
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Ya, pemilik rumah itu sekarang mengundangnya untuk main ke rumahnya kembali, wanita nan ramah dan cantik, ibu dari Putra, pemuda yang sudah tiga bulan ini mendekatinya.
“Maaf aku belum siap,” jawab Ririen lirih.
Mobil pas berhenti di muka pagar rumah saat Ririen menjawab seperti itu. Putra memegang jemari Ririen dengan lembut, diciumnya jemari tersebut, dia ingin Ririen merasakan kehangatan agar bisa mempunyai rasa percaya diri.
“Apa yang bikin enggak siap Mom? Kita bukan mau perang, dan mama udah kasih restu ke kita, enggak perlu ada yang diragukan!” Putra mencoba memberi pengertian pada perempuan yang sangat sulit dia raih hatinya ini.
“Kita bicara didalam ya, enggak enak dilihat orang kita bicara di mobil seperti ini,” Ririen melepas tangannya dari genggaman Putra dan langsung turun dari mobil. Putra mengikutinya, tak lupa membawa belanjaannya tadi.
Sehabis ganti baju dan menghapus make up nya Ririen keluar, anak-anaknya sudah tidur, saat ini sudah jam sepuluh malam. Dibuatkannya teh jahe untuk mereka berbincang, di pindahkannya satu kotak martabak telur dan satu kotak martabak manis ke piring. Dilihatnya Putra pun sudah berganti pakaian, dia menggunakan kaos yang seperti biasa selalu pas badan. Dan rambut gondrongnya rapih terikat.
“Di minum tehnya,” perintah Ririen sambil duduk di kursi panjang di ruang keluarga, dia sendiri mengambil martabak telur kesukaannya.
“Kenapa belum siap?” tanya Putra menyambung pembicaraan mereka tadi.
“Aku enggak tau maksud mamamu mengundangku!” jawab Ririen lugas.
“Ya buat mengenalmu lebih dekat ‘kan? Apa mama salah ingin mengenal calon menantunya?” Putra memberikan penjelasan lebih jauh.
“I see, enggak salah mama ingin mengenal calon menantunya lebih dekat! Tapi sayangnya calon menantunya itu bukan aku!” balas Ririen.
“Kenapa sih kamu enggak bisa percaya ama aku, aku harus gimana lagi ngebuktiin aku serius ke kamu?” keluh Putra.
“Sejak awal aku bilang, aku enggak ingin kembali tersakiti, aku enggak ingin kembali memulai hubungan, oleh karena itu aku mempersilakan kamu mundur bila emang masih mengharap aku untuk mendampingimu,” pinta Ririen.
__ADS_1
Trauma yang dia rasakan belum bisa dia tepis. Memang dia tak langsung melihat kelakuan buruk mantan suaminya sedang berbuat zina. Tapi dari sejarah kelakuan Ricky dia pasti bisa tahu semua gadis yang dia datang rumahnya pasti sudah dibobol oleh Ricky. Dia tak mau mengulangi berumah tangga lagi. Terlalu sakit luka yang dia alami.
Putra kembali menarik napas dengan berat, dia tahu Ririen tidak mungkin ditekan, luka yang perempuan ini miliki teramat dalam, dan Putra berjanji dalam hatinya, dia tidak akan menyerah atau putus asa.
“Udah malam, aku pulang dulu ya,” pamit Putra karena saat ini sudah hampir tengah malam.
Ririen mengangguk dan mengantarnya sampai pagar, karena dia harus mengunci pagar. Putra mencium kening Ririen dan memeluknya erat sebelum ke luar pagar. “Jangan ngebut, jangan mampir-mampir dan langsung tidur ya,” perintah Ririen.
“I will” jawab Putra, tumben nih dapat nasihat tidak boleh ngebut dan disuruh langsung tidur, kalau aja tidak diperintah, sebenernya Putra ingin merokok dan minum beer aja sampai rasa kantuk datang.
Sejak berhubungan dengan Ririen memang intensitas merokok Putra jauh berkurang, dia hanya merokok saat bekerja dan mencari inspirasi.
Jam dua pagi tiba-tiba HP Putra berbunyi nyaring, siapa yang menghubunginya tengah malam seperti ini? Dilihatnya id caller nya adalah ‘my future wife’, dia takut terjadi sesuatu, bergegas dia langsung menerima panggilan tersebut.
“Yes honey, what happen?” tanyanya cemas.
“Aku ganggu ya? Kamu udah lama tidur atau baru?” tanya Ririen dengan nada ragu.
“Aku besok ke rumah kamu jam berapa?” tanya Ririen lirih.
“Serius kamu mau ke sini? Aku jemput ya, jangan datang sendiri!” perintah Putra, dia bahagia Ririen mau memenuhi undangan mamanya, padahal sejak tadi dia berpikir besok pagi alasan apa yang akan dia berikan kepada mamanya.
“Aku bisa datang sendiri koq, enggak perlu repot-repot ngejemput aku,” kilah Ririen.
“Sekarang kamu bobo aja ya, istirahat, enggak usah bantah aku, aku aja enggak bantah kamu. Walau kamu enggak lihat apa yang aku kerjain sepulang dari rumahmu, tapi serius aku nurut koq disuruh langsung pulang dan bobo. Good night honey, met bobo ya, mimpiin aku!” Putra memerintah Ririen segera tidur.
“Night too” sahut Ririen dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
ARIENKA DEWI POV
__ADS_1
Mamanya memintaku datang, mamanya ingin lebih dekat mengenalku, bagaimana mungkin aku menerimanya, sedang aku bukanlah calon menantunya. Tentu tidak salah calon mertua ingin lebih mengenal calon menantunya. Putra memang benar mendekatinya, tapi aku belum menerimanya, artinya aku belum jadi calon menantunya. Bagaimana aku datang menemui perempuan yang bukan akan menjadi calon mertuanya?
Aku tak bisa tidur, kulihat Alesha, apakah bajunya basah karena ompol? Bayi cantikku itu masih terlelap, aku mengganti celana dan alas tidurnya. Sudah pukul 01.12 dan aku masih tetap belum bisa tidur. Apa yang akan Putra katakan pada mamanya besok pagi bila aku enggak datang? Aku akan membuat dua orang terluka, Putra dan mamanya
Apa besok aku datang aja ya, akan kukatakan sejujurnya kalau aku belum bisa menerima anaknya dan meminta pada bu Rini agar menyuruh anaknya mundur dari diriku. Iya, sepertinya begitu, aku katakan aja seperti itu.
Ku hubungi nomor telepon Putra, apa aku enggak ganggu ya? Kali aja dia lagi nge date ama teman ONS nya. Tapi kalau aku tidak menghubungi sekarang, gimana kalau dia sudah bilang ke mamanya bahwa aku tak bisa datang? Atau aku langsung datang aja tanpa memberitahu dia lebih dulu?
‘Ya ampun, teleponku sudah di angkatnya, terlambat aku tutup.’
“*Y*es honey, what happen?” kudengar suara bangun tidur dari ujung sana.
“Aku ganggu ya? Kamu udah lama tidur atau baru?” tanyaku.
“Sampai rumah aku langsung tidur koq, ‘kan tadi kamu nyuruh aku langsung tidur. Ada apa koq telpon tengah malam gini? Kamu sendiri enggak bobok hmm?” jawabnya.
Ya benar, tadi sebelum pulang memang aku basa basi memintanya langsung tidur, tapi aku tidak serius nyuruh dia buat nurutin semua perintahku ‘kan? Aku jadi ragu mau tanya, tapi niatku telepon ‘kan mau tanya besok aku di minta datang jam berapa.
“Aku besok ke rumah kamu jam berapa?”
“Serius kamu mau kesini? Aku jemput ya, jangan datang sendiri,” jawabnya cepat, aku mendengar rasa ragu bercampur bahagia disuaranya.
\=============================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta