Aku Tidak Mandul

Aku Tidak Mandul
129. Paket


__ADS_3

Seminggu ini adalah minggu terberat dalam hidup Suprie... bagaimana tidak hampir setiap hari Billy menampolnya karena masalah table manner.


" Dah gua nyerah Bill... gini aja kalau ada undangan makan , gua wakilkan aja ma Mirna langsung beres " ucap Suprie prustasi


" Bang.. Jangan nyerah dong, ade aja sudah bisa.... " bujuk Fatimah


" Eh Prie ngapain Lo yang nangis... yang ada juga gua yang stress ngajarin lo makan minum yang bener aja susah banget.... otak lo itu apaan sih isinya, bini lo aja dah pinter ngak pake lama!! " omel Billy sehabis menampol kepala Suprie


" Mba... pokoknya ajarin ya babang tampannya ini ya di rumah...kalau perlu jangan di kasih jatah kalo belum pinter " ucap Billy saking kekynya sama si upin


" OK Siapppp..... " jawab Fatimah membuat Suprie melotot protes


" Ngak boleh gitu dong de... dosa lho "


" Ya bukan salah ade.. kalo abang pinter kan seharusnya cepat bisa " jawabnya


" Abang bukannya ngak pinter lho.. cuma "


" Ngak usah kebanyakan alasan, Makanya Jangan kebanyakan makan terasi.. tu otak jadi basi ntar " Billy masih saja mengomel


" Lemes banget sih tu bibir, gua lem pake alteko baru nyaho , apa juga hubungannya terasi dengan otak " sungut Suprie kesal.


" Berani lo sama gua... otak lo itu yang perlu di lem biar ngak berantakan " balas Billy, keduanya pun saling melotot melampiaskan kekesalan masing-masing


Zahra dan Mirna hanya tersenyum geli melihat upin ipin yang ribut saja seminggu ini...


" Zahra nanti bisa bantuin mba kan... hari minggu mba mau pindahan " tanya Fatimah pada Zahra


" Bisa mba .. tapi Zahra ke apartemen tuan Billy dulu sebentar ya bersih-bersih , mba kirimin aja alamatnya "


" OK mba tunggu ya... bang ade pulang dulu ya mau jemputin Razak, tuan Billy aye pulang... " pamit Fatimah. Hati Fatimah lega setelah melihat Mirna dan Zahra yang akan menemani suaminya selama jam kerja karena keduanya tak ada bakat pelakor.. ia hanya perlu waspada pada si ondel-ondel ganjen itu.


Sementara kegabutan terjadi si Jakarta, keadaan di Bali sedikit tenang. Namun tenang bukan berarti tak ada masalah. Ida kini sedang berendam di jakuci di kamar mandinya, pikirannya sedang melayang... banyak ketakutan kini melandanya.


Mantan suaminya selalu memburunya, mas Bobby ingin kembali padanya setelah di tinggal oleh penyanyi yang di orbitkannya itu. Ida bahkan sampe menitipkan anaknya pada kedua orang tuanya agar lebih aman.


Sedangkan Eric...... semenjak Ia pulang dari pulaunya hanya menghubunginya beberapa kali dengan alasan sangat sibuk . Jika memang sibuk.. sebenarnya Ida tak keberatan, tapi Ida takut itu hanyalah sebuah alasan untuk menghindar lalu meninggalkannya, setelah apa yang terjadi di antara mereka berdua selama di pulau.. apakah Eric setega itu???

__ADS_1


Belum lagi masalah.....


" Tok... tok... tok... bu ada paket dari London, mau di taruh dimana ? " suara bibi memutuskan lamunan sedih Ida


" Taruh aja di ranjangku bi!! " teriaknya dari dalam


" Paket dari London... dari Eric atau dari Emma ya? " rasa penasaran membuat Ida menyelesaikan mandinya dengan cepat.


Ida pun keluar dari kamar mandi hanya memakai baju mandinya. Sambil mengeringkan rambut basahnya Ida berjalan ke arah ranjangnya untuk melihat paket yang di sebutkan bibi, Namun betapa kagetnya Ida melihat di ranjangnya ada seorang lelaki yang berbaring membelakanginya... siapa dia... apakah mas Bobby ? tanya Ida dalam hati..mengapa bibi membiarkan mas Bobby memasuki kamarnya padahal ia sudah melarangnya


Tanpa suara Ida mendekati ranjangnya, tangannya membawa hair dryer sebagai senjata


" Jika mas Bobby mau macam-macam bakalan ku pukul pake ini " cicitnya dalam hati


" Heii... siapa kau, mengapa kau berada ranjangku !! " tegur Ida sambil mencoel kepala lelaki tersebut dengan benda di tangannya. Mendengar suara Ida tubuh lelaki itu pun bergerak berbalik dan langsung duduk di tepi ranjang, mata Ida melotot tak percaya


" E.... Eric ?? Kau...mengapa kau berebah di ranjangku. " cicitnya kaget, Eric tersenyum melihat Ida yang nampak begitu kaget


" Bukankah kau yang menyuruh Bibi meletakkan paket dari London di atas ranjangmu " jawabnya sambil tersenyum mesum


" Aku adalah paketnya... seorang duda kesepian he he " jawabnya lagi sambil berjalan mendekati Ida


" Mengapa kau ke mari tanpa memberi Kabar padaku? " tanya Ida setelah berhasil menenangkan detakan jantungnya yang hampir saja mencelot keluar saking kagetnya


" Duda kesepian ini ke Bali karena merindukan belaian dan pelukan dari janda cantik ini " ucapnya setelah berhasil memepet Ida di dinding


" Ida..... I miss you so much " ucapnya, Eric mencium pelan bibir basah Ida... di sesapnya dengan penuh perasaan, Ia sangat-sangat merindukan wanita ini.


Ida yang masih terkejut berusaha melepaskan bibir Eric yang seenaknya menyosornya, ia butuh penjelasan terlebih dahulu namun Eric tak bergeming... ia malah menekan leher Ida dan memperdalam ciumannya..Ida terhanyut, kedua tangannya yang semula Ingin mendorong dada Eric kini berlahan-lahan naik dan di kalungkan ke leher Eric. Ida pun sangat merindukan duda mesum di depannya ini.


Puas dengan ciumannya., Eric mengangkat Ida dan membaringkannya di ranjang... Ia mencumbu Ida tanpa basabasi


" Kau wangi sekali sayangku... membuatku tak sabar untuk memakanmu " bisiknya sambil berusaha menyingkirkan baju mandi milik Ida, namun tangan Ida berupaya mempertahankannya


" Ee Eric apa kau tak ingin mandi dulu?"


" Aku sudah mandi di jet..."

__ADS_1


" Atau kau mau sarapan, aku akan membuatkan untukmu "


" Tidak... aku tak perlu sarapan, aku hanya ingin memakanmu sekarang " tolaknya dan tanpa perlawanan berarti keduanya sudah tak memakai apapun kini... mata Eric sudah berkabut dengan nafas yang menderu menandakan hasratnya minta segera di puaskan.


" Eric.... lakukan sekali saja ya dan berlahan " pinta Ida


" Mengapa sayang.? apakah kau sakit " tanya Eric


" Tidak... hanya saja kita sudah lama tak melakukannya, aku belum sarapan nanti terlambat ke kantor " jawab Ida


" Kekasihmu terbang jauh-jauh dari London dan kau meninggalkanku bekerja? " protes Eric membuat Ida tertawa


" Sudah.. Nanti saja di bahas, aku sudah tak tahan " lanjut Eric dan segera beraksi


" Ingat pelan-pelan " pesan Ida lagi, setelah itu tak terdengar suara apapun lagi hanya desahan kenikmatan dari si duda dan si janda yang melepas rindu.


Selesai memuaskan hasrat, keduanya kini berebah saling berpelukan...


" Sekarang katakan padaku mengapa hanya boleh sekali? kau kan tau kekuatanku... sekali tak memuaskanku Sayang " selidiknya.. Ida terdiam sejenak Ia ragu harus berterus terang


" Ida..... ada apa ? mengapa kau diam, Katakanlah Sayang.... " Eric menyentuh pipi Ida dan mengarahkan padanya, di pandanginya manik mata Ida yang nampak sedikit berkaca, diciumnya kedua mata Indah itu bergantian


" Katakanlah.. ada apa, jangan takut " pintanya lagi


" Ehem... begini Eric setelah aku bercerai dengan mas Bobby aku berhenti meminum pil Kb ku karena Kufikir toh aku tak bermain seks lagi dalam waktu dekat, ternyata di Paris aku bertemu denganmu dan kita melakukannya tanpa pengaman apapun " ucap Ida sambil memainkan jemarinya didada Eric


" lalu.....? "


" Dan setelah pulang dari pulaumu, sampai sekarang aku.... aku belum datang bulan Eric, aku sudah telat 2 minggu...entahlah aku hamil atau tidak, aku tak berani mencari tau " lanjut Ida berlahan, matanya menelisik mata Eric.. ia ingin mengetahui tanggapan Eric


" Mengapa kau tak. berani memeriksanya? " tanya Eric...


Kira-kira mengapa ya sista?


Mau tau Jawabannya... tunggu ATM selanjutnya ya, jangan lupa like komen dan Vote kalian selalu thor nanti


Happy Reading Selalu

__ADS_1


__ADS_2