WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
OFF THE RECORD


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Aku koq nyium ada bau-bau apa gitu ya Mbak” goda Ririen pada Kasih.


“Wis tho, enggak usah godain, semoga aja deal order ini,” Kasih berkilah, tak ingin terjebak oleh dugaan Ririen, walau itu membuatnya sangat senang.


“Ok, aku akan korek sendiri di Bandung nanti kalau aku bisa berangkat ke Bandung,” lanjut Ririen dengan percaya dirinya.


“Yo wis. Aku  tutup yo,” Kasih menutup pembicaraan mereka.


Sudah hampir jam tiga sore saat Ririen menerima panggilan telepon dari nomor tak dikenal di HP nya.


“Selamat siang” sapa Ririen dengan sopan.


“Siang juga, dengan bu Dewi?” suara bariton disebrang sana membalas sapaan Ririen juga dengan sopan.


“Benar, dengan siapa saya bicara?” tanya Ririen selanjutnya.


“Saya Ilham temannya Kasih yang di Jogja, apa dia sudah memberitahu kalau saya tertarik dengan laboratorium bahasa yang anda pasang di yayasannya?” balas pria di ujung telepon itu lagi.


“Oh iya pak Ilham, ada yang bisa saya bantu?” tanya Ririen. Tentu dia senang karena telepon order ini memang yang dia tunggu sejak tadi.


“Saya ingin pasang juga tapi dengan kapasitas yang lebih kecil. Sekarang saya sedang on the way ke Jakarta, mungkin saya enggak menginap di Jakarta. Kalau habis maghrib apa bisa kita bertemu? Kalau tidak ‘kan membuat bu Dewi harus ke Bandung, padahal saya dengar dari Kasih anda sedang hamil,” Ilham meminta waktu untuk bertemu di luar jam kantor.


“Ok Pak, jam berapa dan di mana? Agar saya bisa atur waktu saya,” jawab Ririen pasti, jiwa marketingnya langsung meronta saat mendengar akan mendapat order lagi.


“Ibu tinggal daerah mana? Jauh tidak dari daerah Kalimalang?” tanya Ilham.


“Wah kebetulan dekat rumah saya, saya tinggal di daerah Duren Sawit Pak,” balas Ririen antusias.


“Baik bu, jam 5.30 saya kabari tempat bertemunya. Selamat siang,” Ilham memutus pembicaraannya. Lelaki itu tak berbasa basi. Benar-benar pebisnis yang to the poin saja.


“Mbak Tuti, saya pulang sekarang ya, habis Maghrib mau ketemu konsumen dari Bandung, tolong bawakan saya berkas promo laboratoriumnya,” Ririen langsung memerintah Tuti menyediakan berkas untuk bertemu dengan Ilham malam nanti.


“Lagi di mana Mas?” tanya Ririen langsung saat teleponnya diangkat oleh Putra.

__ADS_1


“Baru masuk kantor, habis ketemuan ama A’ Hilman, minta stock bahan bangunan. Ada apa Mom, tumben jam segini telepon Daddy.” Putra yang baru saja memarkir mobilnya di kantor menjawab telepon Ririen.


“Habis maghrib bisa temani aku ketemu dengan calon konsumenku dari Bandung? Sekarang aku on the way pulang buat istirahat dulu,” jawab Ririen sambil menyalakan mesin mobilnya.


“Ya. Mommy hati-hati ya, bentar lagi Daddy juga pulang aja deh biar bisa ketemu si kembar,” goda Putra.


“Mas, aku pulang biar bisa rehat lho, enggak mau cape,” Ririen menjawab sambil merajuk, dia mengerti apa maksud Putra bertemu dengan si kembar di perutnya. Dia sudah atur waktu agar tidak lelah, suaminya malah mau ambil keuntungan sendiri.


“Ha ha haaa, ‘kan cuma peluk dari luar aja,” goda Putra.


“Halah, kalau bilangnya mau ketemu tu enggak bakal cuma meluk, udah ya, rame ni jalannya, bahaya nyetir sambil telepon” Ririen memutus pembicaraannya.


Ririen benar-benar mengistirahatkan badannya, dia minta mbak Yuni dan mbak Surti menjaga anak-anak agar tidak masuk kamarnya.


“Daddy,” isak Alesha saat Putra pulang kerja sore ini.


“Koq Daddy pulang disambut tangisan ama princess Daddy yang cantik ini. Kenapa hmm?” Putra langsung menggendong Alesha yang memeluk betisnya.


“Mommy jahat, aku enggak boleh bobo ama Mommy,” Alesha mengadu tidak boleh mengganggu Ririen.


“Mommy cape sayang, sebentar lagi harus berangkat kerja lagi. Jadi Mommy mau bobo dulu sebentar ya. Mommy enggak jahat, cuma lagi pengen bobo sebentar. Sekarang mbak Alesha main dulu ya, biar Mommy enggak sakit, ” Putra membujuk sikecil yang sedih karena tidak bisa main dengan Ririen, dia membopong Alesha dan masuk kamar, memperlihatkan Ririen yang sedang tidur lelap.


“Mommy cape?” tanya Alesha sambil berbisik padahal mereka sudah di luar kamar.


“Iya sayang, Mommy cape,” Putra memberikan Alesha pada mbak Surti. Dia kembali masuk kamar, hanya berganti baju lalu keluar kembali memperhatikan dua jagoannya yang sedang membuat kreasi dengan hobbynya masing-masing. Fajar dengan permainan asah otaknya dan Fajri dengan serulingnya.


“Bikin apa Kak?” tanya Putra pada Fajar, sang putra sulung.


“Ini lho Dad, nyusun kata-kata, tapi kali ini aku pakai yang bahasa inggris bukan bahasa indonesia, bosen” jawab Fajar tanpa berpaling.


“Wah Daddy bisa kalah nih ama Kakak, Kakak rajin banget latihannya,” Putra memotivasi anaknya.


“Kalau Abang ngapain?” Putra pun tak lupa meng absen Fajri.


“Lagi coba-coba ubah tarikan nafas bikin bunyi suling tu jadi seperti apa Dad” jawab Fajri yang sedang eksperimen sendiri dengan sulingnya.


Putra meminum kopi yang tadi dia minta ke mbak Yuni, dia bahagia dengan kreativitas anak-anaknya yang tanpa disuruh selalu mencari kesibukan bermanfaat

__ADS_1


***


Jam enam sore sehabis salat Maghrib Ririen diantar Putra menuju lokasi yang ditentukan dengan pak Ilham.


“Dad maaf, tolong ambilkan berkas di mobil Mommy dong. Aku lupa kita pergi dengan mobilmu, bisa-bisa cuma ngobrol tanpa isi bila enggak bawa berkas-berkas itu. Tadi Tuti taruh di kursi depan,” Ririen meminta Putra untuk membantunya, dia hendak pamit dulu pada ketiga buah hati mereka.


***


“Selamat malam pak Ilham, salam kenal,” Ririen berjabat tangan dengan Ilham, dipandanginya pria mapan di depannya. “Kenalkan, ini suami saya.”


“Ilham.”


“Putra.”


Mereka duduk dan memesan minuman serta cake karena mereka bertemu di kedai coffe bukan di rumah makan.


“Jadi planningnya bagaimana pak Ilham?” tanya Ririen. “Bapak harus segera kembali ke Bandung, super sibuk, jadi kita langsung ke pembahasan saja ya,” tanpa basa basi Ririen langsung kemasalah pekerjaannya.


“Ha ha ha, enggak sesibuk itu juga sih, cuma saat ini aja ada sedikit urusan, ini juga ke Jakarta bukan berangkat dari Bandung, tapi baru pulang dari Jogja. Saya kebetulan mampir-mampir jadi saya pikir lebih praktis bawa mobil sendiri,” jawab Ilham sambil nyeruput kopinya.


“Saya butuh kapasitas 20 seat aja untuk laboratorium bahasanya, enggak seperti yang Kasih miliki, tapi saya butuh tiga unit. Ibu bisa kasih saya special price enggak?” tanya Ilham langsung.


“Ha ha ha, kayaknya kalau ke mbak Kasih special ya Pak, sampai enggak pakai embel-embel bu atau panggilan lainnya,” goda Ririen.


“Hush ,off the record, ” Ilham menjawab cepat. Dia terpana kenalan baru ini berani menggodanya.


\===============================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA :  TIKA PERMATA, DENGAN JUDUL NOVEL  SANG PELAKOR  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya 

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2