
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Walau bila dia mencium kening dan pipinya Ririen tidak menunjukkan penolakan. Tapi kata-kata dan sikapnya sangat ketus dan terkesan dingin. Tak pernah lagi dia dapat kata-kata manis seperti saat dia belum mengungkapkan perasaannya pada hari pertama mereka bertemu dulu.
Di depan Ririen dia benar-benar tak ingin salah langkah. Sebagai mantan player tentu saja dia ingin ******* bibir Ririen yang dia rasa sangat menggodanya, bahkan dia juga ingin melakukan hal yang lebih dari kissing. You know lah apa yang selalu dia lakukan dulu saat masih di London. Namun itu tak dilakukannya. Sekali lagi, dia tak ingin salah langkah yang bisa menyebabkan dia kehilangan Ririen sang pujaan hatinya.
“Kamu tanya aja anak-anak langsung, telepon Edy atau Yogi atau siapalah,” Ririen masih tetap tak memberitahu. Dan Putra pun tak mau memperpanjang masalah waktu kunjungan teman-temannya ke rumah ini esok hari. Dia tak ingin membuat Ririen bertambah bad mood.
Mereka meninggalkan meja makan dan kembali ke ruang keluarga “Mommy kapan mulai kerja?” tanya Putra lembut.
“Harusnya awal bulan, tapi kayaknya minggu depan udah masuk, karena mau persiapan buat PRJ ( Pekan Raya Jakarta ),” jawab Ririen yang sedang melihat data persiapan pameran di PRJ, mungkin itu penyebab Putra bertanya.
“Lalu kalau ada pameran seperti itu, bagaimana jadwal kerjanya?” Putra belum mengerti, karena PRJ kan dibuka mulai jam 5 sore, artinya jam 4 penjaga stand harus standby, selesai sampai tengah malam, belum lagi kerjaan di kantor. Tidak mungkin ‘kan kantor tutup selama pameran?
“Untuk TM biasanya 1-1 artinya 1 hari di kantor dan 1 hari di pameran, sedang BM ngatur sendiri. Kalau Sabtu dan Minggu full semua datang karena biasa nya week end pengunjung padat,” sahut Ririen.
“Nanti kalau kerja, aku antar jemput ya?” pinta Putra tulus.
“Enggak bisa, bukan enggak mau! Jangan salah sangka dulu. Aku ‘tu dari kantor kadang harus lari ke kantor pusat di Rawamangun, lalu harus ke gudang produksi di Sunter, kadang harus nemuin konsumen di lima cabang, belum lagi kalau ngurusin orderku sendiri, pasti repot kalau aku enggak bawa kendaraan,” tegas Ririen menolak permintaan Putra itu.
“Ok, tapi nanti kalau jaga stand harus aku anter, ‘kan sejak sore hingga tengah malam enggak kemana-mana. Aku enggak mau kamu pulang sendirian tengah malam.” tegas Putra tanpa mau dibantah.
***
Esoknya pukul 06.30, Putra sudah membawa Fajar dan Fajri ke TMII. Mereka membawa bola plastik untuk bermain di sana, mereka pamit saat Ririen sedang menjemur Alesha di halaman belakang.
“Kak Fajar dan Kak Fajri enggak boleh jauh dari Daddy ya sayang, dan jangan rewel,” nasehat Ririen pada kedua anaknya.
“Daddy berangkat dulu ya Dede,” Putra mencium punggung telanjang Alesha yang terbaring tengkurap dipaha Ririen karena sedang dijemur, tak lupa diciumnya kening Ririen dengan lembut.
“Hati-hati ya,” jawab Ririen sambil memegang lengan bawah Putra. Putra yang mendengar attensi Ririen seperti itu merasa sangat bahagia, karena biasanya Ririen hanya menjawab Hmm atau Ya saat dia pamit. Terlebih lagi Ririen memegang lengannya. Itu adalah aktivitas pertama yang Ririen berikan untuknya.
__ADS_1
Pukul 09.30 rombongan rumpi kemdur sudah berdatangan, mereka memang sengaja datang lebih dulu biar puas ngobrol, walau janjiannya jam 11.
“Wah asyik banget taman belakangnya Bun, ngerujakan di sini enak nih,” Lia langsung ngajakin ngerujak melihat mangga muda di dalam kandang.
“Telepon kak Pray atau kak Edoy aja suruh beliin buah lainnya buat ngerujak,” usul Yusdianty.
“Sini aku yang telepon mereka,” jawab Sanih yang satu angkatan dengan para lelaki yang mereka sebut tadi. “Nomor Edoy enggak aktif, nomor Pray enggak njawab walau masuk,” lapor Sanih.
“Telepon Irhan aja, di Ujung Aspal ‘kan banyak tukang buah, biar dia yang bawain aja,” usul Qiqy.
“Kak Yogi mungkin masih sibuk ngajar di sekolah Minggu,” Lia ingat kakak kelasnya itu aktivis gereja.
Ririen hanya diam, dia yakin semua belum tau bila Putra sedang mendekati dirinya.
“Lo di mana Put, nanti ke rumah Bunda kan?” Sanih langsung nyerocos ketika sambungan teleponnya diangkat oleh Putra.
“Gue lagi olga di TMII, kenapa San?” tanya Putra santai. Dia bilang olga yang maksudnya olah raga.
“Kita-kita udah duluan sampe rumah Bunda, pengen titip beliin buah buat rujak dong, mangga di rumah Bunda lagi berbuah lho, kita-kita pengen ngerujak,” pinta Sanih.
“Gue usahain beli, tapi sedapetnya aja yang kelewatan dari sini ya, gue enggak bisa kalau harus nyari ke toko buah khusus rujakan,” jawab Putra santai.
“Ok siiip, gue tunggu di rumah Bunda, jangan sampe enggak datang ya,” Sanih menutup teleponnya.
***
Mereka lanjut ngobrol sambil bikin lemon tea dan goreng risol, karena memang janjiannya pukul 11.00, jadi Ririe belum siap minuman serta snack. Kalau nasi dan lauk malah sudah selesai sejak tadi.
Akhirnya Wendy dan Fitri menyusul datang. Menambah ramai ruangan belakang.
“Kalian bikin sendiri ya. Biar si mbak urus baby dan anak-anak Bunda nanti,” Ririen meminta para gadis untuk self service di rumahnya.
“Mommyyyyy,” teriak Fajri dari luar sambil berlari.
__ADS_1
“Iiih, anak Mommy keringetan, mandi sana sama mbak Yuni, mbak Surti lagi gendong dede Alesha,” Ririen meminta Fajri langsung mandi. Dia yakin Putra sudah membelikan kedua putranya sarapan.
“Assalamu’alaykum,” sapa Putra yang masuk barengan dengan Fajar putra sulung Ririen.
Sanih, Qiqy, Lia, Wendy, Yus serta Fitri terdiam melihat Putra masuk dengan celana pendek serta kaos yang basah, mereka bingung. Putra menyerahkan tas kresek berisi buah pada Sanih “Koq pada enggak ngejawab salam gue sih?” katanya.
“Kak Fajar mandi dulu sayank. Sama mbak Yuni ya. Jangan minta mbak Surti,” perintah Ririen. Dia tak mau menanggapi celoteh para gadis yang melihat kedatangan Putra.
“Katanya kumpul jam 11, koq masih hari gini udah pada sampe aja?” tanya Putra ltanpa merasa bersalah pada semua temannya.
“Lo abis dari TMII ama anak-anaknya Bunda?” tanya Sanih memastikan.
“Daddy atu udah mandi,” Fajri langsung lapor pada Putra.
“Cium Dad, lambut atu udah wangi,” lanjut Fajri sambil menyurungkan kepalanya agar di cium Putra. Lelaki kecil ini tak pernah tahu kalau perkataan dan kelakuannya akan menyulut bom dari semua gadis disana.
“Wooo keren, Kak Fajri sudah keramas ya, udah harum banget rambutnya,” Putra mencium rambut Fajri berkali-kali dan mengacak rambut Fajri dengan gemas.
“Daddy jangan di acak gitu, atu udah lapih,” protes Fajri kesal.
\============================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL BETWEEN QATAR AND JOGJA YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1