WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
I’M VERY HAPPY TO HAVE BEEN A PART OF YOUR LIFE


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


Putra melihat pohon mangga sedang berbuah di lokasi yang sedang ditinjaunya, dia  meminta staffnya untuk membeli tiga buah mangga yang masih ada tangkai serta daunnya untuk oleh-oleh bagi istrinya.


Sore jam tiga Putra bisa selesai meninjau lokasi, dia langsung pulang karena saat ini Ririen sangat kolokan dan juga cepat tersinggung. Putra sampai lebih dulu lima belas menit dari kedatangan Ririen di rumahnya, dia sudah mandi dan sedang berbincang dengan Fajar dan Fajri di dalam kandang.


“Dad, atu mau main gital,” pinta Fajri.


“Ok, nanti habis makan kita mulai belajar gitar ya, besok kalau libur Daddy carikan gitar yang kecil untukmu,” janji Putra, dia senang bila anak-anaknya tertarik pada apa pun, dan dia akan mendukungnya.


Ririen ikut bergabung ke dalam kandang bersama Alesha, dia membawa pisang molen dan onde-onde yang dibelinya sebelum sampai ke rumah.


“Hallo sayangnya Daddy.” Putra langsung menerima Alesha dari tangan Ririen dan menciumnya dengan gemas, tadi Alesha dia tinggal karena sedang makan dengan mbak Yuni.


Ririen duduk disebelah Putra dan mencium pipi Putra, karena sejak dia masuk ke kandang Putra tidak menggubrisnya malah sibuk dengan anak-anak. Putra yang merasa bersalah langsung memeluk bahu Ririen dengan satu tangannya yang bebas serta menarik istrinya untuk dikecup puncak kepalanya, “I love you Mom, cape kah?” tanyanya.


“Enggak cape badan, cuma cape hati,” sungut Ririen.


“Kenapa?” tanya Putra lembut. Dia tak tahu kalau dia ‘salah’.


“Di cuweqin ama suami,” jawab Ririen sambil merengut.


“Udah dipeluk, udah cium masa dibilang dicuweqin sih cintanya Daddy,” goda Putra.


“Ya kan peluk dan cium karena Mommy cium pipi Daddy duluan, kalau enggak diduluin juga Mommy enggak dianggap” keluh Ririen.


“Ya udah, maaf ya cintaku, abis gemes ama princess Daddy, jadi Mommy ketutupan deh. Jangan cemburu ama kekasih Daddy ini dong?” pinta Putra.


“Tapi kalau malam enggak boleh cuweqin lho,” bisik Ririen, entah mengapa setiap malam dia inginnya ada dalam pelukan Putra. Libidonya saat hamil sangat tinggi. Dia selalu ingin berperang. Sedang Putra membatasi karena menurut dokter trisemester pertama rawan bagi sang bayi.

__ADS_1


Walau seringnya Putra tidak melakukan kegiatan bermain panas karena mengingat nasihat dokter, tapi selalu saja Ririen ingin dalam dekapan Putra. Dan nakalnya sering Ririen memancing mancing sehingga Putra sering tidak bisa membendung hasratnya.


“Iya cintaaaaaa, pasti Daddy akan peluk Mommy sepanjang malam,” janji Putra.


“Ayok keluar yok, jangan lupa cuci tangan pakai sabun dan Kakak bantu Daddy tutup meja dan kursi pakai plastik dulu. Abang beresin tempat makan kelinci dan balikin ke tempatnya,” perintah Putra. Sedang Ririen sudah keluar bersama Alesha membawa piring dan gelas kotor.


***


“Mom, tadi Daddy beli ini di lokasi yang Daddy tinjau, pemiliknya enggak mau dibayar karena tau buat Mommy yang lagi ngidam,” lapor Putra sambil memberikan tiga buah mangga yang masih lengkap dengan tangkai buah dan selembar daunnya.


“Makasih Honey, tapi entah kenapa aku enggak ngidam ya, beda waktu hamil Fajar dan Fajri, ada aja yang dipenginin, sebaliknya hamil Lesha super lemah. Dede-dede ini mah ngebo, makan mulu bawaannya,” cerita Ririen.


“Mungkin karena kondisi Mom, dikehamilan Fajar dan Fajri si baby minta attensi dari ayahnya, sedang pas Lesha dia sedih karena merasa sendirian. Nah sekarang dede-dede merasa enjoy karena Mommy tenang dan bahagia, jadi mereka santai dan lebih seneng makan aja,” begitu pendapat Putra entah dapat ilmu duga-logi darimana.


“Kayaknya gitu Dad, dede-dede ini kayaknya bosen kalau denger Daddy over posesive ke mommynya. Jadi mereka milih happy biar Mommy enggak dicerewetin Daddy,” kata Ririen sambil tertawa bahagia dan Putra langsung memijit hidung Ririen.


“Sakit Dadd,” rengek Ririen manja, yang disambut dengan ciuman lembut ke hidung dari Putra.


Dan Alesha pun ikut-ikutan memberi ciuman di hidung Ririen tapi membuat Ririen tambah terkekeh karena saat ini wajahnya basah oleh liur Lesha.


***


Siang ini Ririen kembali mengunjungi suaminya di kantor, entah mengapa sejak hamil dia senang sekali berkunjung ke ruang kantor Putra. Seperti biasa Ririen langsung menuju ruang kerja Putra di atas, memang semua ruang kantor ini selain ruang bagian keuangan tanpa pintu karena sejak awal Putra ingin tak ada sekat di kantornya.


Sayup-sayup Ririen mendengar Putra sedang berbicara dengan perempuan dengan menggunakan bahasa inggris. “I’m verry happy to have been a part of you life, even only for a momment. And I will never forget our sweet story,” suara perempuan berkata manis pada Putra.


Ririen tidak sanggup untuk lanjut ke atas, dia kembali turun, dan meninggalkan makan siang yang tadi dibawanya di meja sofa bawah, lalu dia segera melarikan mobilnya menjauh dari kantor Putra.


“Pak, ini tadi ibu datang, dia ke atas lalu turun lagi ninggalin ini,” lapor Yono memberikan makan siang yang Ririen bawa.


“Kapan? Udah lama belum?” tanya Putra kaget sambil mengambil ponsel-nya dan segera menghubungi nomor istrinya tapi tak mendapat jawaban.

__ADS_1


“Jane sorry, I must go home now, I promise call you when I hear about Charles,” Putra langsung menuju mobilnya.


Sepanjang perjalanan menuju rumahnya dia menghubungi nomor Ririen yang saat ini sudah tidak aktiv. Dia telepon ke rumah menanyakan istrinya sudah pulang atau belum.


Karena Ririen belum ada di rumahnya dia berbalik arah menyusul ke kantor Ririen. Putra menunggu dari agak jauh, memperhatikan apakah Ririen akan kembali ke kantornya.


Sesekali dia mencoba telepon ke nomor HP Ririen, juga bolak balik dia menghubungi nomor rumah menanyakan apakah istrinya sudah pulang atau belum. Putra super kalut. Dia ingat ancaman Ririen, tak kan pernah ada maaf untuk suatu pengkhianatan. Tak akan ada kesempatan ke dua!


Saat ini sudah jam empat sore, Putra menyalakan mesin mobilnya dan menuju ke rumahnya, karena dia berpikir Ririen tidak mungkin kembali ke kantor. Tapi dia salah perhitungan, saat dia beranjak pulang, mobil Ririen kembali ke kantor, rupanya sehabis dari kantor Putra tadi Ririen menuju kantor pusat Rawa Mangun sampai jam setengah empat.


“Sudah jam lima Mbak, kalau mau pulang duluan enggak apa-apa, biar saya lembur sendiri,” perintah Ririen pada mbak Atin bagian administrasi.


Sampai jam tujuh malam Ririen masih di kantor bersama pak Choiri, kepala administrasi kantornya yang sudah berumur lanjut.


“Rampung ya Pak, cocok semua datanya?” tanya Ririen.


“Sudah Bu, cocok dengan data yang dari Rawa Mangun,” jawab pak Choiri membereskan berkas. Karena sudah tua, pak Choiri tidak mau memanggil Ririen dengan sebutan Mbak Dewi. Dia tetap menyebutnya dengan sebutan BU.


“Ya sudah kita pulang Pak, jangan lupa besok datang lebih pagi karena Bapak bawa kunci kantor,” perintah Ririen.


***


\=====================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA :  RENI T, DENGAN JUDUL NOVEL  PERNIKAHAN RAHASIA SANG PRESDIR YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2