
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Kita paroan aja ya, biar Mommy bisa nyicipin semua, Mommy mau makan yang mana?” tanya Putra dengan lembut. Siapa pun yang mendengar akan tahu kalau pria ini sangat mengasih perempuan di depannya itu.
“Empek-empek aja,” sahut Ririen. Putra memberikan piring berisi empek-empek dan dia segera menyuapi Ririe satu sendok siomay.
“Don’t do like that” desis Ririen sambil menggeleng. Ririen belum siap menerima cemo’ohan orang. Sedang Putra tidak merasa bersalah atas perilaku yang dia lakukan.
“Why” bisik Putra. Dia bingung sendiri. ‘Kalau begini dia enggak jadi nyicipin siomay kan?’
“Nanti aja ya kita bahas di mobil, aku enggak mau ribut di sini” Ririen menjawab Putra pelan, lalu berpaling ke arah Wendy dan mengobrol dengannya.
Tak ada pembicaraan sejak mereka meninggalkan gedung resepsi. Keduanya masih sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Putra sebenarnya ingin menanyakan apa yang menyebabkan Ririen tak ingin memperlihatkan dia menyuapi saat di pesta tadi. Tapi dia ragu. Sedang pikiran Ririen dipenuhi dengan sosok gadis menor yang mengatakan akan kembali menarik Putra ke tempat tidurnya untuk mengulang kisah mereka saat SMA dulu.
“Put, kalau bisa mampir beli ayam goreng dan martabak telur ya,” pinta Ririen.
“Bisa enggak kalimatnya agak enakan dikit,” keluh Putra.
“Maksudmu?” Ririen bingung.
“Enggak usah pakai kata ‘kalau bisa’, bilang aja langsung : mampir beli ayam goreng dan martabak. Karena aku pasti bisa!” jelas Putra datar. Dia tak senang dengan penggunaan kata yang dipilih Ririen.
“Kamu koq kayak ceweq lagi PMS. Aku kan enggak tau kamu bisa atau enggak, siapa tau kamu keburu-buru, ‘kan mungkin aja tadi udah janjian mau ketemuan lagi ama lawan ONS mu dulu,” jawab Ririen santai.
“Are you jealous?” tukas Putra cepat.
“Are you kidding? Why should I be jealous of you? Aku cuma enggak mau jadi penghambat. Sudah ah aku cape debat ama anak kecil kayak kamu!” tukas Ririen. “Kita langsung pulang aja.” emosinya langsung tersulut dan dia ingin segera tiba di rumahnya.
__ADS_1
Putra menepikan mobilnya di dekat penjual ayam kampung goreng. “Mau beli apa aja Mom?” tanyanya lembut sambil menciumi tangan Ririen.
“Enggak jadi,” jawab Ririen ketus. Dia sungguh sudah tak minat membeli apa pun. Toh juga enggak urgent. Hanya karena sekalian lewat saja.
“Ya sudah, sabar sebentar ya, Daddy aja yang beli,” Putra membeli ayam, sate usus serta sate jerohan tanpa digoreng, karena dia tau biasanya Ririen beli lauk untuk besok, bukan untuk dimakan malam ini. Dia pun berjalan ke arah penjual martabak memesan dua martabak telur dan tiga martabak manis.
‘Benarkah laki-laki ini serius padaku? Dia begitu sabar menghadapi penolakanku. Tapi memang aku enggak sanggup berdiri disisinya, dia terlalu sempurna untukku,’ batin Ririen memperhatikan semua kegiatan yang Putra lakukan.
‘Bisakah aku mengimbangi cinta tulusnya? Tapi apa benar dia tulus? Apa sih motivasinya mendekati ku? Perempuan bekas orang, punya tiga orang anak dan enggak punya harta? Enggak mungkin kan dia cari kepuasan, karena dia bisa cari kepuasan dengan banyak perempuan bebas di luaran sana. Lalu apa dong motivasinya?’
Serasa sejuta palu menghantam kepala Ririen saat dia mencari apa jawaban dari semua pertanyaan itu di kepalanya.
‘Apa aku harus mulai membuka hati untuknya? Tapi itu enggak mungkin ‘kan? Enggak mungkin ada cinta diantara kami. Dan aku masih takut akan pengkhianatan dari seorang laki-laki. Aku enggak mau memulai untuk mencintai.’
Ririen melihat Putra menerima telepon sambil menunggu martabak pesanannya matang. Tak lama dilihatnya Putra berjalan menuju mobil. Diletakkannya semua belanjaan di kursi belakang. Sejak satu minggu lalu Putra sudah membeli mobil sendiri, tidak pakai mobil keluarganya lagi.
“Masih ada yang mau dibeli Mom?” tanyanya saat mulai menyalakan mesin mobil. Ririen hanya menjawab dengan gelengan kepala.
“Mom, tadi mama telepon, mama minta besok Mommy main ke rumah,” bak disambar petir Ririen mendengar pernyataan Putra barusan. Dia mengingat pertemuannya dengan bu Rini lima bulan lalu di resepsi pernikahan Wiwied dan Hilman. Dia juga ingat pernah dua kali main ke rumah Putra saat masih jadi gurunya, yaitu saat ambil kayu bakar untuk api unggun dan saat kumpul untuk mencicipi oseng kembang duren.
FLASH BACK ON
“Kata sandi buat ‘wide game’ nanti malam apa?” Ririen mendengar anak-anak asuhnya sedang diskusi program kegiatan Persami ( perkemahan Sabtu Minggu ) minggu depan, membahas route, petugas Pos, perlengkapan tiap Pos hingga reward yang akan diberikan bagi para peserta didik baru.Banyak kata yang mereka usulkan, entah siapa yang mencetuskan : gimana kalau KEMBANG DUREN aja, ‘kan pas musimnya nih, begitu lamat-lamat Ririen mendengar, dia sedang sibuk melihat data peserta yang akan ikut kegiatan Perkemahan Sabtu Minggu ( Persami ) disertai surat izin orang tuanya.
“Ih, makanan kesukaan aku tuh,” terdengar Lian memekik mengatakan kalau dia suka banget dengan masakan kembang duren. Ririen baru tahu kembang duren bisa dimakan, bahkan memperhatikan kembang duren aja dia tidak pernah. Dulu di kampus dia tak pernah praktek anatomi atau fisiologi tumbuhan dengan bahan praktek bunga durian.
“Seperti apa rasanya? Dan bagaimana memasaknya?” tanya Ririen penasaran. Akhirnya dia ikut bersuara karena penasaran.
“Enak Bun, biasa ditumis, pedes atau enggak terserah, tapi enak deh pokoknya,” kata Qiqy menimpali.
“Bunda jadi penasaran,” balas Ririen.
__ADS_1
“Gimana kalau besok kita coba bikin yok Bun, kapan di mana dan siapa yang punya bahannya?” Sanih antusias memprakarsai masak kembang duren.
“Kayaknya di belakang rumah gue lagi banyak deh kembang duren. Ke rumah aja kalau mau masak,” Putra menawarkan rumahnya sebagai tempat berkumpul.
“Ok tuh, besok jam sembilan pagi ya biar pas selesai masak, pas makan siang” seru Qiqy.
Esoknya Ririen dijemput Prayogi, untuk datang ke rumah Putra, Ririen membawa pepes ikan mas untuk lauk tambahan. Dia tidak tahu kalau pepes ikan mas adalah makanan kesukaan Putra.
Pemilik rumah sangat ramah menerimanya, dia belajar step by step mengolah kembang duren menjadi oseng yang sangat lezat.
Itu pertama kali dia bertemu dengan bu Rini, ibunda Putra. Tak pernah terpikirkan mereka akan bertemu lagi dengan posisi berbeda. Bukan sebagai guru dan orang tua siswa lagi.
Dan kedua ketika dia menemani Sanih mengambil kayu bakar untuk malam api unggun. Sedang Putra tetap di area perkemahan karena tak bisa meninggalkan arena.
FLASH BACK OFF
\==============================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL BETWEEN QATAR ANDA JOGJA YOK!
\==========================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1