
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA IN
\~\~\~\~\~
Sorenya Ricky langsung membawa Okta untuk kembali ke Jakarta dengan alasan besok dia kerja karena tidak mengajukan cuti. Dia tak ingin tinggal di rumah mertuanya.
“Kamu hanya boleh dua hari di rumah Papa. Setelah itu kamu harus pindah dan bawa istrimu. Sejak dulu Ririen saja tak pernah mau tinggal di rumah orang tuanya walau masih kuliah. Sudah berani memutuskan menikah harus berpisah rumah,” kembali Fuad mengultimatum putra sulungnya itu.
Fuad tahu sebelum bercerai saja Ririen bisa beli rumah dengan uang hasil keringatnya sendiri. Bisa beli mobil sendiri. Sekarang dengan tiga anak, Ririen baru ganti mobil karena mobil lamanya tak cukup karena di menggunakan dua pengasuh anak.
Dan anak-anaknya? Malah jadi parasit bagi dirinya dan istrinya. Mereka numpang makan dan tidur di rumahnya. Bahkan mobil Ricky adalah mobil yang dibeli bersama dengan Ririen dulu. Yang seharusnya jadi harta gono gini.
Seharusnya Ricky bisa membeli rumah kecil dengan uang hasil jual rumah yang Ririen berikan. Paling tidak uang itu bisa untuk DP membeli rumah BTN. Tapi entah kemana uang yang Ricky terima itu.
“Iya Pa,” sahut Ricky. Dia tahu papanya tak mau menerima aduan menantunya bila dia kembali berulah. Atau ada perselisihan antara mamanya dan Okta karena mereka berdua beda pendapat. Besok dia harus cari kontrakan bulanan.
***
Maka hari ini Ricky hunting rumah kontrakan bulanan. Dia juga membeli kasur tanpa ranjang serta alat dapur yang urgent saja. Tak ada dia beli mesin cuci atau kulkas. TV dia bawa yang ada di kamarnya. Begitu pula kipas angin.
Tepat hari kedua dari pernikahannya, Ricky dan Okta menempati rumah kontrakan mereka. Siska Mahendra membawakan dua pasang seprey dan kordeyn untuk anaknya. Setengah lusin piring makan, sendok serta gelas.
“Makan dulu Yank,” Okta menyiapkan makan siang di tikar. Karena mereka memang tak memilik kursi dan meja sama sekali. Bahkan kompor saja tak ada mejanya. Untuk tempat barang dan baju Okta membeli kotak plastik berwarna bekas buah. Dia atur pakaian miliknya beralas koran. Panci dan piring juga disimpan di kotak serupa hanya di kotak diletakkan di belakang. Dia juga baru membeli dua ember saja.
“Iya sebentar, aku masih tanggung,” Ricky sedang memasang antene TV di depan jendela. Setidaknya rumah tak sepi dan dia tak ketinggalan berita terutama tentang team bola favoritenya.
__ADS_1
Untuk Okta hidup di kontrakan seperti ini sudah sangat bagus. Karena sebelumnya dia tinggal di kamar kost bertiga temannya itupun beralas kasur busa super tipis. Hanya dua kali lebih tebal dari tikar plastik. Tak ada penyesalan dari dirinya. Dia sudah sangat bersyukur dan bahagia.
“Kamu masak apa Yank?” tanya Ricky. Panggilan yank untuk Ricky tak ada artinya. Pada siapa pun kata itu sering dia ucapkan. Hanya perempuan naif seperti Okta yang melambung mendapat panggilan YANK dari lelaki itu.
“Tadi aku belanja kesiangan karena baru pindah dan belum tahu warung sayur. Aku masak tumis tauge dengan oncom. Lalu lauknya tahu goreng dan ikan mujair goreng,” Okta memberitahu apa yang dia masak.
“Masih bagus kita sempat masak. Kalau harus beli matang kan boros,” jawab Ricky. Ricky akan memberi jatah istrinya uang belanja mingguan saja. Tidak seluruh gaji dia serahkan seperti saat dengan Ririen.
“Wah masakanmu enak Yank,” Ricky memuji masakan Okta, agar istrinya rajin masak dan tidak beli lauk matang.
“Serius? Ayank suka?” tanya Okta merasa tersanjung.
“Serius lah. Kamu is the best,” puji Ricky. Dan ujung-ujungnya sehabis makan siang, Ricky makan yang lain. Kalau soal itu Ricky tak pernah peduli status sosial. Yang penting dia menyebar benih.
***
Dia tidak suka Ririen menderita karena perbuatan perempuan yang sudah keluarganya bantu. Sebenarnya perempuan yang dipanggil bibi itu bukan keluarganya sama sekali.
Perempuan itu adalah janda dua batita yang dinikahi mang Jali, pegawai kakeknya. Mang Jali sudah dianggap keponakan oleh kakeknya karena sudah lama kerja sejak dia lulus SMP. Dua tahun sejak menikahi janda itu mang Jali meninggal saat akan berangkat kerja. Karena kasihan maka kakek melalui Hilman memberinya uang sekedarnya tiap bulan karena kasihan perempuan itu tidak ada income sama sekali.
Jadi kalau tak ada uang bulanan dari Hilman, maka si bibi tak punya penghasilan apa pun untuk bertahan hidup.
***
Sehabis salat Subuh, Ririen meminta Putra tidur di kamar anak-anaknya, agar mereka tidak kecewa. Jam enam pagi Putra membangunkan dua jagoannya untuk bersiap ke sekolah. “Mom, pagi ini biar Daddy aja yang antar mereka sekolah sekalian Daddy mau ke kantor nyelesein kerjaan kemaren ya. Tapi Daddy enggak jemput mereka, Mommy libur kan?” kata Putra saat sudah siap mengantar dua anaknya ke sekolah. Hari ini dia ingin ke rumah kakeknya dan dia sudah janjian dengan Hilman di sana.
__ADS_1
“Yeeeeaaay diantar Daddy,” teriak Fajar yang sedang sarapan. Sekolah anak-anak memang tidak libur di hari Sabtu. Saat itu belum umum sekolah libur. Hanya beberapa kantor swasta yang libur. Kantor pemerintahan saat itu juga masih enam hari kerja.
“Daddy berangkat ya, hari ini enggak ada rencana keluarkan?” bisik Putra saat mencium kening Ririen sambil menyerahkan Alesha yang berada dalam dekapannya.
“Enggak ada planning keluar rumah, pengennya merem aja sih, tapi nanti malam mau minta ama pacarku buat nge date, pengen makan kerang rebus. Semoga aja nanti pacar Mommy mau antar Mommy makan kerang,” kata Ririen.
“Wah Daddy doain pacarnya mau nganter Mommy ya? Daddy enggak bisa nemani Mommy karena Daddy lagi pengen ngelonin pacar Daddy dalam kamar aja,” Putra membalas godaan Ririen.
“Aduh sakit Mom!” pekik Putra karena perutnya dicubit Ririen dengan gemas.
***
“Ma, A’a mau ketemuan ama A’ Hilman di rumah kakek, pagi ini jam sepuluh” lapor Putra pada bu Rini.
“Kenapa, ada hambatan apa koq sampe minta persetujuan kakek, apa enggak bisa di putuskan ama papa aja?” tanya bu Rini heran.
“Ini yang bisa mutusin cuma kakek, tapi biar kakek nolak sekali pun A’ Hilman bakal mutusin sih, jadi ke rumah kakek cuma ngasih tau jalan yang kita ambil aja, bukan mau minta keputusan,” jelas Putra berbelit-belit.
“Kamu ‘tu ngomong muter-muter, Mama enggak ngerti,” kata mamanya.
\===========================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta