
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
‘Aku enggak habis pikir ama kaum lelaki yang ngeduain istrinya dengan perselingkuhan. Sedang untuk melahirkan benih yang lelaki tanam saja dia telah memperjuangkan bertaruh nyawa. Apa para lelaki itu tak sadar, dia lahir dari seorang perempuan?’ pikir Putra.
“Dad, sini deh,” Ririen menarik lengan Putra agar lebih dekat dengan dirinya, karena saat itu Putra sedang mempersiapkan juice untuk Ririen.
“Kenapa?” Putra mengernyitkan alisnya bingung.
Ririen mendekatkan wajah Putra, menciumi pipinya. “Makasih udah jadi suami yang sabar buatku. Makasih udah jadi Daddy terhebat buat anak-anakku!” Ririen mengucapkannya lirih sambil terisak.
“Daddy marah lho kalau sekali lagi dengar Mommy sebut mereka anak-anakmu. Mereka bertiga itu anak-anak Daddy, sama dengan dede twins. Mereka semua anak Daddy, anak kita!” tegas Putra, dia tidak mau Ririen masih ketakutan dia akan membedakan anak-anak Ricky dengan anak-anak kandungnya.
“Jangan nangis ya cintaku, Daddy sangat-sangat bersyukur Mommy mau jadi belahan jiwa Daddy. Daddy yang makasih banget Mommy mau menerima cinta Daddy. Kedepannya kita akan selalu bergandengan tangan untuk membimbing mereka ya,” dikecupi wajah istrinya yang penuh air mata, kemudian dikecup lembut bibir istrinya sambil dipandangi mata Ririen yang sangat dekat dengan matanya.
Putra sudah mempelajari labilnya kejiwaan perempuan yang baru melahirkan. Dan ini juga bukan pertama kali dia menghadapi Ririen pasca melahirkan, karena saat pertama bertemu kembali Ririen baru 35 hari melahirkan Alesha. Saat itu juga Ririen terlihat sangat labil emosinya.
Saat Ririen sedang meminum juicenya Leoni merengek, rupanya dia pipis. Putra menggantikan popok dan alas tidur Leoni. Saat bersamaan suster masuk untuk mengontrol cairan infus.
Ririen memang diberi infusan untuk mempercepat recovery nya sebab sejak siang tidak bisa makan karena menahan sakit menjelang melahirkan.
“Ini di tambah suntikan yang membuat rahim kontraksi ya Bu, jangan kaget bila akan terasa sakit. Itu untuk mempercepat mengeluarkan gumpalan darah yang tersisa di rahim!” beritahu suster.
Putra tak bisa membayangkan kalau Ririen masih harus mengalami sakit akibat kontraksi lagi. Di persalinan sebelumnya perangsang kontraksi setelah melahirkan diberikan berupa pil kecil merah tua bukan berupa suntikan. Jadi buat Ririen itu bukan hal baru.
“Sekarang kamu bobo ya, biar enggak kekurangan tenaga,” bujuk Putra.
“Pengen bobo dipeluk” pinta Ririen.
Putra pun naik ke ranjang pasien, dia memeluk Ririen agar istrinya cepat terlelap. Ririen yang sangat lelah pun langsung tidur begitu merasa nyaman berada dalam pelukan suaminya tercinta.
__ADS_1
Pada ketiga persalinan sebelumnya hal ini tak pernah dia rasakan. Terlebih di persalinan Alesha, karena saat itu dia sudah jadi single Mom.
Tengah malam kembali Leoni merengek, Putra yang mendengarnya kembali bangun dan menggantikan popok serta kain alasnya. Sesudah itu dia mengecek Leona, ternyata dia juga ngompol hanya tetap anteng saja bobo tidak perduli.
Ternyata sejak lahir saja mereka sangat berbeda karakter. Benar kata Ririen, mereka dua individu yang berbeda dan beberapa kali Ririen sudah mengatakan tak akan membelikan mereka baju yang sama kecuali samaan untuk ber lima.
Ririen terbangun subuh, dia tak menyangka bisa lelap tanpa gangguan kedua bayinya, rupanya mereka belum bangun untuk menyusu ditengah malam. Namun dilihatnya popok basah di tempat popok kotor menumpuk.
Ririen yakin pasti Putra yang menggantikan popok mereka. Kembali air matanya menetes tanpa bisa dibendung, dia ingat Ricky tak pernah membantunya mengurus bayi mereka sejak masih di rumah sakit. Dia berupaya turun dari kasur untuk ke kamar mandi, dibawanya botol infus dengan hati-hati, dia ambil pembalut dan celana sebagai ganti.
Putra terbangun saat mendengar suara gemericik air di kamar mandi. Dia langsung berlari ke pintu kamar mandi, mengetuknya pelan “Bisa Mom, perlu bantuan?” tanyanya khawatir.
“Bisa Dadd, walau susah tapi bisa koq,” jawab Ririen menahan haru. Dia merasakan anak kecil yang awalnya selalu dia tolak cintanya ternyata lebih bertanggung jawab daripada Ricky yang usianya lebih tua dari dirinya.
“Daddy masuk ya,” pinta Putra sambil membuka pintu kamar mandi. Dilihatnya Ririen sedang kesulitan mengenakan celananya dengan satu tangan. Putra mengambil alih. Dibantunya Ririen mengenakan celana yang sudah diberi pembalut, lalu dipapahnya istrinya keluar kamar mandi.
“Nanti-nanti lagi enggak boleh bergerak sendiri ya, bangunin Daddy,” perintah Putra pada istrinya. Dia langsung membuatkan sussu ibu menyusui yang mereka bawa. Sekalian dia juga membuat kopi untuk dirinya. Diberikannya sussu hangat serta roti yang dibawakan ibu untuk sarapan mereka. Ririen bergegas mengisi perutnya, karena dia tau sebentar lagi kedua bayinya akan minta jatah dari dirinya.
***
“Adik Abang cantik-cantik!” Fajri berkata sambil memperhatikan dua bayi yang anteng tertidur di box nya.
“Aku juga cantik,” balas Alesha tak mau kalah.
“Adik Mas semua cantik!” jawab Fajar yang tetiba membiasakan dirinya MAS, bukan kakak lagi.
“Aku enggak cantik, aku ganteng Mas” protes Fajri yang tak rela dirinya dibilang cantik oleh Fajar.
“Princess Daddy super cantik!” Putra bicara sambil mengangkat Alesha dan menciuminya, dia tak ingin Alesha terluka saat kedatangan kedua adik perempuannya.
***
__ADS_1
Satu bulan sejak melahirkan Ririen mulai bikin stock ASI bagi kedua bayinya, persiapan saat dia mulai kerja nanti. Putra pun sudah special membelikan freezer kecil khusus ASI juga botol-botol sussu serta alat steril botol. Dia tak ingin kasus sakitnya Alesha saat bayi dulu terulang lagi.
Saat pulang kerja Putra melihat Ririen sedang pumping, memompa ASI nya untuk disimpan. Dia mencium kening istrinya lalu langsung masuk kamarnya untuk mandi. Sejak Alesha bayi dia tau Ririen melarangnya mendekati bayi bila pulang kerja sebelum mandi.
Sehabis mandi Putra ingin bercanda dulu dengan Alesha lalu menyapa kedua jagoannya. Di sruputnya teh panas serta menggigit kue lumpur yang disediakan Ririen. “Gimana tadi latihan pianonya Bang?” tanya Putra pada jagoan kecilnya.
“Tadi bukan jadwal piano Dadd, tadi jadwal gitar klasik” jawab Fajri yang sedang coret-coret not.
“Sekarang ‘kan hari Selasa, jadwal piano ‘kan?” kilah Putra.
“Ha ha ha hha haaa, Daddy, sekarang hari Senin,” jawab Fajar.
“Senin Kakak jadwal karate ‘kan?” Putra tak mau mengakui kesalahannya secara langsung.
“MAS Dad, Mas bukan Kakak! Iya Mas tadi latihan karate,” jawab Fajar sambil meralat panggilan daddy nya.
“Enggak A’a aja?” tanya Ririen menggoda kedua anak lelakinya.
“Enggak, enggak keren,” jawab kedua nya kompak.
\==========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : ENIS SUDRAJAT, DENGAN JUDUL NOVEL CINTA DIATAS PERJANJIAN YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta