WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
FAJAR DAN FAJRI KEHILANGAN ‘SESUATU’


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


Akhirnya pak Galih pulang bersama Ririen, bareng keluar dengan Charles. Malam ini A’ Gilar yang akan menunggu di kamar rawat Putra.


“Assalamu’alaykum,” sapa bu Purbowati dan pak Kusumo Purbowisono hampir bersamaan saat memasuki rumah anaknya.


“Wa alaykum salam” jawab Fajar yang menyambut eyang kakung dan eyang utinya. Dia segera mencium tangan kedua orang tua tersebut.


“Mas sudah mau berangkat sekolah?” tanya pak Kusumo  pada sulungnya Ririen itu.


“Iya eyang, kami sudah siap berangkat, eyang masuk aja yok, Mommy masih urus ade kembar,” jawab Fajar.


Hari ini ada sesuatu yang hilang yang Fajar dan Fajri rasakan ketika berangkat sekolah. Biasanya di mobil mereka sibuk tukar pendapat dengan daddynya, dan daddy mereka juga selalu mencium mereka di depan gerbang sekolah, di depan teman-teman mereka. Wajah mereka kuyu merasakan kehilangan sosok pria idola mereka yang sedang terbaring sakit.


***


Jam sembilan pagi Ririen bersama pak Galih, pak Kusumo dan bu Purbo berangkat ke rumah sakit. Bu Purbo tadi meminta asisten rumah tangga membawakan makan siang untuk enam orang agar nanti di rumah sakit tidak kebingungan cari makan siang yang cocok dengan lidah dan perut orang tua seperti mereka.


Ririen pun meminta pak Sholeh mengantar Alesha ke sekolah lalu langsung berangkat ke rumah sakit agar menjemput A’ Gilar untuk istirahat di rumah. A’ Gilar harus digantikan karena sudah semalaman menjaga suaminya.


“Jam tujuh tadi dokter sudah visite, diminta kita sebagai keluarganya selalu membuat Putra merasa nyaman agar traumanya cepat hilang. A’a enggak tau kemarin dia kena serangan karena kenapa, jadi enggak bisa cerita garis besarnya ke dokter.”


“A’a cuma cerita semalam dia teriak-teriak memohon jangan ditinggal. Yang penting kata dokter yang membuat dia ketakutan harus selalu dihindari dan dibuat dia percaya bahwa dia tidak akan ditinggal” begitu keterangan A’ Gilar saat rombongan pengganti dia menjaga Putra sudah datang.

__ADS_1


“A’a sudah ngopi belum A? ini tadi ibu bungkus makanan, A’a makan dulu,” perintah bu Purbo pada kakak ipar anaknya.


“Alhamdulillah tadi sudah ngopi Bu, sudah ganjel roti juga. Tapi mau lah sarapan, ha ha kalau enggak makan nasi mah tetep aja lapar,” sahut A’ Gilar.


Ririen mendekati suaminya, dia mencium tangan Putra dan juga menciumi pipi dan keningnya.


“Morning Dadd, masih lelap ya tidurnya? Enggak mau kiss Mommy? Enggak kangen Mommy? Daddy itu satu-satunya yang Mommy cinta. Mommy enggak akan pernah meninggalkan Daddy. Jadi bangun ya. Kamu sudah ditunggu  lima kurcacimu di rumah lho!” bisik Ririen lembut di telinga Putra sambil mengusap-usap pipi Putra.


Bu Purbo yang melihat perlakuan Ririen pada menantunya tak terasa ikut meneteskan air mata. Dia ingat ketika Ririen mengeluh saat bingung untuk menerima cinta Putra yang dianggapnya anak kecil tidak tau malu.


Bu Purbo ingat ketika Ririen berupaya menghindari Putra, bahkan dihari lamarannya pun Ririen hampir saja membatalkannya.


Sampai menjelang malam Putra masih belum sadar. Ririen meminta ayah dan ibunya pulang istirahat di rumah. Mereka pulang bersama pak Sholeh yang maghrib ini datang mengantar A’Gilar untuk kembali jaga malam di rumah sakit. Pak Galih memaksa menemani Ririen dan Gilar di rumah sakit.


Lebih dari 24 jam Putra tidak sadarkan diri. A Hilman dan mamanya yang memantau dari Jakarta selalu menghubungi pak Galih atau A’ Gilar.


“Dadd,” bisik Ririen lirih merasakan remasan tangan suaminya, dia langsung bangkit dan melihat wajah Putra dengan saksama. Mata Putra bergerak-gerak terbuka.


“Kita di mana Mom?” tanya Putra serak.


“Di rumah sakit,” jawab Ririen sambil memencet bell untuk memanggil petugas medis. Gilar dan pak Galih segera mendekat ke brankar, dan melihat Putra yang mulai bicara.


“Kenapa ada A’a dan Papa?” tanya Putra “Aku bikin Mommy repot ya?” keluh Putra


“Daddy enggak pernah ngerepotin siapa pun. Dan satu yang harus selalu Daddy inget, Mommy sangat mencintai Daddy dan enggak akan pernah tinggalin Daddy!” jawab Ririen sambil mencium kening Putra.

__ADS_1


Putra yang mendapat attensi Ririen di depan papa dan kakaknya sangat bahagia.


Empat hari Putra mondok di rumah sakit, hari ini dia boleh pulang. Kemarin pak Galih dan A’ Gilar sudah pulang ke Jakarta karena besok hari Senin A’ Gilar ada jadwal sidang.


***


Waktu terus berlalu. Anak-anak semakin besar. Cinta Putra dan Ririen tetap hangat dan kuat tak bisa digoyahkan. Fajar da Fajri yang ingat saat awal kedatangan Putra dalam kehidupan mereka, tak pernah merasa kalau daddy memberi perhatian yang berbeda pada mereka. Atau antara Alesha dan sikembar yang sama-sama perempuan


Fajar dan Fajri selalu berdiskusi dengan Putra dalam hal apa pun. Suatu kebiasaan yang mereka mulai saat camping di Bogor dulu.


Bagi Alesha, walau dia tahu Putra bukan ayah biologisnya, tapi karena dia sudah ‘mengenal’ Putra sejak dia lahir, maka tak ada keraguan sedikit pun akan cinta sang daddy padanya. Dia juga tak merasa berbeda dengan kedua adik kembar yang sangat dia sayangi.


Saat ini Fajar telah berusia hampir 14 tahun, Fahri 11 tahun, Alesha 8 tahun dan si kembar 5 tahun.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  CINTA KECILNYA MAZ YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2