
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Fajar sejak kecil sudah tinggal di Jogja, terbiasa melihat rambutan di Jogja di jual secara kiloan. Di Jakarta rambutan di jual dengan cara diikat satu renceng, lalu tiga renceng akan digabung menjadi satu ikat besar. Lain daerah memang beda kebiasaan.
“Kalau mau beli buah ya sekalian nanti di daerah Pasar Minggu aja. Arah ke Bonbin ( kebon binatang ) dan TAR ( taman anggrek Ragunan )‘kan banyak tukang buah,” Ririen mengingatkan Fajar daerah yang akan mereka datangi.
“Ya sudah, kita makan di rumah makan yang kita lewati aja, Mas enggak punya keinginan yang ingin dimakan kali ini,” sahut Fajar sambil memperhatikan hasil jepretannya.
“Itu Mas, ada menteng dan gandaria serta manggis juga selain duku dan rambutan,” mang Kusen memberitahu Fajar penjual buah sepanjang jalan menuju Ragunan.
“Mas, kita makan di rumah makan itu aja, cukup besar dan parkirannya luas,” Ririen menunjuk sebuah rumah makan yang masih agak depan.
__ADS_1
“Ya Mang, di depan kita makan siang dulu,” Fajar menunjuk rumah makan yang ditunjuk Ririen tadi.
Mang Kusen segera memarkir mobil ke rumah makan yang ditunjuk Fajar.
‘Selera makan mertua dan menantu hampir sama. Lebih senang ke makanan tradisional daripada makanan fast food,’ batin mang Kusen.
Setelah makan siang dan salat Dzuhur, mereka lanjut ke Taman Anggrek Ragunan atau TAR. Disini Ririen banyak membeli aneka bibitan anggrek yang masih kecil hingga remaja. Sengaja hal ini dia lakukan sehingga nanti bisa menjual lebih murah.
“Mom. Abang telepon,” Fajar memberikan ponselnya pada Ririen.
“Iya gantengnya Mommy,” Ririen menyapa anak ke duanya dengan lembut. Kalau dia sedang pergi, lalu anaknya menghubungi, artinya anaknya mempunyai kesulitan. Karena bila tak ada kesulitan, anak-anak akan bicara bila daddynya sedang telepon.
“Mom, besok ada pertandingan melukis. Aku kan enggak bisa lukis tapi sekolah ngirim aku sebagai peserta. Aku takut mengecewakan sekolah,” Fajri berkeluh kesah tentang beban berat yang ada dipundaknya. Dia selalu ingin menjadi yang terbaik. Bila lomba atas nama pribadi tentu tak seberat bila lomba atas nama sekolah.
“Kamu sudah bilang kalau kamu enggak bisa?” tanya Ririen lembut. Dia tak ingin Fajri terbebani dengan tugas ini. Karena Fajri merasa membawa nama besar sekolahnya.
__ADS_1
“Sudah. Abang bilang kalau Abang suruh ikut lomba musik, Abang akan mampu bersaing. Tapi pak Bagas tetap aja nyuruh Abang dan Sandy yang maju,” jawab Fajri dengan sedikit rasa putus asa. Sandy siswa kelas enam memang sudah beberapa kali juara di lomba lukis antar sekolah.
“Kalau Abang sudah mengatakan tidak mampu, tapi pihak sekolah tetap bersikeras mengirim kamu, itu artinya mereka melihat potensimu. Saran Mommy, kerjakan semaksimal yang kamu mampu. Soal hasil biarkan juri yang menentukan!” Ririen memberi saran yang terbaik untuk jagoan kecilnya.
Berhubung akhir bulan dan akhir tahun pula, bab nya agak pendek dan hanya satu bab untuk hari ini ya
Bab akan kembali panjang di update 1 Januari 2023
\===========================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta