WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
SATE KELINCI


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Selepas belanja di perkebunan kaktus sekarang waktunya makan siang. Putra mengarahkan mobil ke Maribaya. “Kalian lihat  rumah makan yang jual sate kelinci ya. Mas lihat kiri dan Abang lihat arah kanan,” perintah Putra. Dia sengaja membuat kedua anaknya bekerja dalam team. Agar mereka terbiasa berbagi tugas.


“Daddy, itu banyak penjual tanaman,” Alesha masih saja ribut.


“Nanti sepulang dari Maribaya mampir ke RIZAL ORCHID Dadd. Kalau dari sini dia letaknya sebelah kanan jalan. Kalau pulangnya ‘kan dia sebelah kiri jalan,” Ririen yang sekarang request pada suaminya.


“Kita sekarang makan siang ya Mbak. Dan itu Mommy sudah bilang kita akan ke Rizal orchid. Jadi sekarang Mbak lihat dari jauh aja ya?” Putra  berupaya meredam kemauan anak gadisnya yang memang persis seperti Ririen sangat mencintai tanaman dan hewan. Putra bahkan kadang berpikir Alesha lebih maniak tehadap tanaman daripada istrinya.


“Dadd, di kiri ada yang jual sate kelinci, tapi di kanan ada yang lebih besar dan menyediakan olahan lain dari kelinci,” Fajar memberi info tentang rumah makan dengan menu kelinci yang lengkap.


“Baik, kita pilih yang kanan aja ya. Parkirnya juga lebih luas yang kanan,” sahut Putra  dan langsung mengarahkan mobilnya untuk menyeberang dan masuk area parkir rumah makan.


Ririen membaca menu yang tersedia. Didaftar menu ada nasi goreng kelinci, rica-rica kelinci, semur kelinci, sop kelinci serta gulai dan tongseng kelinci selain sate kelinci tentunya.


Ririen akhirnya memesan sate kelinci, semur kelinci serta gulai kelinci untuk makan siang keluarganya kali ini.


“Bagaimana? Enak?” tanya Putra pada Fajar dan Fajri.


“Kalau buat sate, dia seperti daging ayam ya Dadd, enggak ada lemaknya seperti daging kambing,” Fajar memberi penilaian rasa daging kelinci yang baru kali ini dia makan. Mungkin saat kecil dia pernah memakannya, tapi ‘kan belum bisa memberi penilaian.


“Daging kelinci memang yang terendah kadar lemaknya. Dia juga baik untuk kesehatan wanita. Rasanya juga enggak kalah enak dengan daging kambing koq Mas,” Ririen menjelaskan tentang kandungan lemak pada daging kelinci.


“Mom, apa bisa kita beli sate yang belum matangnya? Untuk di bakar nanti malam,” Fajri meminta izin pada sang ibu untuk membeli sate mentah.


“Boleh aja Bang, tapi biar disini dulu biar enggak busuk ya. Nanti kita ambil saat pulang. Jadi di mobil juga enggak bikin bau amis.” Putra menyetujui permintaan Fajri.

__ADS_1


Yang masih belum bisa bedakan kelinci hias dengan kelinci pedaging. ini eyank kasih foto kelinci pedaging. perhatikan besar minimaal badan kelinci dengan badan peternaknya. Selain itu juga jelas beda bentuk dan kecantikannya ya



“Mbak mau tambah sate nya?” tanya Ririen pada Alesha. Ririen sedang menyuapi Leona dan Leoni.


“Enggak Mom, sekarang mau maem pakai semurnya aja,” jawab Alesha. Gadis kecil itu sejak tadi hanya makan sate kelinci tanpa nasi.


Sehabis salat dan selesai makan Putra melanjutkan perjalanan ke Maribaya. Lokasi wisata yang sangat dingin. Leona dan Leoni tertarik membeli strawberry. Walau Putra bilang besok mereka akan ke kebun strawberry, tetap saja kedua anak kembarnya tak mau peduli. Mereka tetap merengek minta dibelikan buah itu.


Banyak spot foto yang membuat anak-anak lelah karena Ririen dan Putra tak henti mengajak mereka berfoto. Baik sendirian, bersama kakak atau adiknya atau formasi lengkap dengan Ririen dan Putra.


Menjelang sore mereka segera pulang agar tak terlalu lelah. Fajri berkali-kali mengingatkan untuk mampir mengambil sate kelincinya. Karena sampai di Rizal orchid sudah sangat sore, Ririen membatalkan mampir. Alesha dan si kembar sudah tertidur. Nanti di dekat hotel Ririen akan turun berdua Putra saja belanja di supermarket. Mereka hanya butuh aneka saos, mayonnaise dan udang untuk makan malam mereka.


Hujan turun saat mereka sampai di villa. Dan sudah jam delapan malam. Semua anak sudah tertidur kelelahan. Putra bolak balik memindahkan tiga gadis kecilnya. Sedang kedua jagoan dia bangunkan untuk pindah ke kamar. Malam ini batal bebakaran. Sate kelinci dan udang langsung Ririen masukkan ke freezer.


“Siapin baju ganti dan kaos kaki Dadd. Biar Mommy lap badan mereka,” Ririen meminta suaminya menyediakan baju ganti anak-anak gadisnya. Sedang Fajar dan Fajri sudah langsung terlelap.


“Enggak Mom, teh jahe sereh aja. Tadi kita beli jahe dan sereh kan?” Putra ingin minuman hangat saja.


“Susuu jahe aja ya?” tanya Ririen.


“Ada susuu bubuknya?” tanya Putra.


“Ada, tadi memang beli buat bikin susuu coklat,” balas Ririen.


Ririen membuatkan minuman yang diinginkan Putra. Dia juga membuatkan air garam untuk merendam kaki Putra agar mengurangi kelelahannya.


“Mas, itu air garam untuk rendam kaki sudah jadi cuma masih di dapur,” bukan Ririen tak mau mengangkat. Tapi dia akan ditegur suaminya bila dia yang angkat. Maka lebih baik dia hanya memberitahu saja agar Putra angkat sendiri.


“Makasih cintaku, koq kepikiran bikinin air garam?” Putra mengecup bibir istrinya selintas lalu menuju dapur dan mengangkat ember air garam dan dia letakkan di depan televisi. Dia akan merendam kaki di sana sambil meminum suusu kopi jahe buatan istri tercinta.

__ADS_1


“Anak kita ni banyak. Tapi begitu mereka tidur, kita hanya berdua ya Mom. Mungkin ini yang sekarang dirasa ibu dan ayah. Kalau mama dan papa ‘kan ada Una dan keluarganya.


“Iya, tapi mbak Riris, mbak Milly dan mbak Aniel gantian dua hari sekali datang ke rumah. Dan tiap hari Sabtu anak-anak mereka yang gantian menginap. Mereka punya jadwal piket,” Ririen menjelaskankan kerja kompak ketiga kakaknya.


“Owh gitu? Daddy baru tahu,” Putra malah tak pernah tahu kalau kakak-kakak iparnya membuat jadwal piket untuk menemani kedua mertuanya.


“Karena kita enggak ikutan, maka Mommy enggak cerita ke Daddy,” jawab Ririen. Dia masih mencari di gogle, destinasi yang ingin dia kunjungi kali ini. Tempat yang sekiranya anak-anaknya suka. Tentu sulit membuat semua puas, karena rentang usia anak-anaknya berbeda.


“Besok jadinya kita kemana Dadd? Apa ke kota aja, banyak factory outlet disana. Lalu makan di kebun strawberry trus pulang. Biar malam pada kuat untuk kegiatan bebakaran?” Ririen memberi saran pada Putra yang sedang memperhatikan berita di televisi.


“Boleh tuh, biar besok Mas dan Abang bisa explore fashion aja,” Putra menyetujui usul istrinya. Kedua jagoannya sudah ABG, terlebih besok Fajar sudah akan kuliah, tentu butuh banyak baju sesuai kegiatannya. Dulu saat SMA sehari-hari ‘kan masih menggunakan seragam.


“Kalau gitu kita tidur yok, biar enggak kecapekan,” Ririen mematikan lampu ruang tengah dan dapur dan bergegas masuk ke kamar mereka. Dia mengambil sisi kiri di sebelah Leona. Biasanya Leoni akan mencari daddynya ketika terbangun maka Putra yang akan tidur dekat Leoni. Kalau tidur di kamarnya tentu Leoni tak akan mencari Putra ketika terjaga.


Putra mematikan televisi dan dia mengangkat ember yang digunakan untuk merendam kakinya. Dia segera membawa ke dapur dan meletakkan ditempat mencuci baju. Tadi Ririen mengambil ember di sana. Kembali dia matikan lampu dapur. Sebelum masuk kamarnya dia selalu mengabsen semua anaknya dan mencium kening mereka. Kegiatan rutin yang dia lakukan dimulai ketika dia menginap di rumah Ririen sebelum mereka menikah. Kegiatan yang tak pernah dia lupakan sesibuk apa pun.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  CINTA KECILNYA MAZ   YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL  CINTA KECILNYA MAZ   ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2