
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Lima hari full mereka di Bangkok. Besok mereka akan kembali ke Jogja, kota tercinta. Koper yang awalnya tak ada isinya, sekarang malah bertambah dua koper besar berisi oleh-oleh.
Putra dan Ririen bahagia liburan mereka kali ini tak ada kendala. Mereka puas berbelanja. Mereka puas selalu bersama. “Enggak pernah kebayang kita bisa sampai dititik ini. Selalu erat memegang tangan menghadapi badai,” bisik Putra.
Malam ini mereka sedang makan malam di atas sungai Chao Phraya. Putra membiarkan kelima anaknya memesan apa yang mereka inginkan. Sementara sejak tadi dia memeluk bahu istrinya erat memandangi kelakuan manis lima anak mereka.
Fajar yang selalu menjadi panutan semua adiknya. Lelaki itu selalu bertanggung jawab melindungi adiknya. Tak pernah marah dengan suara keras tapi semua adiknya sangat patuh bila dia melarang atau memerintah. Juara bela diri karate selain di bidang science. Tapi malah ambil kuliah bidang hukum seperti uwaknya. Kakaknya Putra.
Fajri yang sangat terobsesi dengan seni. Prestasi seninya tak bisa dipandang enteng bahkan dibanding orang dewasa sekali pun. Dia juga tetap jago bela diri walau tak pernah ikut kompetisi seperti Fajar. Piala seninya sudah lebih dari satu lemari dan uang hasil kompetisinya sudah mampu membeli mobil dan rumah. Fajri adalah duplikat Putra. Tak ada yang mengikuti Ricky sama sekali, kecuali gurat wajahnya.
Alesha, yang sangat manis dengan sikap lembutnya. Gadis kecil mereka ini punya hobby melukis yang diwarisi dari gen ayah biologisnya. Juga sangat menyukai tanaman seperti mommy dan eyang kakungnya. Gadis yang sejak dia didalam kandungan tak pernah digubris oleh Ricky. Sejak lahir Alesha adalah anak Putra.
Karena Putra jatuh cinta sejak melihat Alesha diusia 36 hari. Putra mewajibkan semua anak perempuan berlatih bela diri. Mereka harus kuat. Jadi walau masih kecil tapi Alesha mahir karate.
__ADS_1
Leona, kakak sikembar karena dia lahir duluan. Dia keras, meledak-ledak persis seperti Ririen bila marah. Tapi juga cepat minta maaf bila sadar dia salah. Dia tak mau kalah, dan lagi-lagi ini adalah sifat mommynya.
Leoni, sicengeng ini sangat lembut. Dia adalah Putra versi perempuan. Selalu mengalah dan tak pernah mau berdebat. Dia hanya mempertahankan diri. Tapi bila kepepet, dia lebih garang dari Leona.
“Mommy juga enggak nyangka bisa kembali menikah setelah memutuskan enggak bakal nikah lagi ketika palu hakim diketok,” jawab Ririen sambil membayaangkan ketika ia bertekad tak akan menikah lagi di ruang sidang pengadilaan agama.
Dia melihat ketiga anaknya dari Ricky. Yang tumbuh optimal dalam pengasuhan Putra. Mereka tak pernah kekurangan figur ayah. Malah Putra adalah idola mereka. Ririen ingat ketika Fajar dan Fajri kecil yang minta menggunakan nama Purwanagara dibelakang nama mereka dari pada nama Mahendra dari garis Ricky.
“Daddy ingat, sangat kesal saat kakek maksa pulang dengan ancaman dicoret dari trah Purwanagara. Buat Daddy bukan soal harta, tapi garis darah kakek yang Daddy pikir. Sejak kecil Daddy tahu, kakek sangat mencintai Daddy dibanding A’ Hilman dan A’ Gilar. Eh malah karena paksaan kakek itu Daddy ketemu jodoh,” sahut Putra.
“Jodoh yang maksa ya,” goda Ririen. Dia ingat bagaimana Putra standby pagi-pagi dirumahnya untuk mengantar ke Slipi saat dia masih cuti.
“Daddy enggak maem?” tanya Leoni. Dia mau meminta sang ayah mengupasi udang yang dia pesan.
“Kenapa? Mau minta bersihkan udangmu?” tanya Fajri. Sang abang tahu adiknya sangat suka udang tapi malas ngupas kulitnya.
Leoni hanya tersipu malu karena keinginannya mudah ditebak Fajri.
“Abang, kepitingku juga sekalian kupas,” pinta Leona.
__ADS_1
“Itukan ada tang buat pecahin capitnya,” sahut Alesha yang sedang memakan ikan bakar miliknya.
“Aku enggak kuat Mbak,” sahut Leona gemas. Dia enggak sabar menunggu Fajri selesai mengupasi udang untuk Leoni.
Fajar yang melihat itu langsung membuka kepiting pesanan Leona. Ririen dan Putra tetap hanya memandangi. Mereka benar-benar ingin melihat tanpa ikut makan. Mereka akan makan ketika semua anaknya sudah selesai. Saat ini Putra dan Ririen hanya ingin menjadi penonton saja.
***
Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.
Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING ya.
Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING itu ya.
__ADS_1