
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Morning mas Fajar, sudah siap berangkat ya jagoan Mommy?” sapa Ririen lembut.
“Sudah Mom, tinggal tunggu Fajri,” balas Fajar.
“Morning all, aku sudah siap koq, enggak perlu ditunggu,” jawab Fajri yang baru saja keluar kamarnya.
“Morning Mom, hallo Sons, siap berangkat?” sapa Putra yang memasuki ruang makan sambil menggendong Alesha, dia menghampiri Ririen dan mencium kening istrinya.
“Kenapa Princess Daddy digendong gitu?” tanya Ririen yang melihat Alesha berwajah sedih digendongan suaminya.
“Ban sepedanya pecah, enggak bisa dipompa lagi, jadi harus ganti ban dalam baru, dia maunya sekarang. Daddy bilang saat ini toko sepeda belum buka, Daddy sudah bawa ban dalamnya untuk dibelikan yang baru sepulang kerja nanti,” jelas Putra sambil menciumi pipi Alesha.
“Ya sudah, semua sarapan dan cepat berangkat biar enggak terlambat. Daddy kopimu jadi enggak diminum deh,” keluh Ririen. Mereka sarapan sambil bercerita, Ririen merasakan cinta Putra tak pernah berkurang pada anak-anaknya walau sudah ada baby twins.
“Mom, nanti Daddy mau ketemu A’ Gilar, ada klien yang butuh bantuan hukum karena tanahnya sengketa waris, jadi Daddy enggak bisa makan siang bareng ya,” beritahu Putra mengenai jadwal kerjanya siang ini.
“Enggak apa-apa Dadd, kayaknya Mommy juga bakal sibuk, tadi anak kantor sudah SMS, kalau rapat besok diajukan hari ini karena owner akan berangkat umroh,” jawab Ririen sambil meminum hot milk chocolatenya.
Ririen bersiap mengambil tas dan HP nya, dilihatnya isi tasnya, karena kadang dia lupa memindahkan dompet saat ganti tas. Diletakkannya tas dan kunci mobil di meja ruang tengah.
Ririen mendekati Leona dan Leoni yang baru saja selesai dijemur dan sedang dipakaikan baju oleh asisten rumah tangganya. Ririen tak mau pakai jasa baby sitter, dia lebih mempercayai para asisten rumah tangganya yang lebih menang pengalaman daripada teori.
Putra menambah satu orang personal saja, itu pun ibunya yang mencarikan, sebenarnya Putra meminta dicarikan dua orang, tapi hanya satu yang bisa didapat oleh ibu.
“Gadis-gadis Mommy sudah cantik ya?” sapa Ririen pada kedua anak gadisnya.
“Mommy berangkat kerja dulu ya, kalian enggak boleh rewel,” pesan Ririen sambil mencium kedua anaknya puas-puas. Walau rasanya ada sedikit rasa tak puas menyerahkan pengasuhan anak-anak ke orang lain, tapi dia belum siap untuk menjadi ibu rumah tangga 100%.
Kadang Ririen pengen bisa handle semua seperti saat bayinya Alesha, tapi semua itu sudah tak akan mungkin, Putra semalam sudah memberi pengertian, saat bayi Alesha dia hanya mengurus dua jagoan saja dan mereka juga belum terlalu komplex seperti saat ini.
Saat ini selain sekolah, dua jagoannya sibuk dengan les dan aneka kegiatan yang mereka pilih yang tentu saja membutuhkan pemikiran dari dirinya serta suaminya.
__ADS_1
Ditambah lagi dengan kebutuhan Alesha yang sangat perlu attensi lebih banyak dari Putra dan Ririen, mereka tak mau Alesha merasa tersisih dengan kehadiran dua kurcaci kecil yang sama-sama perempuan.
Beruntungnya dia mempunyai suami super sabar, suaminya adalah anak kecil yang berpredikat hot daddy. Laki-laki yang usianya jauh dibawahnya tapi tingkat pemikirannya lebih jauh dari Ricky yang usianya jauh diatasnya.
Ririen sangat ingat perkataan suaminya ketika dia mengeluh kalau dia sudah sangat kekurangan waktu untuk anak-anaknya : “Daddy enggak pernah maksa Mommy atau memberi pilihan ke Mommy, karena Daddy tau Mommy tau mana yang terbaik untuk semuanya! Semua keputusan ada ditangan Mommy.”
Ririen ingat entah pernah baca dimana kalimat : [d**an dibuatlah kamu patah hati oleh Allah, demi menyelamatkanmu dari orang yang salah**.] Ririen merasakan kalimat itu pas dengan dirinya, yang terpaksa terluka sangat perih untuk mendapat kebahagiannya yang sekarang.
Ririen berangkat kerja setelah semua dia anggap sudah clear, dia menjalankan mobilnya santai sambil mendengarkar lagu-lagu manis dari tape yang dia putar, dia suka lagu lawas. Kali ini dia mendengarkan lagu ENDLESS LOVE dari Lionel Richie dan Diana Ross
And your eyes
Your eyes, your eyes
They tell me how much you care
Ooh yes, you will always be
My endless love
Tanpa sadar Ririen ikut mendendangkan lagu tersebut.
Memang bila ingin mie instan Ririen memakannya diluar rumah, karena dia tak ingin memperkenalkan anak-anaknya dengan makanan instan. Dan orang dapur di kantornya tau mie pesanannya adalah kuah sedikit ditambah sawi serta irisan rawit selain telor setengah matang tentunya.
“Mbak Tuti, jadi kita meeting hari ini? Lalu jadwal dengan lima jagoan bagaimana? Pak Petrus serius jadi pindah ke Medan? Dengan posisi sama?” cecar Ririen pada sekretarisnya pagi itu.
Tuti yang sudah terbiasa mendengar pertanyaan beruntun hanya menunggu ibu boss nya itu menutup mulut tanda rentetan pertanyaannya sudah selesai dia muntahkan.
“Meeting di jadwalkan jam sebelas siang ini karena jam ishoma dibuat jam satu siang Mbak. Jadwal meeting dengan lima jagoan neon masih lusa habis maksi, walau pasti habis meeting tetap pada minta makan.”
“Pak Petrus memang mengajukan pindah cabang karena bapaknya memintanya dia mengelola kebun karetnya, sehingga dia tidak butuh naik menjadi BM. Namun juga tak berani gambling tanpa kerjaan, begitu rumors yang saya dengar.”
“Calon pengganti pak Petrus kemungkinan mbak Lydia, marketing dari cabang Monginsidi, tapi nunggu mbak Dewi sempat lihat kinerjanya,” lapor Tuti yang juga marathon menjawab pertanyaan Ririen tadi.
“Kalau begitu saya minta data hasil kerja Lydia, serta panggil dia besok jam sebelas untuk nemuin saya!” perintah Ririen.
__ADS_1
“Saya makan dulu baru kita berangkat ke Rawamangun ya,” sambungnya lagi saat melihat mie rebus pesanannya sudah datang.
***
“Yes Honey,” sapa Ririen saat menjawab panggilan telepon dari suaminya.
“Lagi di mana?” tanya Putra.
“Masih di kantor, kenapa?” tanya Ririen.
“Ya sudah, sebentar lagi aku mampir ke situ” jawab Putra lalu dia menutup sambungan telepon dengan istrinya.
Ririen baru saja menyuap mie nya ketika Putra sudah masuk ruangannya.
“Kamu tu tadi telepon aku udah sampe mana sih?” tanya Ririenn penasaran.
“Lagi mau masuk parkiran kantormu,” jawab Putra sambil nyengir. Dia mencium kening istrinya dan memberikan bungkusan yang dia bawa.
“Apa ini Dadd?” tanya Ririen menerima bungkusan yang suaminya berikan.
“Ganjel perut buat busui ( ibu menyusui ),” sahut Putra sambil menerima suapan mie yang disodorkan istrinya ke depan mulutnya.
“Makasih ya cintaku,” bisik Ririen melihat aneka kue basah dari bakery terkenal yang dia sukai.
“Emang Daddy darimana koq bisa beli jajanan ini?” lanjut Ririen sambil kembali menyuapi suaminya.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNCOMPLETED STORY YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta