ririen sambil makin erat memeluk belahan jiwanya itu.

__ADS_1


Ririen sangat mensyukuri rizky dari Allah berupa suami terbaik baginya ini.


Saat ini ibu dan mama sudah standby di rumah mereka selain akan dibantu Nuna. Putra tentu saja mengantar sendiri istrinya ke bandara.


***


Baru sampai di tanah Makasar Ririen sudah merasakan siksaan rindu dan merasa sangat bersalah pada suami dan anak-anaknya. Dia berupaya focus pada pekerjaannya agar segera selesai tugasnya.


Tak lupa tiap sore dia akan menghubungi Alesha, Fajar dan Fajri sedang malamnya giliran Daddynya yang dia absent.


“Dadd” panggil Ririen lembut dimalam ke tiga kepergiannya.


“Kenapa Mom, sudah rampung MOU mu tadi?” tanya Putra dengan penuh perhatian.


“Tadi sudah MOU. Rencananya besok pengukuran ruang dan memulai langkah awal pengerjaan lalu lusa pihak yayasan ngajak refreshing sebelum hari berikutnya kami pulang,” cerita Ririen.


“Emang enggak bisa sehabis pengerjaan awal Mommy langsung pulang tanpa perlu refreshing?” tanya Putra hati-hati. Dia tak ingin Ririen mengira ia mengekang kebebasan istrinya itu.


“Bisa sih Dadd, hanya enggak enak aja ke orang yayasan. Mereka kan sudah booking rumah makan di tempat destinasi yang akan kami kunjungi. Sebenernya Mommy tu malah pengen Daddy ada di sini saat acara refreshing besok itu. Karena feeling Mommy enggak enak!” cetus Ririen menceritakan perasaannya.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2