WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
UANG RUMAH JATAH ALESHA


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI. JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Saya tak ingin kalau saya dan istri tiada, ada perebutan harta. Saya tidak membagi waris pada anak-anak saya. Melainkan pada cucu-cucu saja.”


“Nah itu, saya dengar jatah cucu dari Shinta adalah sepertiga harga rumah ini? Kalau boleh tahu memang berapa harga yang akan dilepas untuk rumah ini?” pak Burhan seakan hanya bertanya sekilas. Bukan untuk membeli.


“Saya coba pasarkan 4,8 M. tapi akan saya lepas 4,5M lah. Itu semua langsung dibagi 3 secara rata. Saya dan istri tidak ambil satu rupiah pun. Kami akan hidup dari uang tabungan kami dan hidup di kampung. Ada rumah jatah istri saya yang bisa kami pakai untuk berteduh di hari tua,” balas pak Fuad.


“Wah lumayan tinggi juga ya. Tapi andaikan … sekali lagi andaikan, mantan istri Ricky yang langsung bayar jatah anaknya, anda akan kasih harga berapa? Saya dengar dia kaya raya ‘kan?” pancing pak Burhan pada besannya. Dia menyesap kopi yang terhidang untuknya.


“Iya, mantan menantu saya itu memang kaya. Walau bukan dari uang suaminya sekali pun, dia memang perempuan hebat,” pak Fuad malah memuji Ririen lebih dulu.


“Untuk Ririen, Dira atau Shintia, bila ingin menebus jatah anaknya, maka hanya perlu membayar 3M saja. Jadi jatah tiap anak hanya 1 M. Jadi bila Ririen akan membeli, dia hanya perlu membayar 1M pada Dira dan 1M pada Shintia.”


“Begitu pun Shintia, bila ingin membeli dia hanya perlu membayar 1M jatah Dira dan 1M jatah Ririen ” pak Fuad memberitahu besannya.


“Kalau begitu hari Senin pagi kita ke notaris Pak. Saya akan membayarkan jatah anaknya Shintia. 2M deal,” pak Burhan tidak menawar lagi.


Sejak satu minggu lalu dia memang sudah mengantungi uang untuk transaksi ini. “Notaris biar saya yang bayar!”


Ricky dan Fuad tidak menyangka, kalau Shintia lewat ayahnya akan membayar rumah dalam tempo secepat ini.


***


Seperti yang telah disepakati, hari ini pak Fuad dan istrinya bertemu dengan pak Burhan, Shintia dan Revan di kantor notaris untuk transaksi jual beli. Pak Burhan memberi waktu satu bulan pada pak Fuad untuk mengosongkan rumah itu.


Setelah menerima pembayaran pak Fuad dan istrinya langsung terbang ke Jogja untuk bertemu dengan Putra dan Ririen.

__ADS_1


“Saya ingin bertemu, saat ini saya sudah di Jogja,” pak Fuad berbicara dengan Putra. Sebulan lalu saat akan meninggalkan rumah Ririen, Putra memang meminta untuk menghubungi nomornya saja bila ingin berbicara dengan anak-anaknya.


“Bapak menginap di mana? Biar nanti malam saya dan istri akan menemui Bapak,” jawab Putra.


“Hotel Cempaka. Jalan Sosrowijayan,” jawab pak Fuad.


“Baik, akan saya khabari bila saya sudah berada disana,” Putra pun menutup sambungan telepon itu. Saat ini dia sedang bermain dengan si kembar.


Ririen pergi dengan Alesha dan tak mau membawa twins karena tak bisa konsen dengan Alesha bila ada twins. Mereka berdua tentu butuh pengawasan lebih besar daripada si kakak.


“Daddy, kenapa dia marah?” tanya Leona saat melihat induk ayam kate yang bersiap mematuk bila didekati.


“Dia takut anaknya diganggu,” jawab Putra. Sambil menjaga dua putrinya, lelaki itu menerawang jauh. Putra tak menyangka bisa berlabuh di pantai landai nan indah.


Menikah dan memiliki keluarga dengan janda beranak tiga tentu akan jadi masalah buat beberapa keluarga. Tapi tidak untuk keluarga besarnya. Mereka sangat menerima kehadiran Ririen dan tiga anaknya.


Keluarga besar Putra mendekap Ririen seperti mereka mendekap tiga menantunya yang lain yaitu  Risye dan Wiwied serta Tetuko. Tak ada perbedaan.


Ririen dan Putra pergi menemui pak Fuad setelah debat cukup alot karena Ririen malas berhubungan dengan mantan mertuanya itu. Sama seperti saat menerima dua sertifikat atas nama kedua anaknya.


Pak Fuad bilang : mohon terima saja. Bila kamu tak menginginkannya, kamu bisa berikan pada siapa pun. Dan saat itu Putra bilang, mereka wajib menerimanya. Soal nanti buat apa dan mau diserahkan ke siapa, itu urusan nanti. Karena nasib manusia tak ada yang tahu.


Dengan arahan Putra seperti itu akhirnya Ririen menerima dua sertifikat untuk kedua anaknya.


Tadi pun Putra banyak memberi masukkan pada Ririen, sehingga Ririen akhirnya tunduk pada Putra. Kadang Ririen berpikir, dan selalu tak habis pikir, mengapa anak kecil ini lebih dewasa dan lebih bijak dari mantan suaminya yang usianya lebih tua dari dirinya.


“Kita udah lama banget enggak makan kerang berdua ya Mom,” celetuk Putra saat melewati tenda penjual kerang rebus.


“Di Jogja sini ‘kan emang jarang penjualnya. Dan lagi apa bumbunya sama dengan yang biasa kita makan saat di Jakarta dulu? Aku belum pernah coba sih makan di sini. Nanti pas bawa anak-anak ke Jakarta, kita ajak mereka makan kerang rebus ya?” jawab Ririen.

__ADS_1


“Terakhir kita makan kerang saat masih pacaran ya?” Putra mengingat-ingat kapan terakhir mereka makan kerang rebus.


“Emang kita pernah pacaran?” tanya Ririen serius.


“Kamu tu datang-datang bilang cinta dan langsung minta aku jadi istri kamu. Kita bukan pacaran saat itu,” kilah Ririen meyakinkan Putra.


“Jadi … menurutmu, pacaran seperti apa?” tanya Putra juga serius.


“Pacaran versi aku, belajar kenalan karakter, saling share visi misi yang akan dituju. Bila hanya ingin dititik itu, hanya ingin pacaran maksudku,  ya enggak bakal share tujuan pacaran.Tapi kalau ingin serius, maka pasangan akan mulai bicara maunya ke depan bagaimana.” jelas Ririen.


“Dan kita tidak melalui tahap itu. Kamu ‘tu langsung mengarah ke pernikahan. Enggak pernah ngebahas nanti konsep rumah tangga kita bagaimana. Enggak pernah bahas rule di rumah tangga yang akan kita bina seperti apa. Konsep mendidik anak-anak akan seperti apa. Bahkan kamu enggak pernah tanya pendapatku atau discuss soal pengelolaan dana rumah tangga yang akan kita bina,” Ririen memberi pendapatnya.


“Ha ha ha, kebanyakan teori ya. Jadi dua kali pernikahanmu enggak pakai pembicaraan konsep yang akan dijalankan? Lalu kamu nyesal gitu? Bagaimana kalau sekarang kita mulai pacaran?” goda Putra.


Putra memang menjalani kehidupan berumah tangga dengan konsep learning by doing.


“Kalau kita pacaran sekarang. Pengenalan karakter seperti apa yang akan kita lakukan?” tanya Ririen sambil terkekeh pelan. Dan Putra pun juga ikut tertawa. Tanpa mereka sadari mereka telah sampai tujuan.


“Pak, kami sudah di lobby hotel,” Putra memberitahu pak Fuad. Tak lama terlihat pak Fuad dan istrinya keluar dari lift.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL   UNCOMPLETED STORY   YOK!  DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL   UNCOMPLETED STORY   ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2