
Matahari sebentar lagi akan menampakkan dirinya... Sean bergegas bangun dari ranjang sebelum Emma terbangun, di angkatnya satu persatu anaknya dan di ciuminya lama. Marsha yang melihatnya dari cctv hanya bisa menangis... ia pun pernah beberapa kali mengalami apa yang Emma alami saat ini.
Memang sifat jelek akut dari pria Brown adalah sangat posesif dan cemburuan. Jika ia bisa melaluinya dengan Daniel... Marsha hanya berharap Emma dan Sean juga bisa, dan semua itu tergantung dari usaha Sean... anaknya sendiri.
Saat Sean kembali ke kamarnya... Marsha kembali pura2 masih tidur. Sean kemudian keluar dari kamarnya setelah mengecup kening Marsha. Tak lama terdengar suara tangisan twins, Emma pun langsung bangun dan menyusui salah satunya.
Marsha masuk dan mengangkat Princess yang menangis karena belum disusui Emma, Marsha menghangatkan stok asi di kulkas lalu memberikannya pada Princess.
" Emma.. katakan pada mam.. Sebenarnya ada apa? " tanya Marsha membuka pembicaraan
" Emma tak perlu menjawabnya Mam... Emma yakin Mam sudah tau apa yang terjadi " sahut Emma lagi
" Emma maafkanlah Sean, Ia sangat menyesal sayang " rayu Marsha
Emma menarik nafas panjang...
" Emma tau Mam pasti akan merayuku, walau bagaimanapun Sean adalah anakmu... mam pasti lebih membelanya dari pada aku.. yang hanya seorang menantu " sahut Emma
" No Emma... Jangan berfikiran seperti itu.. mam sungguh menyanyangimu seperti anak mama sendiri. Mam hanya memintamu memberi kesempatan Sean untuk berubah memperbaiki diri... kau kan juga tau Emma... Kau adalah wanita pertama baginya... kau adalah segalanya baginya Emma, Ia hanya sangat takut kehilanganmu..pahamilah juga dari sisi suamimu, please!! " ucap Marsha lagi
Emma kemudian meletakkan Princess yang sudah kenyang... kedua pengasuh pun mengambil keduanya lalu memandikan mereka.
" Beri juga Emma waktu untuk berfikir mam " ucap nya lalu masuk kekamarnya dan mandi. 3 hari berturut-turut Emma hanya mengurung diri di kamar nya atau di kamar twins... Ia bahkan mematikan semua HP nya.
Berkali-kali Emma memandang ke luar dari balkonnya, ingin sekali Ia kabur dari Mansion.. namun bagaimana caranya dengan penjagaannya berlapis seperti sekarang ini . Ia tak akan bisa membawa twins seorang diri. Jika hanya membawa seorang anaknya... Itupun sangat tak adil, Emma tak mau menjadi seorang Ibu yang meninggalkan salah satu anaknya.
Selama Emma mengurung diri.. Ia Sama sekali tak mau bertemu dengan Sean, perbincangan Marsha pun mengalami jalan buntu karena Emma kembali melakukan aksi tutup mulut.
" Marsha bagaimana ini sudah 3 hari Sean dan Emma seperti ini.. kasihan Sean sudah 3 hari ini tak bisa tidur, Ia bahkan tak mau makan apapun... apakah Emma mengatakan sesuatu?? " tanya Daniel
" Demi Tuhan Daniel.. Kau fikir aku tak pusing saat ini, Emma Jauh lebih keras kepala dari ku... hanya Tuhan yang tau apa yang dipikirkannya saat ini " jawab Marsha sambil memijiti kepalanya sendiri...
Sementara itu di Kantor Utama....
__ADS_1
Setelah mengamuk didalam rapat.. Sean segera mengurung diri di ruangannya, hanya rokoknya yang kini menemaninya... Ia hanya memandang ke luar jendela berjam-jam lamanya. Ia tak punya hasrat untuk melakukan apapun... Ia hanya sangat merindukan Emma, Emmanya.
Sedangkan Billy sedang menenangkan Elena yang menangis sesegukan akibat mendapat bentakan mesra dari Sean. Sebenarnya bukan hanya Elena... semua peserta rapat mengalaminya begitu pun Billy, namun ini baru kali pertama bagi Elena mengalaminya. Kalo Billy mah dah kebal...🤗🤗
Elena masih saja menangis sesegukan walau sudah 15 menit berlalu... kemeja Billy sudah penuh dengan airmata bercampur cendol Elena, ingin sekali Billy protes namun bisa tambah mewek nanti pujaannya hatinya itu, akhirnya Billy hanya bisa pasrah .
" Ayang.... Coba kamu datangi Emma, rayulah Emma.. katakan padanya apa yang kita alami di Kantor hik hik hik " pintanya sambil merapatkan wajahnya ke dada Billy
" Bagaimana caranya Ell... Emma tak mau menemuinya siapapun, Ia hanya mengurung diri di kamar. Tante Marsha saja sudah habis akal menghadapi aksi diam Emma " Sahut Billy... dihapusnya air mata Elena dengan tissu di tangannya
" Ayang... aku akan mengirimi beberapa foto Sean yang sedang prustasi.. nanti ayang liatkan sama Emma " ucap Elena
" Bagaimana caranya melihatkannya, Emma bahkan mematikan data semua HP nya "
" Aduhhh chayangku.. tampanku... sebentar jam 3 kan tak ada kerjaan apapun, Kau ke Mansion saja... langsung masuk saja ke kamar twins Berbicaralah dari hati ke hati dengan Emma ya, kita harus membantu mereka kembali bersatu " usul Elena
" Males ah... lagian salah bos juga sih jadi orang kok pemarahan amat.. udah gitu cemburuan akut.. posesif, wanita mana yang tahan.. wajar saja Emma ngambek " tolak Billy.. membuat Elena melotot
" Apa maksudmu Ell... kita ya kita, mereka bukan kita, aku tak akan meninggalkanmu " protes Billy
" Ya katamu Sean itu pemarahan.. cemburu akut dan posesif... wanita mana yang akan tahan, kamu ngak sadar... akupun memiliki sifat yang sama dengan Sean, jadi kau juga tak akan tahan denganku.. Begitukah?? " ucap Elena membuat Billy terkejut, Billy menarik Elena ke dalam pelukannya
" Tidak Ell tidak, Walaupun kau pemarahan, cemburuan dan posesif aku tak akan pernah meninggalkanmu, Karena semua itu akan tertutupi dengan rasa cintaku padamu " ucapnya membuat Elena tersenyum
" Nah... artinya Bill... Emma juga tak akan meninggalkan Sean karena mereka saling mencintai, kita hanya perlu sedikit membuat Emma menyadari itu " lanjut Elena... Billy memandangi Elena dengan intens, Ia tak menyangka di balik sifat manja Elena ada sifat dewasa mengalahkan orang dewasa sekalipun
" Mengapa kau memandangiku sedemikian rupa Bill?? " tanya Elena dengan wajah memerah
" Tidak apa-apa sayang... kau sangat cantik dan dewasa, hanya saja.... " gantung Billy
" Hanya saja apa Bill...? " Tanya Elena penasaran
" Hanya saja ingusmu itu sedikit membuat kecantikannmu berkurang " jawab Billy sambil tertawa
__ADS_1
" Ayang Bill.... aku akan mencekikmu, Kau selalu saja mengolok ingusku 😡😡😡 I hate you " teriak Elena kesal... Ia mengejar Billy yang berjalan menjauh darinya, di dorongnya tubuh Billy hingga keduanya terjatuh ke lantai... Elena menaiki Billy... Ia benar-benar kesal, kedua tangannya kini sedang mencekik Billy
" Katakan aku cantik tanpa embel-embel ingus itu!! " titahnya dengan tangan terus mencekik Billy
" Iya.. iya ampunn Sayang... lepaskan dulu cekikanmu, kau mau aku mati?? " ucap Billy sambil berpura-pura pingsan .. membuat Elena kaget dengan kelakuannya sendiri.. Ia pun langsung melepaskan tangannya dari leher Billy
Melihat kesempatan Billy langsung membalik keadaan, kini Elena yang di bawah dan ia mengukungnya, kedua tangannya menahan tangan Elena di lantai
" He he he... kena kau kunti cantikku " ucapnya senang
" Lepaskan aku Bill.... kau pembohong " teriaknya marah
" Shuuutttt diamlah... aku hanya ingin menatapmu " ucap Billy membuat Elena langsung terdiam, keduanya lalu saling tatapan dan menganggumi wajah masing-masing, Billy melepaskan tangan Elena... kini ia meletakkan sebelah lengannya menjadi bantal untuk Kepala Emma, sedangkan sebelah tangannya mulai meraba pipi mulus Elena, Billy menurunkan wajahnya... Ia ingin sekali mencium bibir tipis nan sexy itu kini...
Deg... deg... deg... dada keduanya sama-sama berdetak cepat... cuppp....kedua bibir mereka bertemu, rasanya tak bisa dijabarkan dengan kata-kata hanya saja dada Billy terasa hendak pecah rasanya begitupun Elena, keduanya saling menyesap.... Namun lagi2
Tok.. tok.. tok...
" Tuan Billy... tamu anda sudah datang!! " suara sang sekretaris menganggu moment indah itu
" El... apa kau percaya karma??? " tanya Billy sambil berebah sejenak menenangkan dadanya yang masih berdendang
" What..... karma??? " tanya Elena bingung
Ha ha ha... Bill sekarang kamu dah tau kan rasanya..? berkali-kali kerjaanmu dulu selalu menganggu moment Emma dan Sean ...😂😂😂😂
Okay.. see you next eps
Jangan lupa like komen dan vote nya
Bonus foto Sean yang lagi prustasi, tetep guantenggg ya sista... 😘😘
__ADS_1