WANT TO MARRY YOU

WANT TO MARRY YOU
PUTRA BERTEMU AYU


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Mom, Abang dan Mas mau bicara sebentar,” kata Putra sambil memberikan telepon genggamnya pada Ririen.


“Ya gantengnya Mommy,” sapa Ririen dengan lembut.


“Enggak apa-apa sayang. Mommy sudah enggak  kerja jadi kalian bisa telepon, kemarin Daddy bilang enggak boleh ganggu Mommy ‘kan karena Mommy masih kerja,” jawab Ririen lembut.


Andi yang mendengar interaksi anak dan kedua orang tuanya hanya bisa melongo.


“Maaf mengganggu,” pinta Putra.


“Kemarin saya melarang anak-anak telepon ke Mommynya kalau bukan Mommynya yang menghubungi lebih dulu. Maka pagi ini anak-anak menelepon ke  saya, karena mereka tau setiap Mommynya kerja saya bertugas jadi satpam yang menjemputnya.” kata Putra menjelaskan, dibalas dengan cubitan di lengannya oleh Ririen.


“Sakit Mom,” kata Putra sambil meringis.


“Kalau satpammya sesukses pak Putra rasanya bayarannya gede bangeeeet ya bu Dewi?” goda Tuti.


“Iya Tut. Tiga kali gaji dan komisiku aja enggak cukup untuk bayar satpam sekelas dia” jawab Ririen.


***


Saat ini bulan terakhir Ririen bekerja, sepulang dari Makasar dia masih dapat order di Bogor, Cimahi serta Jakarta. Sekarang dia bersiap untuk order terakhirnya yaitu Surabaya, lebih tepatnya Sidoarjo.


Saat akan berangkat Tuti dan Ririen sama-sama habis flu, sehingga awalnya mereka ragu untuk berangkat. Namun karena hanya jarak dekat, masih di pulau Jawa, mereka berdua nekad berangkat. Ibarat tumbu ketemu tutup kalau pepatah Jawa, Tuti dan Ririen memang team yang solid dan saling melengkapi.


Siang ini mereka berada di bandara SOETA, kali ini langsung bersama dengan manager produksi. Team produksi sudah berangkat dua hari lalu lewat darat karena sekalian membawa peralatan.


Malam pertama di Surabaya, Tuti ngajak makan rujak cingur. Namun Ririen lebih suka berburu bebek panggang. Pak Mulyadi manager teknik  hanya manut saja, karena dia juga tak enak bila makan sendirian di kota yang asing baginya.


Sehabis makan Tuti mengusulkan mereka ke Tunjungan Plaza, biar punya kenangan pernah merambah lokasi yang fenomenal bagi orang luar Surabaya.


“Bundaaa …,” sapa seseorang pada Ririen.


“Hai, Ayu ya?” balas Ririen, dia tidak pangling wajah bekas anak didiknya, walau sekarang tubuh Ayu sudah tiga kali berat waktu di SMA dulu. Wajah Ayu masih manis sesuai namanya, hanya badannya saja yang sangat melar.


“Bunda sama siapa di sini? Nginep di mana?” tanya Ayu.

__ADS_1


“Sama team kantor, nginap di hotel Puspita,” jawab Ririen.


“Wah hotel besar, gampang nyarinya, sampai kapan di sini Bun?” tanya Ayu.


“Sampai kapan Mbak?” tanya Ririen pada Tuti untuk memastikan.


“Semoga lusa selesai, jadi hari berikutnya bisa pulang, kecuali pak boss ngejemput Ibu seperti biasa dan ngerubah jadwal kepulangan Ibu semau dia,” jawab Tuti santai.


“Kalau begitu lusa malam kita ketemuan ya Bun, aku kangen. Herman dinas di PT KAI sini, jadi kami tinggal di sini” kata Ayu.


“Ok, lusa malam jam tujuh kita ke cafe depan itu ya?” Ririen menunjuk cafe seberang mereka bicara saat ini.


Alhamdulillah kerjaan lancar, dua hari kerja semua yang harus Ririen tangani sudah selesai, tinggal pengerjaan fisik saja. Ririen bersiap untuk bertemu dengan Ayu dan Herman.


“Tumben pak boss enggak nyusul Mbak?” tanya Tuti saat mereka baru saja keluar hotel menuju cafe tempat mereka janjian.


“Biarlah, toh besok kita pulang. Rencananya besok kita ke mana untuk isi waktu?” tanya Ririe.


“Ke mana ya Mbak? Hunting kuliner rasanya udah enggak, apa kita hunting baju anak-anak aja?” usul Tuti.


“Boleh juga tuh,” sahut Ririen sambil mencari tempat duduk di cafe yang sudah mereka tentukan.


Tak lama Herman dan Ayu datang, mereka cerita sudah dua tahun tinggal di sini. Sebelumnya mereka tinggal di Purwokerto. Mereka juga cerita anak mereka baru satu sudah seumuran Andre.


“Hallo Dadd” sapa Ririen gugup.


“Kamu di mana Honey?” tanya Putra.


“Lagi makan malam ama mbak Tuti dan teman, di cafe depan Tunjungan Plaza, kenapa?” tanya Ririen, dia khawatir bila Putra ternyata sudah berada di Surabaya. Walau enggak bilang akan menjemput, tapi suaminya sering membuat kejutan.


“Ok,” balas Putra lalu menutup sambungan telepon tanpa keterangan apa pun.


“Maaf ya, bagaimana hubungan kalian dengan Putra?” tanya Ririen tiba-tiba.


“Kami malu Bun, tapi mau gimana lagi, itu sudah kesalahan masa lalu kami” jawab Herman lugas.


“Waktu reuni apa kalian sempat bicara?” tanya Ririen.


“Kami sudah minta waktu, tapi Putra tidak mau meluangkan waktu untuk kami bicara, padahal waktu itu kami enggak bisa nginap di Jakarta karena Herman baru pindah ke Cirebon,” jelas Ayu.

__ADS_1


“Kalau saat ini dia di sini, apa yang akan kalian lakukan?” cetus Ririen, dia antisipasi Putra muncul di depan mereka.


“Seperti yang dulu kami lakukan, kami akan meminta maaf atas kelakuan kami menikamnya dari belakang,” sahut Herman.


Ririen melihat Putra memasuki cafe, dia menyandang ransel yang Ririen perkirakan berisi satu atau dua kaos gantinya serta alat mandi dan pakaian dalam. Ririen yakin karena hanya sehari, Putra tak akan bawa ganti celana panjang. Dia melambaikan tangannya, Ayu dan Herman yang membelakangi pintu tidak tahu siapa yang hadir.


“Hallo sweetheart, koq enggak bilang mau ke sini?” tanya Ririen saat mendapat ciuman di puncak kepalanya. Ririen juga langsung mengambil tangan Putra untuk dicium punggung dan telapak tangannya.


“Kalau ngasih tau bukan kejutan namanya,” balas Putra.


Ayu dan Herman tegang melihat siapa yang datang dan mencium mantan guru mereka itu. “Dadd ada temanmu,” beritahu Ririen saat menyuruh Putra duduk.


Putra tentu saja kaget melihat Herman dan Ayu ada di depannya. Namun dia sudah terlanjur duduk. “Daddy ke toilet dulu ya,” pamitnya sambil meletakan ransel di kursinya.


“Mbak Tuti, pesanannya tambah dong, rujak cingur enggak pedas dan ayam bakar ya, minumnya seperti biasa. Bapak sukanya lemon tea hangat,” perintah Ririen.


Saat Tuti menuju ke tempat pemesanan, Ririen bicara selintas pada pasangan di depannya. “Kalian tunggu sebentar ya, Bunda nemuin Putra dulu biar dia agak cooling down.”


“Apa dia suami Bunda?” tanya Herman.


“Ya, pas hari reuni kami ketemu, dia langsung ngejar Bunda. Cerita lengkapnya nanti aja ya, keburu ada yang panas kebakaran jenggot,” pamit Ririen saat Tuti sudah datang.


“Dadd, kamu di mana?” tanya Ririen ditelepon, dia berdiri depan toilet laki-laki.


“Masih di toilet Mom,” balas Putra.


“Mommy tunggu depan toilet,” kata Ririen.


Tak lama kemudian Putra keluar dengan wajah fresh habis cuci muka, Ririen langsung menghampiri dan mencium pipinya. “Koq bisa makan dengan mereka?” tanya Putra datar.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  UNCOMPLETED STORY  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2