WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
TAKE IT OR LEAVE IT


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 “Kakak-kakak gantian, sekarang dede Lesha yang digendong Daddy,” kata Ririen sambil menyerahkan Alesha pada Putra.


Putra berdiri menggendong Alesha, tapi masih melanjutkan membaca cerita untuk 2 jagoannya. Sedang Ririen berjalan santai membiarkan ketiga anaknya diasuh Putra. Dari kejauhan bu Wati memperhatikan pemuda yang putrinya bilang usianya lebih muda dan mantan murid putrinya itu.


“Makan dulu yok, habis itu berangkat, udah hampir jam 1 nih,” Ririen mengambil Alesha yang tertidur digendongan Putra sementara Fajar dan Fajri sedang makan dengan pengasuhnya masing-masing.


***


“Nanti pulang jam berapa?” tanya Putra saat Ririen baru saja turun dari motornya dan menyerahkan helm pada dirinya.


“Tutup ‘kan jam 12 malam, ya jam segitulah aku baru bersiap pulang. Enggak usah di temenin, aku nanti pulang bareng pak Tulus yang staff pusat, bukan Tulus Silalahi, dia rumahnya di Jatinegara, jadi bisa nunut dia sampai rumah,” Ririen memberitahu jadwalnya.


“Daddy pulang dulu ya,” Putra tidak membantah atau meng iyakan omongan Ririen barusan, dia hanya menarik Ririen agar mendekat dan mencium keningnya, dia sama sekali tidak parkir.


“Hati-hati ya, jangan ngebut,” Riri enmengusap lengan Putra dengan lembut tanpa mengucapkan terima kasih.


Putra langsung balik ke kantor dulu, sampai pukul 17.00 dia di kantor lalu pulang ke rumahnya. Dia berupaya tidur dulu. Jam 9 malam dia keluar dengan mobilnya untuk menjemput Ririen di PRJ.


Jam 11 malam Putra sudah berada di depan stand Ririen, dia melihat kesibukan Ririen menawarkan productnya, juga menandatangani order form yang di berikan oleh marketingnya.


Sejak Putra datang Ririen sudah melihatnya, dia juga tahu Putra pasti sudah pulang ke rumahnya karena tidak pakai jacket, artinya dia sudah tidak pakai motor, karena tidak mungkinkan jacket mahalnya ditaruh di parkiran motor sana?


“Cape? Udah maem?” tanya Putra saat mereka sudah sampai di mobil.


“Biasa hari pertama ya begini, super cape karena ‘kan badan belum biasa, nanti berikutnya udah biasa lagi koq.” Balas Ririen santai.


“Udah maem belum?” tanya Putra lagi.


“Udah, tadi jatahnya nasi Padang, kalau dari kantor. Trus karena pembukaan, ‘kan tiap stand dapat konsumsi dari panitia, tapi cuma buat 2 orang, snack pula bukan nasi. Cukuplah enggak lapar,” jelas Ririen.

__ADS_1


“Kalau Daddy pengen mampir makan kerang mau enggak?” tanya Putra.


“Kamu belum makan? Kalau belum jangan kerang rebuslah, nanti kamu kelaperan,” tolak Ririen.


Lagian ini sudah telat banget. Kamu jangan kebiasaan nunda makan ah,” Ririen laangsung ngomel mendengar Putra mengajaknya makan kerang.


“Udah, Daddy udah makan koq, cuma kepengen aja ngajak Mommy makan kerang rebus,” kata Putra.


“Owh gitu. Ya udah, boleh tuh makan kerang, enggak nolak,” jawab Ririen tenang. Dia paling enggak mau kalau Putra menunda makan hanya karena harus menjemputnya.


Putra menepikan mobilnya di tenda kerang rebus daerah Cempaka Putih. “Mau pesan apa?” tanya Ririen.


“Daddy kerang ama udang deh Mom, Mommy mau kepiting?” tanya Putra.


“Enggak ah,” Ririen malas ngorek-ngorek daging kepiting. “Mas minta kerangnya 10 piring dan udangnya 4 piring, bumbunya banyakin,” pinta Ririen.


“Kamu enggak salah pesan ‘kan?” tanya Putra memandang lekat mata Ririen yang duduk di depannya.


“Kenapa? Kurang? Atau kebanyakan?” tanya Ririen bingung.


“Semua keluargaku suka sea food, jadi kalau suruh jaim ya aku malas. Jaim merugikan,” jawab Ririen santai. “Sejak dulu aku ya gini, enggak pernah mau peduli omongan orang, lu suka ya silakan, lu enggak suka ya tinggalin, gitu prinsipku.”


“Kata siapa enggak peduli omongan orang?” tanyaPutra sambil menggodanya menggerak-gerakan alisnya.


“Ih maksudku soal makan,” kata Ririen sambil memukul lengan Putra.


Putra dan Ririen menyantap kerang dan udang rebus dengan santai, beberapa kali Putra melarang Ririen menambahkan sambel pada racikan bumbu miliknya. “Cukup sambelnya ya Mom, cobain sambel Daddy aja sekali boleh, kasihan Alesha kalau Mommy makan pedes,” racikan bumbu milik Putra memang pedas manis.


Sesekali Putra menyuapi udang atau kerang yang menggunakan racikan bumbunya ke mulut Ririen, yang tentunya tidak bakal ditolak oleh Ririen karena dia juga penyuka pedas.


“Masih mau nambah enggak Mom?” tanya Putra ketika mereka hampir selesai makan.


“Cukup ah, udah kenyang,” jawab Ririen.

__ADS_1


Saat selesai makan Ririen tidak langsung bangun, dia memegang tangan Putra dan menatapnya. Putra merasakan akan ada hal yang tidak baik saat Ririen berinisiatif memegang tangannya lebih dulu.


“Makasih banget ya, selama ini kamu begitu perhatian ama aku dan anak-anakku. Tapi aku mohon, aku mohooooon banget, sejak besok kita menjauh ya, kita uji perasaan kita, benar enggak langkah yang kita ambil ini. Aku enggak pengen kamu susah bolak balik kantormu, ke rumah lalu nganter dan jemput aku, baru balik lagi ke rumah. Aku enggak pengen kamu enggak focus ama kerjaanmu, aku enggak pengen kamu sakit karena kecapean,” akhirnya Ririen kembali memintanya menjauh.


“Aku enggak bakal kecapean dan aku janji enggak akan sakit karena bolak balik kantorku, ke rumah lalu anter jemput kamu,” tolak Putra tegas. Akan lebih menyakitkan bila di harus menjauh.


“Aku ingin focus kerja, biarkan aku bebas satu bulan ini, biar aku bergerak sendiri tanpa campur tanganmu sampai pameran ini selesai ya, aku enggak mau kamu bantah. ‘Take it or leave it’!” pinta Ririen.


“Ok, I take, tapi kamu enggak boleh menghindar ya? Kalau aku kangen aku boleh ketemu kan?” Putra pasrah atas ultimatum Ririen.


“Enggak bisa, satu bulan full kamu enggak usah nyamperin aku atau anak-anak,” kata Ririen tegas.


“Mom … ” Putra tidak melanjutkan kata-katanya, dia hanya memandang Ririen dengan tajam.


“Apa aku masih boleh telepon?” tanya Putra saat mereka berjalan menuju mobil, Putra menggenggam erat tangan Ririen.


“Kalau ada yang urgent why not,” kata Ririen.


“Paling tidak, izinkan aku bicara dengan anak-anak. Aku tak ingin mereka terluka. Kamu lihat tadi siang Fajar seperti itu. Aku ingin memberitahu anak-anak aku ada dan tidak menjauh dari mereka,” Putra minta pengertian Ririen


Putra membukakan pintu bagi Ririen, sebelum Ririen masuk mobil dia mencium kening Ririen. Sepanjang jalan dia menggenggam jemari Ririen dan bolak balik menciuminya.


Kalau tidak malu, ingin rasanya dia menangis mendengar keputusan Ririen kali ini. Akhirnya mereka sampai di depan rumah orang tua Ririen.  Putra masih memegang jemari Ririen, dia menarik wajah Ririen lalu dikecupnya kening Ririen sangat lama, dipandanginya mata Ririen seakan tidak percaya dia dihukum tidak boleh menemui perempuan ini selama satu bulan.


\===============================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL BETWEEN QATAR AND JOGJA  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2