
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Sekarang gantian Ririen dan Alesha yang belanja, Putra serta dua jagoan menikmati es krim durian serta menemani dua gadis kembar yang sibuk mewarnai. Memang Ririen memberi mereka buku dan crayon agar tak bosan.
Untuk belanja pakaian Leona dan Leoni, Ririen membawa sebuah baju dan sepatu milik si kembar untuk ukuran. Walau sehari-hari dia tahu ukuran badan kedua putrinya, tetap saja saat membeli sering hanya pas badan. Padahal Ririen selalu berprinsip beli untuk anak seumuran twins harus minimal satu nomor diatasnya agar awet, karena pertumbuhan mereka sangat cepat.
Rupanya biar enggak kekurangan, prinsip emak-emak irit tetap diterapkan oleh Ririen ya.
‘Mom, jangan lupa beli pakaian untuk dirimu!’ perintah Putra lewat chat. Sejak tidak bekerja Ririen memang malas beli pakaian untuk dirinya. Fokus tiap belanja hanya untuk anak-anak dan suami. Itu sebabnya Putra mengingatkan istrinya. Ririen tak membalas. Dia langsung memasukkan kembali ponselnya ke tas kecil yang dia kenakan kali ini.
Tak butuh waktu lama, Ririen dan Alesha sudah selesai belanja. Ririen belanja hanya sekedar kenang-kenangan beli baju di Bandung. Karena dia pikir pakaian anak-anak perempuannya masih cukup.
***
“Yeeeeeay …,” Alesha bersemangat saat mereka akan menuju rumah makan yang sekaligus juga lokasi wisata kebun strawberry.
Putra melajukan mobilnya. Saat berangkat tadi dia sudah melihat rumah makan yang hendak dia tuju. Sehingga tak perlu mencari-cari lokasi lagi.
Ririen memberikan ketiga anak gadisnya keranjang kecil sebagai tempat buah strawberry yang akan mereka panen. Keranjang ini memang sudah disediakan oleh pengelola rumah makan.
“Kakak -Leona- dan adek -Leoni- lihat ini ya, yang boleh dipetik yang sudah besar dan merah seperti ini. Yang pink tidak boleh dipetik!” Ririen tentu harus memberi tahu kedua gadis kecilnya agar mereka bisa membedakan mana buah strawberry yang bisa mereka panen.
Fajar dan Fajri membawa keranjangnya masing-masing dan Putra sibuk mengambil foto kegiatan anak-anak dan istrinya.
Ririen mengikuti langkah Leona dan Leoni, sedang Alesha sudah bergabung dengan Fajar. Fajri berjalan sesuai kemauannya sendiri. “Mas, jagain Alesha ya,” pesan Ririen pada anak sulungnya.
“I will Momm, don’t worry!” tanpa diminta pun Fajar selalu perhatian pada semua adiknya. Jiwa ngemongnya sebagai anak sulung sudah mengakar sejak kecil.
“Mommy, Kakak bisa langsung makan buah ini?” Leona memperlihatkan buah yang sudah dia petik.
__ADS_1
“Boleh sayang, tapi lebih bagus jika kita cuci dulu ‘kan?” Ririen tak langsung melarang anaknya. Hanya memberitahu bahwa ada yang lebih baik untuk dilakukan sebelum mereka memakan buah hasil panen itu.
“Aku cobain satu aja. Selebihnya nanti aku makan sesudah dicuci,” tetap saja Leona tak mau langsung menurut perkataan mommynya.
“Iya boleh koq,” jawab Ririen. Dia hafal sifat melawan yang dimiliki Leona, putri kecilnya ini. Leoni berbeda, gadis kecil itu akan menurut semua perkataan orang yang lebih tua.
“Wah mbak Alesha sudah dapat banyak ya?” Ririen melihat keranjang Alesha yang sudah lumayan banyak. Dan perempuan terbesar dari tiga anak gadisnya itu benar-benar memilih hanya strawberry yang besar. Walau banyak strawberry merah yang dia lihat.
Seperti biasa Putra meminta semua anak dan istrinya berpose, selain yang dia ambil secara candid. “Adek, suapi Kakak dan Kakak buka mulutnya jangan terlalu besar. Nah seperti itu. Tahan!” Putra mengarahkan kedua anak kembarnya.
“Mbak, gigit ujungnya lalu pasang muka asem,” kali ini Putra meminta Alesha bergaya dengan mimik seperti keaseman makan buah strawberry.
“Sudah yoook, mau makan enggak?” tanya Ririen pada kelima anaknya. Sekarang sudah lewat dari jam dua siang. Itu sebabnya tadi Ririen berbekal roti, sebagai ganjal untuk perut anak-anaknya.
Ririen memperhatikan aneka menu di rumah makan ini. Dia memesan nasi lemak strawberry, nasi goreng strawberry, sebagai penutup dia memesan ice cream strawberry dan puding strawberry.
Untuk di villa Ririen membeli bolu strawberry. Dan untuk dibawa ke Jogja tentu tak lupa dia banyak membeli selai strawberry kesukaannya.
“Gimana Mbak Alesha? Suka ama nasi strawberry nya?” Putra mencoba minta pendapat Alesha soal kuliner yang sedang mereka coba kali ini.
“Tapi kalau puding dan es krimnya memang rasa strawberrynya lebih nendang daripada kalau beli tempat lain. Mungkin karena disini pakai sari buah asli sedang ditempat lain pakai essence,” Fajar menyumbang pendapatnya.
“Bener Mas, karena disini pakai yang asli ya?” Fajri pun sependapat dengan kakaknya.
Itulah pola asuh Putra. Semua dia ajak untuk berpendapat tanpa ragu. Walau masih seusia Alesha. Karena memang semua harus dibentuk sejak dini.
“Ada yang mau nambah?” tanya Ririen saat dia hendak membayar semua yang mereka makan siang ini.
Semua tak ada yang menjawab karena cukup kenyang.”Kalau begitu kalian masuk mobil dan kita kembali ke villa. Habis salat Ashar langsung istirahat ya biar nanti malam bisa bebakaran,” Irhan meminta pasukannya masuk ke mobil.
“Mom, apa boleh beli pohonnya?” tanya Alesha.
“Agak ribet bawanya Mbak. Bagaimana kalau kita coba semai dari bijinya aja?” tanya Ririen dengan bijaksana.
__ADS_1
“Oke Mom,” sahut Alesha.
Fajar membawa bolu dan buah strawberry hasil panen mereka tadi. Fajri membantu dua adik kecilnya masuk ke mobil. Dari jauh Putra dan Ririen memperhatikan kelima anak mereka yang saling sayang tanpa perlu disuruh. Putra menggandeng tangan istrinya erat. Selalu dia mengucap syukur Allah memberi Ririen sebagai pendamping hidupnya.
“Alhamdulillaaaaaaaah,” Ririen langsung mengucap syukur ketika Putra memarkir mobil di depan villa. Tanpa disuruh kelima anaknya turun dengan membawa barang-barangnya. Sisanya nanti Ririen dan Putra yang menurunkan.
“Ini kunci villanya Bang,” Ririen memberi kunci pada Fajri. Dia sendiri menurunkan semua barang agar tak ada yang tertinggal.
Ririen langsung mengeluarkan udang dan sate kelinci dari freezer agar nanti malam siap dibakar, kemudian baru dia masuk kekamarnya untuk salat dan rebahan. “Mas, mau mandi?” tanya Ririen pada suaminya. Dia menyiapkan baju ganti untuk Putra walau suaminya belum menjawab.
Selesai salat Ashar Ririen langsung melihat sikecil yang tertidur di depan televisi. Melihat keduanya tertidur Ririen langsung kembali masuk ke kamarnya dan dia merebahkan tubuhnya. Tanpa bisa ditahan Ririen tertidur.
“Dadd, Aku ngantuk,” Alesha lapor pada Putra, dia melihat kedua adiknya tertidur di depan televisi. Dan sang ibu sudah tidur di kamarnya.
“Mau ikut bobo di depan tivi sini apa dikamar?” tanya Putra sambil menggendong Alesha.
“Disini aja.” Alesha menunjuk kearah dua adiknya.
“Oke, ayok kita ikut tidur dikarpet dekat kakak dan adek,” Putra membaringkan Alesha di sebelah Leoni.
Putra menepuk paha Alesha pelan agar cepat tertidur seperti adik-adiknya. Tanpa bisa dicegah, Putra pun ikut tertidur bersama Alesha. Udara dingin kota Bandung ditambah lelah dan perut kenyang memang faktor utama mereka semua terlelap. Bahkan Fajar dan Fajri yang awalnya hanya ingin membaca sambil menunggu waktu salat Maghrib tetap ikut tertidur dikamar mereka.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta