
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Buah apa namanya Mbah?” Tanya Ririen melihat buah hijau kecil-kecil yang dijual perdompolan. Buah sangat kecil sebesar buah leunca.
“Ciplukan Den,” jawab simbah penjual.
Ririen mencoba buah ciplukan, buah yang tidak umum di makan masyarakat kota, di desa jenis tanaman ini liar dan banyak manfaatnya. Asem-asem manis dan dia suka. Lalu membeli dua ikat kecil saja.
***
“Makasih ya Ma, Ririen jadi ngerepotin Mama,” peluk Ririen saat tiba di rumah.
“Enggak ada yang direpotin, Mama suka koq. Kamu sehat ‘kan, enggak rewel ‘kan kandunganmu?” tanya bu Rini.
“Enggak Ma, mereka enggak nakal koq. Anteng aja dibawa kerja ibunya,” kata Ririen sambil tersenyum manis dan mengusap perutnya. “Ririen mandi dulu ya Ma, enggak kuat nahan gerahnya.”
Sehabis mandi Ririen membuka kopernya dan mengeluarkan batik yang sengaja dia beli untuk mamanya, Nuna, Wiwied dan Risye. Dia keluar kamar dan di ruang keluarga dilihatnya Fajar dan Fajri yang sangat senang membuka mainan kayu yang dia belikan.
“Ma, titip buat mbak Wiwied dan teh Risye ya?” pinta Ririen sambil menyerahkan empat bahan batik tulis halus untuk dibuat pasangan.
“Teteh ngejek Una nih, masa Una juga dapat yang buat ama pasangan, Una ‘kan belum ada pasangannya,” Aluna atau Nuna atau kadang Una merajuk menerima bahan yang Ririen berikan untuknya.
“Ha ha haaaa, itu untuk memotivasi kamu Un, biar segera lapor ke Mama, Teteh tau pasti kamu udah ada, cuma belum berani bawa ke rumah aja,” goda Ririen. Dia tahu Nuna sedang pedekate dengan seorang insinyur anak buah suaminya di kantor Putra.
“Ih Teteh mah gitu,” rajuk Nuna yang menjadi malu.
“Tuh ‘kan Ma, pasti dia udah punya tu,” goda Ririen lagi. Dan Rini bahagia karena walau sedang marah dengan Putra, Ririen masih saja manis pada adik dan kakak iparnya bahkan tetap membelikan semuanya oleh-oleh.
***
__ADS_1
Selanjutnya kehidupan rumah tangga Putra dan Ririen tetap seperti itu. Ririen hanya bicara pada Putra bila di depan orang atau anak-anaknya. Bila di telepon dia akan mengangkat dengan jawaban, hmm, ya, enggak, udah atau belum, tergantung pertanyaan yang Putra berikan.
Putra sampai putus asa, dia sudah meminta saran dari mamanya juga ibu mertuanya, tapi ke dua wanita yang Ririen hormati itu tidak ada yang bisa membuka hati Ririen untuk memberi maaf pada Putra.
Sudah satu bulan berlalu sejak kepulangan mereka dari Jogja. Selama itu Putra juga tak berani mememberi nafkah batin untuk Ririen. Dia takut istrinya marah dan berakibat fatal seperti ketika di Jogja dulu.
Sore nanti jadwal Ririen periksa kandungan, Putra sudah mengingatkankan sejak dua hari lalu. Ririen tak menjawab atau memberi penjelasan bagaimana mereka akan ke dokter, barengan dari rumah, atau ketemu di RS Yadika langsung.
Tentu saja Putra bingung, dia juga tidak ingin melewatkan perkembangan kedua anaknya. “Mommy enggak ke kantorkan? Nanti sore kita jadwal kontrol dede di rumah sakit,” Putra mencoba membuka percakapan pagi ini.
“Saya ada meeting di Rawamangun, nanti saya langsung aja ke rumah sakit,” jawab Ririen sambil mengambilkan sarapan untuk Alesha.
Putra diam tanpa membantah, dia tidak ingin anak-anak banyak mendengar nada datar dari mommy nya. “Kalian sudah selesai? Ayok kita berangkat, salim Mommy dan kiss dede Alesha dulu,” perintah Putra pada dua jagoannya.
“Hati-hati ya, jangan nakal di sekolah,” nasehat Ririen pada Fajar dan Fajri yang pamit padanya. Ririen mengambil tangan suaminya untuk di cium punggung dan telapaknya.
Dan Putra dengan lembut tetap mengecup kening serta puncak kepala Ririen.
***
Sore jam tiga Putra bersiap ke rumah sakit, dia meminta staff kantornya untuk ikut dengannya lalu membawa pulang mobilnya. Putra akan pulang dengan mobil Ririen saja.
Putra sampai lebih dulu dari Ririen, memang dokter praktik mulai jam empat sore, itulah sebabnya Putra sengaja datang sebelum waktu dokter praktik agar tidak membuat Ririen kesal.
Tanpa diduga, sosok penyebab Ririen marah besar malah ketemu di rumah sakit. Ya Jane, perempuan yang membuat Ririen naik pitam sedang ada di rumah sakit dan tanpa sengaja Putra dan Jane berpapasan.
“Hi Putra, how are you?” tanya Jane ramah.
“My news not good, since you came to my office, it’s been one month my wife doesn’t want to talk to me and doesn’t forgive me, especially when you call me at home” jawab Putra sambil menengok ke arah pintu masuk rumah sakit, dia tidak ingin Ririen kembali salah paham bila melihat dia sedang bersama Jane.
“I’m sorry Putra” Jane bersimpati sambil hendak memegang lengan Putra.
__ADS_1
“Don’t touch me and since now, if we meet any where, please pretend you don’t know me. I don’t want my wife to misunderstand again,” Putra langsung menjauhi Jane dan menuju poliklinik kandungan untuk menunggu istrinya di sana.
Pukul 03.50 Ririen baru sampai rumah sakit, rupanya sejak pagi dia sudah melakukan pendaftaran via telepon sehingga saat datang dia bisa langsung cek tensi dan berat badan. Sehabis itu baru dia duduk di sebelah Putra.
***
“Berat bayi bagus kenaikannya, detak jantung keduanya juga bagus dan terlihat mereka normal di usia tiga bulan ini. Ada keluhan Bu?” tanya dokter pada Ririen.
“Kenapa akhir-akhir ini saya sering kram perut?” tanya Ririen pelan. Sesungguhnya dia tak ingin mengeluhkan hal ini. Tapi dia juga takut bila kram perut membahayakan kedua bayinya.
“Hindari stress Bu! Kalau Ibu stress maka Ibu akan sering kram dan itu tidak baik bagi bayi Ibu,” jawab dokter sambil menuliskan resepnya dan menerangkan waktu minum obatnya, karena Ririen tidak mengalami mual maka dia hanya memberi vitamin serta penguat rahim saja untuk antisipasi sering kram perutnya.
“Ibunya dibantu agar tidak stress ya Pak, kehamilan ini ‘kan bukan yang pertama, jadi harusnya Ibunya lebih santai menghadapi kehamilan kali ini,” nasehat dokter untuk Putra agar benar-benar memperhatikan Ririen.
“Iya Dok akan saya tambah perhatian saya, memang istri saya sering memendam persoalannya sendiri tidak ingin berbagi, mungkin itu sebabnya,” papar Putra sambil melirik Ririen.
Keluar dari ruang dokter, Putra langsung memeluk Ririen dan mencium pelipisnya.
“Jangan dipendam sendiri lagi ya, Daddy sedih baru tau kalau Mommy sering kram perut. Sekarang kita tebus obat dulu lalu kita pulang bareng. Daddy enggak bawa mobil jadi biar Daddy yang bawa mobil Mommy ya?” Putra bersyukur ikut menemani Ririen periksa sehingga bisa tahu keadaan Ririen yang sering kram perut.
\==========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : NENG SYANTIK, DENGAN JUDUL NOVEL DENDAM CINTA SANG CASANOVA YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta