WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
ANAK BAPAK LEBIH MEMBUTUHKANNYA DARI PADA KAMI


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Fajar, Fajri,  Opa tau kalian enggak nyaman dengan pertemuan ini, tapi Opa terpaksa melakukannya. Papa kalian juga enggak tau apa yang Opa inginkan dari pertemuan ini.”


“Sebelum Opa lanjutkan pembicaraan ini boleh Opa tanya Fajar sekarang umur berapa dan kelas berapa, begitu pun Fajri?” tanya pak Fuad.


“Aku umur sepuluh tahun hampir sebelas aku kelas enam SD  tahun ini aku ujian SD. Mas umur empat belas tahun sekarang kelas dua SMA Opa” jawab Fajri setelah menunggu Fajar malas menjawab pertanyaan opanya.


Pak Syahab dan Ricky terpaku atas kehebatan Ririen dan suaminya mendidik anak-anak mereka.


“Adikmu namanya siapa dan umur berapa?” tanya pak Fuad lagi.


“Namanya Alesha umurnya delapan tahun masih kelas 3 SD,” Fajri menjawab sopan.


“Ririen, Papa tau, Papa punya salah dalam mendidik Ricky, dia menjadi laki-laki yang enggak bertanggung jawab dan semaunya sendiri. Karena itu Papa sebagai ayahnya meminta maaf atas kesalahan Papa dalam hal mendidik anak.”


“Tapi dalam kapasitas dia sebagai orang tua anak-anaknya itu bukan tanggung jawab Papa. Satu bulan lalu Papa meminta Mama untuk memutuskan tentang hak waris dan kami sudah membuat akta waris di depan notaris.”


“Papa dan mama punya tiga tanah, maka sesuai keputusan Mama dan Papa satu tanah sudah Papa wariskan bagi Fajar, satu tanah Papa buat atas nama Fajri karena Papa ingat nama lengkap dan tanggal lahir mereka.”


“Tanah ke tiga papa wariskan untuk anak Dira, anak Shintia dan Alesha, nama mereka belum tertulis karena menanti kelahiran anak Shintia. Papa tidak mewariskan apa pun untuk Ricky dan Dira!” Pak Fuad menyerahkan dua map berisi sertifikat tanah bagi ke dua cucunya.


“Maaf Pak, saya memang masih kecil. Tapi sejak SMP saya enggak pernah bayar sekolah, bukan karena orang tua saya tidak mampu melainkan karena saya mendapat beasiswa.”


“Dan sejak dua tahun ini saya juga bisa dapat income lebih besar dari tamatan sarjana fresh graduate dari jerih keringat saya pribadi. Dan Bapak tau, adik saya malah sejak berumur tujuh tahun incomenya sangat besar sehingga tabungannya lebih besar dari tabungan saya.”


“Lebih baik tanah tersebut berikan saja pada anak Bapak yang pasti lebih membutuhkan daripada kami ini,” Fajar selesai berkata lalu meninggalkan ruang tamu tanpa bisa dicegah.


“Mas!”

__ADS_1


“Fajar!”


Putra dan Ririen berbarengan memanggil nama anak sulung mereka. Putra menarik napas panjang, dia sangat mengerti kemarahan yang dialami Fajar. Dia tau bagi Fajar bukan harta yang dituntut dari keluarga Mahendra melainkan attensi dan kasih sayang.


Fuad dan Siska shock melihat reaksi Fajar. Mereka bahkan tak percaya kalau kedua cucu mereka sudah sukses punya penghasilan, saat Ricky ayah kedua anak itu hanya bisa berpenghasilan minim.


“Maafkan sikap anak saya, dia sangat kecewa, sejak bicara di telepon dengan ayahnya, ayahnya bilang yang ingin bertemu dengannya adalah opanya, bukan ayahnya. Anda anda semua bisa memahami betapa terlukanya dia, ayah biologisnya tidak pernah tanya apa pun tentang dirinya, malah mengatakan yang ingin bertemu adalah kakeknya.”


“Belum lagi barusan Bapak mengatakan memberi hak waris untuknya sebagai tanggung jawab anda sebagai orang tua ayahnya. Anda pikir harga dirinya bisa ditukar dengan sertifikat itu?”


“Kalau hanya sertifikat, maaf, sekali lagi maaf. Semua anak kami masing-masing sudah punya jatah sejak saya menikah dengan ibu mereka. Ini alasan utama mengapa anak-anak tak mau pertemuan dilakukan ditempat lain.”


“Karena sesungguhnya mereka tidak ingin bertemu dengan keluarga anda yang telah menginjak-injak hati ibunya. Dia mereka sejak kecil tahu penderitaan ibunya, dia sejak kecil tahu perjuangan ibunya menghidupi tiga anak tanpa suami sebelum akhirnya ibunya menikah dengan saya,” Putra menerangkan kondisi Fajar.


 “Sebaiknya kita makan siang dulu, saya akan bicara dulu dengan anak saya,” sambung Putra sambil masuk untuk menemui Fajar.


‘ANAK SAYA,’ dua kata terakhir yang dikatakan Putra ini sangat menusuk Siska, Fuad dan Ricky.


Mereka semua masuk ke rumah Putra, melewati ruang keluarga yang sangat luas dan berkesan hangat, mereka sampai di ruang makan yang mewah karena klasik. Dari ruang makan bisa dilihat halaman belakang yang sangat luas dan asri juga kandang luas di sudut halaman.


“Mbak Lesha, de Leoni dan de Leona sini salim dulu sama oma dan opa nak,” Ririen memanggil ketiga putrinya yang sedang asyik memakan hasil masakan mereka sendiri.


“Mom, mana Daddy? Nanti udang bakarnya Mbak abisin kalau Daddy enggak cepat ke sini,” Alesha mendekati Ririen sambil me-lap tangannya dengan tissue basah agar ketika salaman tidak bau amis.


“Ini Alesha, anak ke tiga kami,” Ririen memperkenalkan Alesha.


Ricky melihat putri kecilnya untuk pertama kali, dia kaget karena Alesha sangat mirip dengan dirinya ketika kecil.


“Wah cucu Oma sangat cantik ya, sudah kelas berapa?” tanya Siska mamanya Ricky.


“Kelas 3 SD Bu,” Alesha menjawab polos lalu lanjut menyalami opanya, dan selanjutnya dia menyalami Ricky. Alesha segera mundur tatkala Ricky ingin memeluk dan menciumnya.

__ADS_1


“Ini anak ke empat dan kelima kami, mereka kembar Leona dan Leoni,” Ririen memperkenalkan dua putrinya.


“Wah kembar? Rame ya rumahmu,” mantan ibu mertuanya senang melihat kemolekan dua putri kembar di depannya.


“Silakan dimakan Pak, Bu, itu Fajar dan Fajri sudah datang dengan Daddynya”. Ririen melihat Fajar dalam dekapan Putra di bahunya.


“Mas, aku bakar udang, Mas mau?” Alesha menawarkan Fajar hasil karyanya.


“Abang mau De” pinta Fajri.


“Abang bakar sendiri, aku cuma bakarin untuk Mas dan Daddy,” tolak Alesha.


“Jatah Daddy buatku ya Dadd, Daddy bakar sendiri,” Fajri langsung keluar ke arah tempat memanggang.


“Begitulah mereka, tiap hari Sabtu dan Minggu tidak pernah bosan bereksperimen masak,” Ririen menerangkan kegiatan tiga bidadari kecilnya pada mantan mertuanya.


Sambil makan pak Fuad memperhatikan dua buah lemari di ruang keluarga yang berisi aneka piala dan medali. Dibacanya banyak ragam kejuaran bela diri dan seni tertulis disana.


Ririen yang melihat mantan bapak mertuanya memperhatikan dua lemari itu menerangkan itu adalah lemari prestasi Fajar dan Fajri, sedang untuk Alesha hasil prestasinya masih disimpan dikamarnya karena belum terlalu banyak.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  TELL LAURA I LOVE HER  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2