
Ke esokan paginya semua sudah berkumpul di meja makan, Billy bahkan datang bergabung... saat asik sarapan tiba-tiba Marsha memberi ide...
" Emma.. karena kau tak merasakan ngidam dan mual bagaimana jika resepsi kalian di majukan saja... sekitar 2 atau 3 minggu dari sekarang ? " usulnya
" Emma terserah mam saja " jawab Emma pasrah
" Sebenarnya.. Mam.. jika tidak di rayakan juga tidak apa-apa " lanjut Emma
" No Emma.. kami hanya punya satu anak, kami tak akan membiarkan perutmu membesar tanpa orang tau kalau kalian sudah menikah , bukankah begitu Daniel? "
" Ya.. Emma.. " sahut Daniel
" Apakah kalian tak malu memperkenalkanku sebagai menantu, seorang janda.... "
" Hentikan omong kosong itu Emma, kami sangat menyukaimu.... keluarga Brown sejak dulu tak pernah mempermasalahkan hal seperti itu " potong Daniel membuat Emma terharu
" Terimakasih.. Mam.. papa... Sean sudah mau menerimaku apa adanya" ucap Emma, Sean segera mengambil tangan Emma dan mencium punggung tangan Emma dengan mesra
" Baiklah jika kita telah sepakat.. maka Billy keberangkatanmu ke Indonesia di tunda saja sampai acara resepsi selesai " ucap Sean
" Uhuk.. uhuk.. uhuk...what......??? " Billy terbatuk karena terkejut, baru semalam ia bersuka ria karena akan lepas dari siksaan Sean... kini semuanya gagal total
" Apa....!! kau tak suka? protes? " tanya Sean dengan suara mulai meninggi membuat Billy hanya bisa tertunduk tanpa suara
" Seannn... Kenapa sih kau selalu marah-marah sama Billy, kasian kan dia " protes Emma
" Entahlah sayang... jika melihat wajah Billy membuatku selalu emosi " jawabnya
" Jangan begitu... tahan emosimu, kau mau nanti anakmu wajahnya mirip Billy ? karena selalu memarahinya " nasihat Marsha
" Bagaimana mungkin mirip Billy, anakku 100 % tentu akan mirip aku, karena aku menyumbang tunggal saham di perut Emma " jawab Sean sambil melirik kesal ke arah Billy
" Sudah... sudah berangkatlah kalian ke kantor, ingat Sean jangan memarahi Billy lagi.. awas saja kalau kau memarahinya lagi " ancam Emma membuat Billy tersenyum penuh kemenangan
π΄π΄π΄π΄
Setibanya di kantor....
" Billy.... buatkan aku kopi!! " perintah Sean, Billypun membuatkannya tanpa suara
" Ini bos..... " ucapnya sambil meletakkan kopi pesanan Sean, Sean hanya memandangi kopi itu
" Tidak jadi.. kupaskan aku apel.. " titahnya lagi, dengan dongkol Billy membawa kopi tadi ke luar dan memberikannya pada Suprie
" Wah tumben Bill lo baik banget ama gue, makasih ...salah minum obat ya. " ucap Suprie senang
" Terserah....... " sahutnya pelan , lalu kembali ke dalam ruangan Sean dan membuka kulkas.. diambilnyan2 buah apel berbeda warna
" Yang mana bos.. hijau atau merah.? " tanyanya
" Hijau.. 2 biji belah 6 " titahnya terperinci, Billy pun melakukannya dengan cepat
__ADS_1
" Ini. bos..... " Sean mengambilnya sepotong lalu memakannya.....
" Mengapa rasanya seperti ini? " tanyanya sambil memandangi Sisa apel di tangannya....
Billy yang penasaran lalu mengambil sepotong lalu memakannya
" Enak. bos..... " lapornya setelah menelan apel tersebut
" Ambilkan aku garam..... " titah Sean sambil tetap memandangi apel. tersebut, Billy memandangi Sean sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal
" Ya Tuhan.... apakah bosku sudah mulai gila...??? " Billy pun keluar dan menyuruh Lisa mengambil garam di pantry
Setelah garam datang, Sean menaburkannya di atas apel tadi... lalu memakannya dengan lahap, Billy melihatnya sambil bergidik geli.... seperti apa rasanya apel dikasih garam...Huekkkk
Hari.. hari ada saja kelakuan Sean yang membuat Billy geleng kepala, namun Sean sudah jarang memarahinya... karena setiap kali Sean mulai marah, Billy mengancam akan melaporkannya pada Emma
πΎπΎπΎπΎ
2 minggu berlalu.....
Mansion keluarga Brown sedang sibuk-sibuknya. 2 hari lagi acara besar akan di gelar, semua undangan telah tersebar... berita resepsi ini menghebohkan london, karena sebelumnya berita yang beredar Sean adalah penyuka sejenis.
Kini telah menikah dan akan mengadakan resepsi besar-besaran. Semua media membicarakan siapa wanita yang beruntung, yang menjadi istri dari pewaris tahta keluarga Brown. Namun berita kehamilan Emma sengaja ditutupi atas keinginan Marsha. Ia tak ingin media beropini bahwa Emma hamil sebelum menikah.
Hari yang di tunggu tiba, Emma dengan resah melihat penampilannya di depan kaca
" Mengapa sedari tadi kau terlihat gelisah Emma? " tanya Marsha
Memang karena tak mengidam apapun... berat Emma sudah naik hampir 5 kg.
" Emma.. lupakanlah orang lain yang penting kami semua menyukaimu... okay, sekarang tarik nafas.. rileks, malam ini adalah malam spesial untukmu dan Sean, tersenyumlah.. tunjukkan kalau kau bahagia menjadi menantu kami " ucao Marsha... membuat Emma menjadi tenang
Sementara di Mansion Eric...
Eric sudah siap dengan pakaian terbaiknya. Malam ini ia akan mendatangi undangan keluarga Brown, Eric terlihat sangat tampan.
" Anda yakin... akan datang tuan? " tanya Andre... setelah Eric berdiam diri selama 3 hari setelah menerima undangan tersebut, Eric tersenyum... entah apa arti dari senyumannya itu
" Tentu aku yakin.. Andre "
" Apakah tidak akan membuat hati anda semakin sakit tuan? " tanya Andre berhati-hati
" Sakit pasti ia Andre... namun aku datang ingin melihat senyumnya, itu yang terpenting... melihat pujaan hatiku bahagia akan membahagiakan hatiku juga " jawabnya
" Walaupun... "
" Ya.... walaupun Emma bahagia bukan bersamaku , apalagi kini ia telah mengandung... ia pasti sangat bahagia sekarang, maka tak ada alasan bagiku untuk sakit hati " jawab Eric
" Tapi... mengapa 3 hari ini anda berdiam diri setelah menerima undangan itu, Kufikir anda sangat bersedih tuan... " tanya Andre lagi
" Awalnya ia... kuakui aku sangat sedih, namun kemudian aku sadar... ini semua takdir yang harus aku terima...mungkin memang aku di takdirkan untuk tak bahagia sekeras apapun aku berusaha... ah sudahlah, sebaiknya kita bergegas... aku ingin segera melihat wajah cantiknya... "
__ADS_1
Eric pun berangkat di temani oleh Andre. Eric membawa sebuah kotak kecil di kantongnya.... hadiah yang di persiapannya untuk Emma
Kediaman Mansion Keluarga Brown mulai ramai, undangan telah berdatangan. Sebagian besar tak sabar ingin melihat menantu keluarga Brown. Keluarga Brown tak pernah menyebarkan latar belakang menantunya tersebut. Fotonya pun sangat sulit di dapat.
Di antara undangan tentu terdapat paparadzi yang menyamar. Demi mendapatkan berita yang sedang viral mereka rela melakukan apa saja.
Acara pun di mulai.... Daniel masuk dengan mengandeng istrinya.. tak lama Sean pun mengikuti. Ia mengandeng seorang wanita cantik yang memakai gaun berwarna silver yang memperlihatkan bahu dan punggungnya yang putih bersih. Emma terlihat begitu cantik malam ini, para tamu terpukau melihat kecantikan menantu keluatga Brown tersebut.
Daniel memulai acara dengan mengumumkan pernikahan anaknya yang telah di gelar di Indonesia beberapa bulan lalu. Ia lalu memperkenalkan Emma pada semua undangan yang di sambut tepuk tangan oleh segenap tamu yang hadir.
Bergantian tamu mengucapkan selamat pada Sean dan Emma, bahkan tak sedikit yang meminta berfoto . Eric berjalan ke arah Emma dan Sean dengan gagahnya, Andre mengikutinya dari belakang
" Selamat Sean... Emma.. semoga kalian bahagia selalu " ucap Eric sambil mengecup punggung tangan Emma . Sean yang melihatnya langsung menepis tangan Eric
" Jaga kelakuanmu tuan Eric " desis Sean penuh rasa cemburu
Eric tersenyum simpul, ia tak mau meladeni kemarahan Sean. Eric mengeluarkan kotak yang di bawanya. lalu memberikannya pada Emma
" Selamat berbahagia Emma, terimalah hadiah dariku sebagai ucapan selamat yang tulus dariku " ucapnya
" Terimakasih Eric " sahut Emma, semula.
" Bawalah kembali barangmu Eric... istriku tak membutuhkan hadiah dari pria lain " tolak Sean sambil mengembalikan kotak tersebut
" Mengapa anda bersikap tidak sopan dengan tamu yang anda undang Sean " sahut Eric kesal
Marsha yang melihat hal tersebut lalu menengahi, ia mengambil kembali kotak yang di bawa oleh Eric
" Maafkan anak saya tuan Eric, terimakasih atas hadiah anda... " ucap Marsha sambil melototkan matanya ke arah Sean
" Bukalah nyonya... anda bisa langsung memakaikannya pada menantu anda, saya yakin Emma akan terlihat cocok memakainya "
Beautifull Emma.watson
Marsha lalu membuka kotak tersebut, matanya melotot melihat sebuah cincin bermatakan belian yang besar....butuh beberapa saat bagi Marsha untuk menghilangkan keterkejutannya
" Wah Emma.. lihatlah hadiah ini sangat mewah, berterimakasihlah pada tuan Eric " ucapnya setelah memakaikannya pada jari Emma
" Terimakasih tuan Eric " ucap Emma sambil memperhatikan wajah Sean... ia takut Sean akan marah
See you next eps
Jangan lupa untuk
Like.....
Komen.....
Vote......
__ADS_1
Happy reading selalu