WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
KALAU KAMU NYERAH, DADDY MAU BILANG APA?


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


Sesampai di rumah Ririen langsung mandi lalu mengurusi tiga buah hatinya. Saat ini Alesha sudah bisa merangkak. Dia mengawasi Fajar membuat PR dan memantau mereka makan malam, sejak TK Fajri wajib makan sendiri, tidak disuapi lagi, pengasuhnya hanya memperhatikan saja. Saat ini yang harus full perhatian adalah Alesha, sebab dia sedang fase explorasi, merangkak ke sana ke sini, semua yang dipegangnya akan masuk ke mulutnya.


“Mom, kenapa Daddy malam ini belum telepon Kakak?” tanya Fajar. Dia sangat menantikan ngobrol dengan daddynya.


“Masih di jalan kali Kak, ‘kan Kakak tau kalau sedang nyetir enggak baik terima telepon, pas sudah sampai rumah nenek, kaliannya sudah bobo,” alibi Ririen menjawab pertanyaan Fajar.


“Kenapa Daddy enggak bobo sama Mommy seperti pakde Teguh dan bude Riries atau pakde Bambang dan bude Milly ( Amildya )?” tanya Fajar lagi.


“Sekarang kalian cuci kaki terus bobo ya,” perintah Ririen mengalihkan pertanyaan Fajar. Ririen salah langkah, karena tidak dapat jawaban yang memuaskan dari mommynya, maka Fajar akan mencari jawaban tersebut dari daddy nya.


Sementara Putra sedang kesal karena malam ini malah Ririen tidak mengangkat teleponnya, walau tidak bicara dengan Ririen, setidaknya dia bisa mengobati rindu bila bisa bicara dengan Fajar dan Fajri yang selalu saja bisa menghilangkan galaunya. Dia ingin langsung ke Cilangkap tapi sudah terlalu lelah.


'What happen with you Mom?' Ririen membaca pesan terakhir Putra. Tapi seperti biasa, dia tak menjawabnya.


***


Ririen ingat jadwal menjawab tantangan kantor tentang mutasinya hanya satu minggu lagi. Sekarang dia hanya diam membisu melihat kedua anaknya. Akankah dia tega menjauhkan Fajar dan Fajri dengan Putra? Kalau dia menolak mutasi tersebut, dia tidak sanggup menghadapi cibiran orang-orang yang menuduh dia menginginkan harta Putra.


“Mbak Tuti, aku enggak masuk kantor ya, aku langsung ke lapangan aja,” Ririen menghubungi Tuti sejak dari mengantar sekolah anak-anak. Dia ingin menceritakan masalahnya ke ibu, ingin merasakan dekap hangat ibunya, merasakan usap lembut jemari ibu di kepalanya bila dia tak sanggup menghadapi suatu persoalan.


Sehabis Jumatan Putra langsung pulang, tidak mampir ke rumah melainkan langsung ke Cilangkap, tadi siang dia telepon ke nomor kantor Ririen, kata yang terima telepon hari ini Ririen tidak masuk kantor, dan tidak tahu alasannya. Putra takut Ririen sakit.


Sudah hampir jam tujuh malam, tapi Ririen belum sampai rumah, Putra sudah sangat khawatir, ditelepon tak diangkat, dikirimi pesan juga tak dibalas.

__ADS_1


Jam sembilan malam mobil Ririen baru masuk ke rumah, Fajar dan Fajri sejak jam delapan tadi sudah tidur, sedang Alesha baru saja dipindah ke kamar, karena bila siang box Alesha berada di ruang tengah.


“Pak makan dulu saja, sudah saya atur makannya, takutnya ibu pulang sudah enggak makan malam lagi,” mbak Yuni menawarkan Putra makan malam.


“Biar saya tunggu Ibu aja, kalau dia enggak makan saya akan makan sendiri,” jawab Putra, dia tidak minat makan sendirian.


Putra sengaja menunggu Ririen di depan pintu masuk, dia memeluk dan mencium kening Ririen lama “Miss you so much Mom,” bisiknya.


“Miss you too Mas, udah lama?” jawab Ririen ramah sambil memeluk pinggang Putra.


“Dari jam dua siang tadi, habis Jum’atan aku langsung ke sini” jawab Putra sambil menutup pintu ruang tamu.


“Aku mandi dulu ya, Mas sudah makan?” Ririen bicara sangat manis seolah satu minggu ini dia tidak berbuat aneh. Hal ini malah membuat Putra curiga, dia malah takut bila sikap Ririen seperti itu.


“Daddy tunggu Mommy, pengen makan bareng,” jawab Putra. Pria ini seperti menunggu gunung meletus saat BMKG sudah memberi peringatan kondisi gunung sudah siaga satu.


“Ok, tunggu bentar ya, sumuk ( gerah ), nanti aku langsung nemani Mas makan sesudah mandi,” Ririen langsung menuju kamarnya.


Siangnya mbak Riries tanpa janjian datang ke rumah ibu, jadilah mereka ngerumpi hingga sore di rumah ibu. Pulangnya Ririen mengantarkan mbak Riries dan dia nongkrong di rumah mbak Riries sampai lupa waktu.


Rumah mbak Riries hanya beda RT dengan rumahnya. Jadi saat Putra tanya ke mana dia hari ini, ya Ririen menjawab jujur dia enggak ngantor, hanya ke rumah ibu dan rumah mbak Riries saja.


“Kenapa enggak pernah angkat teleponku satu minggu ini?” tanya Putra saat dia duduk bersandar di kursi yang diduduki Ririen, dipegangnya kaki Ririen yang mengapit tubuhnya.


“Enggak apa-apa,” sahut Ririen sambil mengusap kepala Putra yang berada di dekat lututnya.


Putra membalikkan badannya, dia masih duduk di karpet. Ditatapnya mata Ririen lekat-lekat “Enggak mungkin enggak ada apa-apa, satu minggu enggak pernah mau jawab teleponku. Kamu marah? Salah Daddy di mana?” tanya Putra dengan sabar.

__ADS_1


Ririen membelai pipi Putra lembut . “Daddy enggak salah, hanya Mommy yang enggak kuat. Maafin ya, rasanya aku pamit aja.”


“Maksudmu apa Mom?” Putra terus memandang mata Ririen, diambilnya jemari Ririen dari pipinya dan dikecupinya.


“Mommy akan ambil mutasi ke Bali, kita cukupkan aja hubungan kita sampai sini!” jawab Ririen memberitahu keputusannya pada Putra. Walau tadi ibu dan mbak Riries sudah melarangnya pindah ke Bali dan memintanya tidak menggubris omongan orang, tapi dia yang merasakannya setiap hari. Dia yang mendengar bisik-bisik ejekan setiap hari di sekolah anak-anak rasanya tidak kuat.


“Kalau kamu nyerah, Daddy mau bilang apa? Berkali-kali Daddy sudah bilang ‘kan, enggak usah dengerin omongan orang, enggak usah gubris mereka toh kita enggak minta makan ama mereka. Ok Daddy terima keputusanmu, Daddy pamit mulai saat ini.”


Putra putus asa, dia bangkit berdiri dan ingin pulang saja walau sudah tengah malam. Diulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Ririen pun menerima jabat tangan Putra dengan menunduk, perih memang, karena sejujurnya dia juga sudah mulai menyukai dan sosok lelaki muda ini dalam hidupnya.  Namun dia tak mau hidupnya selalu dicemo’oh orang. Dia sudah bertekad akan memberitahu Fajar dan Fajri pelan-pelan.


Putra memegang dagu Ririen dengan tangan kirinya, mengangkatnya agar Ririen bisa melihat matanya, sedang tangan kanannya tetap memegang tangan Ririen dengan posisi berjabat tangan.


“Aku harap kamu bisa bahagia,” katanya,  dilihatnya mata Ririen mulai berair. Dia pun duduk di sebelah Ririen dan memeluknya erat “Kalau kamu sudah mengambil keputusan bulat, mengapa harus menangis?” bisiknya.


Putra juga tak mungkin bertahan bila Ririen menyerah. Mau bagaimana lagi walau itu sangat berat untuknya.


\==================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL BETWEEN QATAR AND JOGJA  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2