WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
MAU NGANTAR NYONYAKU MEETING


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA


\~\~\~\~\~


Dia tahu Putra akan minum beer bila pikirannya sedang ruwet saja. Saat melihat jumlah kaleng beer yang anaknya beli, dia sudah tahu saat ini Putra pasti sedang kacau pikirannya. “Kamu kenapa Tha?” tanyanya lembut pada anaknya.


“Enggak apa-apa Ma, cuma minum beer doang koq,” kilah Putra sambil menyesap beer yang sudah dia buka dan berjalan meninggalkan dapur menuju teras. Dia tidak pernah mau merokok di kamarnya, sejak dulu dia selalu merokok di ruang terbuka.


“Kamu enggak bakal minum beer, kalau enggak sedang kalut, Mama hafal kamu Tha, walau kebiasaan itu baru Mama liat sejak kamu pulang dari London, tapi sebagai perempuan yang ngelahirin kamu, Mama bisa langsung tau kamu enggak lagi enggak apa-apa seperti ucapanmu barusan,” rupanya mamanya mengikuti Putra ke teras.


“Enggak tau Ma, Tha enggak bisa ngejelasin, Tha bingung Ma,” keluh Putra. Di rumah dia dipanggil Tha atau Utha. Bukan Put.


Putra benar-benar seperti terpuruk menghadapi penolakan Ririen. Dia merasa lebih buruk dari pada saat mengetahui perselingkuhan Ayu dengan Herman dulu. Sakitnya beda dan tak tertahankan.


Bu Rini tahu, Putra pernah terluka ketika SMA, dan dia juga tahu Putra pernah bilang ke Edy tidak bakal jatuh cinta lagi, bahkan tidak bakal nikah karena sudah sangat terluka oleh kelakuan Ayu.


Tanpa Putra tahu, bu Rini mendengarkan keluhan dan umpatan Putra yang ditujukan pada Ayu dan Herman saat habis terluka. Sejak itu kakek dan papa Putra tahu mengapa Purwanagara kecil mereka berubah.


“Cerita ke Mama, mungkin Mama bisa kasih kamu solusi, atau kalau pun Mama enggak bisa kasih solusi, setidaknya beban di dadamu berkurang, enggak bikin kamu sesak!” bujuk bu Rini pada Putra.


“Tadi di reuni A’a liat ceweq Ma, tapi dia sudah janda anak 3 dan sedikit lebih tua dari A’a. Entah kenapa sejak liat dia, A’a pengen banget jadi suaminya, pengen banget milikin dia. Tapi dia tadi nolak A’a,” keluh Putra sambil kembali meneguk beer nya.


“Ha ha ha, kamu lucu Tha, siapa juga yang bakal nerima orang yang baru ketemu langsung nembak. Dia pasti mikir kamu gila, apalagi kalau dia tau kamu jauh di bawah umurnya. Ya pasti dia langsung bikin pagar tinggi buat ngebentengin dirinya dari anak gila seperti kamu!” Bu Rini malah terkekeh dengan cerita anaknya yang langsung tak sabaran nembak perempuan yang baru di temuinya.


“Bener Ma. Dia juga bilang A’a gila,” sahut Putra mengingat ucapan Ririen sore tadi. Putra mengingat Ririen yaang langsung membangun pagar tinggi untuknya dengan berkata tak mau diantar dan tak akan berangkat kerja esok lusa.


“Apa tanggapan Mama tentang status janda beranak 3 dan usianya yang lebih tua dari A’a?” Putra tak menghiraukan ejekan mamanya.

__ADS_1


“Cinta enggak pandang usia dan status ekonomi atau status sosial, sejak dulu Mama enggak peduli soal itu. Kamu tau A’ Gilar juga dapat janda walau saat itu teteh Risye belum ada anak dan usia teh Risye enggak lebih tua darinya.” sahut Rini dengan sabar.


“Tapi sejak A’ Gilar bilang dia suka ama teh Risye dan mau serius ama teh Risye, apa kamu pernah tau Mama melarangnya? Mungkin di luar sana banyak orang tua yang melarang anaknya mendekati janda, tapi Mama enggak, kalau anak Mama sudah cinta dan mantap menentukan pilihan, Mama pasti akan dukung,” jawaban di luar perkiraan keluar dari mulut perempuan yang sangat Putra hormati.


Walau saat Gilar mendekati Risye, posisi Putra ada di London, tapi memang dia tak pernah satu kali pun mendengar keluarganya menolak Risye.


***


Kemarin kondisi sangat tenang, Putra tidak mengganggu Ririen dengan telepon atau menghubunginya lewat pesan. Lelaki muda itu sibuk briefing pegawainya tentang order terbaru mereka.


Dengan kaos polos dilapis kemeja dan tetap setia dengan sneakersnya dia bekerja full day. Dia melihat dua meja gambar insinyurnya, dan membahas detil yang ingin diperbaiki serta ditambahi. Dia juga meneliti data bahan baku yang sudah dikirim Hilman kakak sulungnya untuk proyeknya.


Putra sengaja mengalihkan semua kinerja otaknya pada pekerjaan, untuk menepis senyum manis dari perempuan yang sejak kemarin selalu berada di otaknya. Senyum manis yang membuatnya terpuruk karena pemilik senyum sudah menolaknya.


Pagi ini Putra tidak mau ke kantornya, sehabis sarapan dia tidak berangkat ke Duren Sawit lokasi kantornya, melainkan ke Cilangkap. Dia yakin Ririen pasti akan berangkat kerja walau bilang tidak akan berangkat.


Pukul 09.00 dia sudah di Cilangkap, kemarin Ririen bilang akan meeting sesudah makan siang, jadi pasti tak akan berangkat pagi-pagi sekali, maka Putra yakin saat ini dia belum terlambat.


“Wa’alaykum salam,” sahut asisten rumah tangga yang mendengar salam tersebut.


“Ibu ada Mbak?” tanya Putra, dia koq tidak mendengar suara Fajar dan Fajri ya, hanya di dengarnya tangisan Lesha dari kamar.


“Ada Pak, sedang ngegantiin baju Dede,” jawab si mbak.


“Silakan duduk Pak,” sopan si mbak membungkuk lalu berbalik badan menuju dapur untuk kembali melanjutkan menggoreng ikan, dia juga langsung membuat teh panas bagi tamu majikannya. Sehabis meletakkan teh dan pisang goreng panas di meja tamu, dia masuk ke kamar nyonyanya dan melaporkan ada tamu yang menunggu di depan.


Ririen keluar sambil menggendong Lesha dengan posisi diletakkan di bahunya sambil punggungnya di tepuk-tepuk ringan untuk memancing sendawa, rupanya Lesha baru saja minum ASI.

__ADS_1


Dilihatnya Putra sedang duduk manis di kursi ruang tamunya sambil membaca koran hari ini. ‘Ni anak keras kepala juga ya,’ pikirnya.


‘Gimana aku bisa menghindar darinya, wong aku mau berangkat jam 11 nanti.’


“Hai Put, ngapain pagi-pagi kesini?” tanya Ririen sinis.


“Mau ngantar nyonyaku meeting,” jawab Putra santai sambil tersenyum nakal dan menggoda Ririen dengan menaikan alisnya berkali-kali.


“Kalau aku berangkat sendiri gimana? Dan kalau aku enggak berangkat gimana?” Ririen memberi 2 option pada Putra. Dia tahu tidak mungkin tidak berangkat karena order yang akan ditangani merupakan order yang cukup besar, dan Tulus Silalahi sejak pagi sudah mewanti-wantinya agar tidak lupa membantu marketing yang dibawahinya.


“Enggak boleh berangkat sendiri, dan kalau kamu enggak berangkat aku akan stand by di sini hingga jam 4 sore.” Putra tahu bila dia bertahan sampai jam 4 sore Ririen tidak akan bisa pergi kerja.


Ririen masuk ke kamar, menaruh Alesha pelan-pelan di kasurnya. Lalu dia bersiap ganti baju kerja, hari ini dia memakai celana kain bekas celana hamilnya karena perutnya belum kembali ke ukuran semula dan dia juga masih memakai korset.


\=========================================


SAMBIL NUNGGU CERITA INI UPDATE, MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL BETWEEN QATAR AND JOGJA YA


 



\================================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2