WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
KELINCI JENIS BERANTAKAN


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


Ririen kaget ketika melihat jam di dinding sudah pukul 11.03 siang.


‘Ya ampun aku belum bikin sarapan anak-anak,’ pikirnya, dia langsung bergegas ke kamar mandi lalu keluar sesudah sikat gigi dan cuci muka.


Namun Ririen kaget saat melihat ke dapur suaminya sedang mengulek sambel, di meja sudah ada lalapan serta ikan lele dan tahu goreng. Dia juga melihat majic jar sudah di posisi warm, artinya nasi sudah matang. Dicarinya anak-anaknya yang ternyata sudah mandi dan sedang menonton TV.


“Sudah bangun? Mau langsung ma’em nasi atau roti?” tanya Putra yang memeluknya dari belakang, karena Putra datang dari arah dapur, rupanya dia sudah selesai membuat sambel.


“Kalau ma’em nasi, anak-anak kecepetan karena mereka sudah sarapan, tapi kalau roti kayaknya udah enggak jam nya” jawab Ririen sambil memegang wajah Putra yang ada di bahunya.


“Anak-anak di udara dingin gini maunya makan terus, jadi hari gini diajak makan siang mereka enggak akan nolak koq. Yok makan aja, kamu tu belum isi apa-apa sama sekali,” ajak Putra.


“Kak, Bang kita makan yok, Daddy lapar nih,” ajak Putra pada anak-anaknya. Dan tanpa bantahan kedua nya menuju ruang makan.


“Mom, tadi kita lihat panen lele lho, sayang ikan mas nya masih kecil-kecil,” lapor Fajar.


“Trus liat apa lagi?” tanya Ririen memancing anak-anak untuk menceritakan semua pengalamannya. Memang itu yang Putra dan Ririen terapkan, mengajak anak selalu sharing apa pun yang mereka lihat dan mereka rasakan.


“Abang tadi liat pohon labu siam Mom, dia tu melambat, lalu buahnya menggantung,” Fajri tak kalah antusias menceritakan pengalamannya tadi pagi. Sampai saat ini Fajri belum lancar mengucap huruf R.


“Kami juga lihat pemerahan susu sapi,” lanjut Fajar


Ririen bahagia anak-anaknya banyak mendapat tambahan wawasan dalam liburannya kali ini. Putra makan paling belakang karena dia tadi meminta dirinya yang menyuapi Alesha, karena lauknya ikan makan Alesha belum bisa dibiarkan sendiri.

__ADS_1


“Coba tadi beli labu siam yang kecil Dad, buat direbus kan manis tu buat lalap,” Ririen membayangkan nikmatnya labu siam rebus dicolek ke sambal terasi yang dibikin suaminya ini. Putra mengerti pasti Ririen ngidam, tapi tidak mau memintanya untuk mencarikan, dia berniat meminta mamang penjaga villa membeli sedikit untuk direbusnya nanti sore.


“Habis makan kalian mau ke mana?” tanya Putra pada kedua anaknya, tentu saja dia tidak akan bertanya pada Alesha karena anak itu belum mengerti.


“Pengen bobo aja Dad, udah kenyang ngantuk,” jawab Fajri yang malas bergerak.


“Ok, kita istirahat lalu nanti sore bersiap pasang tenda dan kita bikin sate sosis dan udang ya, kalian yang bikin satenya, Daddy bagian bakarnya,” sahut Putra.


Ririen tidak mengerti kapan dan di mana Putra mencari tenda, ternyata staff kantornya yang datang membawakan tenda, dan dia pula yang akan membawa pulang mobil Ririen kembali ke Jakarta karena Putra merasa mereka pulang cukup dengan satu mobil saja.


Saat anak-anak sudah tidur, Ririen yang baru saja bangun duduk santai di teras villa, dia bersandar pada da-da suaminya yang memeluknya erat sambil mengusap perut Ririen dan merasakan gerakan-gerakan bayi mereka.


Sesekali Ririen menempelkan pipinya di bibir Putra sambil mengernyitkan alisnya saat merasakan pergerakan bayinya. Tentu saja mereka belum menendang karena baru empat bulan, mereka baru terasa berpindah posisi saja


“Sakitkah kalau mereka bergerak?” tanya Putra yang melihat alis Ririen yang berkerut.


“Ngantuk Dad, udara gini kalau kenyang emang ngantuk seperti yang Abang bilang tadi, Mommy mau bobo lagi aja ah,” Ririen segera berdiri dan berjalan menuju kamar yang ditempatinya. Putra pun ikut masuk sambil mengunci pintu villa terlebih dahulu, dia memeluk erat istrinya dan mereka tidur siang dengan lelapnya.


***


Putra dibantu Fajar dan Fajri mendirikan tenda untuk tidur malam ini. Setelah itu Fajar membawa selimut dan bantal ke dalam tenda setelah Putra menggelar karpet plastik dan mengalasinya dengan banyak karpet agar anak-anak tak terlalu sakit tidur di atas tanah, biar bagaimana pun usia mereka masih terlalu kecil untuk merasakan beneran berkemah seperti yang dia dan Ririen biasa lakukan dulu.


Mamang penjaga villa datang membawakan udang, gitar dan arang yang siap digunakan untuk membakar sate. Ririen memotong- motong sosis menjadi 4 potong agar bisa digabung dengan baso dan udang. Dibiarkannya Fajar dan Fajri berkreasi membuat sate sedang Putra menyiapkan piring serta aneka saos serta sambel, karena mamanglah yang menyalakan arang dipemanggang.


Anak-anak sangat menyukai liburan kali ini, sangat berkesan dan membuat mereka bahagia dengan kehangatan kasih kedua orang tuanya. Malamnya Fajar dan Fajri mencoba tidur dalam tenda bersama Putra.


Ririen dan Alesha dilarang Alesha tidur dalam tenda karena Ririen sedang hamil dan Alesha terlalu kecil.

__ADS_1


“Dad, apakah Daddy tidak akan meninggalkan kami seperti yang dilakukan Papa?” tanya Fajar saat mereka hendak tidur. Alesha ditengah antara Fajar dan Fajri


“Abang dan Kakak, kalian tahu, Daddy ini memang bukan Ayah kalian. Tapi apa kurang kasih Daddy pada kalian? Apa ada salah Daddy pada kalian sehingga kalian meragukan Daddy dan berpikir Daddy juga akan meninggalkan kalian seperti yang dilakukan Papa kalian? Daddy sangat mencintai kalian, dan juga mommy kalian. Apa pun yang orang bilang, percayalah Mommy dan Daddy akan selalu bersama,” Putra miring ke kiri mencium Fajar dan kemudian miring ke kanan mencium Fajri. Inilah awal mula mereka sering diskusi bertiga hingga Fajar dan Fajri  dewasa kelak.


***


Hari ini pagi-pagi sehabis sarapan keluarga Putra berkemas dari villa, mereka akan kembali ke Jakarta, sebelumnya akan mengunjungi taman safari terlebih dahulu. Di mobil seperti biasa Putra selalu menggenggam jemari Ririen dan sesekali menciumi jemari istrinya itu.


Siang hari mereka turun kembali ke arah Bogor dan mencari tempat makan siang yang mereka inginkan. Selain makan siang, tak lupa Ririen membeli aneka buah, sayuran dan tentu saja tanaman hias.


Putra membiarkan Ririen memuaskan keinginananya belanja apa pun yang dia inginkan. Karena dia tau yang dibeli Ririen tidak akan terbuang percuma. Ririen enggak seperti perempuan yang hobby belanja di mall, membuang uang untung barang yang tidak dibutuhkan atau meng koleksi sepatu atau tas dan baju branded. Ririen lebih senang belanja sayuran dan aneka buah.


“Daddy itu ada kelinci” teriak Alesha dengan antusias.


“Ya sayang, tapi jenisnya jenis pedaging, enggak bagus kalau kita pelihara di rumah, nanti anakannya jadi berantakan,” jawab Putra.


\===============================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA :  GORESAN PENA, DENGAN JUDUL NOVEL  SUAMIKU (CALON) ADIK IPARKU YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya 

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2