
" Plakkk...... " sebuah tamparan mendarat di pipi Sean membuat kaget seisi mobil.. termasuk kepala pengawal yang berada di bangku depan
" Segitu saja rasa percayamu padaku Sean... setelah apa yang kita lalui bersama hah!! " bentak Emma
" Jika aku masih menyukai Eric, aku tak akan menikah dan melahirkan dua anak untukmu Sean dan mau bertahan selama ini dengan sikapmu yang begitu cemburuan... kau fikir enak harus selalu di cemburui dan di awasi kemanapun pergi!! " lanjutnya lagi dengan air mata bercucuran... Sean hanya diam...
" Buktinya kau sangat lama di sana... jika memang hanya menjenguk 30 menit cukup, tapi kau hampir 2 jam di dalam ruangan itu dengan Eric di dalamnya..mengapa kau tak menungguku.. kita bisa menjenguknya bersama" ucap Sean lagi
" Kau fikir apa yang kami lakukan di dalam bertiga... kami bercinta?? begitu maksudmu... , aku segera menjenguknya karena mereka begitu keluar rs langsung kembali ke pulau... Ida sudah 2 hari di rs... besok pagi2 mereka sudah tak di sini lagi... cukup Sean aku sudah tak tahan lagi dengan segala rasa curiga dan cemburu yang berlebihan seperti ini " ucap Emma akhirnya
" Apa maksud perkataanmu Emma? kau benar-benar tak merasa bersalah sama sekali telah bertemu dengan mantanmu?? " cecar Sean
" Aku bertemu dengan sahabatku yang melahirkan.. IDA... catat itu di otakmu IDA dan Bayinya, bukan Eric.. jika di sana ada Eric itu wajar karena Eric adalah suami Ida, siapa lagi yang mendampinginya jika bukan suaminya " teriak Emma prustasi dengan pola pikir Sean
" Tapi.... "
" Cukup Sean... cukup !! lebih baik kita pisah saja " ucap Emma akhirnya
Duarrrr.... bagai petir menyambar kepala Sean mendengar kata pisah dari Emma, Sean langsung memegang kedua bahu Emma
" Apa maksudmu dengan pisah... cerai?? ...hah jangan harap aku akan menceraikanmu, tidak akan pernah!! " ucap Sean sambil melotot
" Lepaskan aku Sean... lepaskan!! " teriak Emma tak kalah keras
" Hentikan mobil ini!! " lanjutnya
" Jangan dengarkan dia... pulang ke Mansion, jangan pernah berhenti jika belum sampai di Mansion!! " titahnya, Emma mendorong Sean hingga ia terlepas dari cengkraman Sean... Emma kemudian duduk membelakangi Sean... ia menatap jalan raya sambil menangis... begitupun Sean yang memijit kepalanya sepanjang perjalanan pulang ke Mansion.
🍉🍉🍉🍉
45 menit berlalu dalam diam... hanya isak tangis Emma yang terdengar di dalam Mobil, sampai akhirnya rombongan sampai di Mansion. Begitu kunci mobil terbuka Emma segera keluar dan berlari menuju ruangan twins... terlihat kedua anaknya itu sedang tertidur, Emma menyuruh pengasuh keluar dari kamar... ia lalu mengunci kamar twins dari dalam juga pintu penghubung ke kamarnya.
__ADS_1
Emma menangis sejadi-jadinya di kamar twins..
" Mama.... apa yang harus kulakukan sekarang hik. hik. hik... " Emma menangis menumpahkan rasa sesak di dadanya, seandainya mamanya masih hidup.....
Marsha yang semula mengintip kedatangan Emma dan Sean dari kamarnya, dan melihat Emma yang berlari meninggalkan Sean.. tau bahwa keduanya bertengkar. Ia pun turun mencari kepala pengawal...Marsha meminta kepala pengawal menceritakan semua yang terjadi.
Kepala pengawal pun menceritakannya tanpa kurang ataupun lebih, bergegas Marsha dan Daniel ke atas menyusul Sean dan Emma. Nampak Sean sedang mengetuk pintu kamar twins
" Emma.. buka Emm.... kita harus bicara dan menyelesaikan masalah kita, mengunci pintu bukanlah sebuah solusi.. tok.. tok.. tok.. " terdengar suara ketukan berulang kali namun tak ada sahutan dari dalam
" Sean... biarkan Emma, jangan kau ganggu... beri dia ruang untuk bernafas " ucap Marsha
" Tapi ma.. Se.... "
" Mam bilang biarkan istrimu malam ini agar ia tenang dulu, menjauhkan kau.. sementara tidurlah bersama papamu, biar mama yang tidur di kamar kalian " titah Marsha
" Tidak.... Sean tidak bisa, biar Sean tidur di depan sini juga tidak apa-apa " kekehnya... Marsha menarik nafas panjang sambil melirik suaminya.. agar Daniel menolongnya
" Sean.. biarlah mamamu menenangkan istrimu dulu, sepertinya Emma sangat marah sampai ia mengeluarkan kata cerai padamu.. ayo son.. kita istirahat di kamar papah " tarik Daniel yang akhirnya di ikuti walau dengan sangat terpaksa oleh Sean
Marsha kemudian menyusul Sean dan Daniel ke kamar
" Katakan Sean.. mengapa kau masih saja kekanak-kanakan, kau mempermalukan istrimu di depan umum dan mencurigainya yang tidak2 " cecar Marsha
Sean duduk sambil meremas rambutnya
" Entahlah Mam... aku tak bisa mengontrol rasa cemburuku, aku sangat takut kehilangan Emma mam , Sean sangat mencintai Emma " jawabnya kemudian
" Mulai sekarang belajarlah untuk lebih mempercayai istrimu son... jika tidak dia akan benar-benar meninggalkanmu " nasihat Marsha
" Daniel... nasihat anakmu itu... " ucapnya lalu meninggalkan keduanya
__ADS_1
Marsha meminta Maid menyediakan makanan yang bergizi untuk Emma dan juga jus buah, Marsha memberikan sedikit obat tidur pada makan Emma... bukan dengan maksud apapun, ia hanya ingin Emma bisa beristirahat dengan baik
Pengawal membuka pintu kamar twins dengan kunci cadangan, setelah terbuka Marsha masuk sambil membawa baki yang berisi makan malam untuk Emma. Ia duduk di samping Emma dan mengelus rambut panjang Emma... Emma pun terbangun
" Emma pergilah mandi dulu dan ganti pakaianmu.. Mam akan menjaga mereka selagi kau mandi " ucap Marsha... Emma diam saja tak menjawab
" Ingat kesehatan anakmu, Sean tak ada di kamar... mam sudah menjauhkannya bersama Daniel, mandilah dulu ya " rayu Marsha... Emma kemudian berdiri dan masuk ke kamarnya tanpa suara
Marsha menarik nafas panjang, jika. Emma sudah diam seribu bahasa... berarti ia sudah sangat marah, Ya Tuhan jangan sampai mereka berpisah... kasihan twins jika harus tercerai berai.... doanya sambil memandangi ke dua cucunya yang tertidur dengan lelap.
30 menit kemudian.. Emma sudah kembali ke kamar twins, ia masih diam saja...
" Makanlah Emma... agar asi mu terjaga kualitasnya, kau boleh marah pada suamimu tapi jangan sampai merugikan kedua anakmu... Mam tinggal dulu ya, malam ini mam yang akan tidur di kamar kalian " ucap Marsha lalu meninggalkan Emma.
Marsha menuju ke ruang makan di mana sudah ada Sean dan Daniel si sana... sedangkan Billy sedang pergi dengan Elena semenjak tadi sore.
Ke tiganya makan dalam diam, hanya bunyi sendok garpu yang terdengar, Sean bahkan hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya.
" Bagaimana Emma... Mam? " tanyanya
" Emma diam seribu bahasa, kau mengertikan artinya " jawab Marsha...Sean termangu... ya ia tau artinya Emma sangat2 marah kini.
" Sean... Emma itu sama dengan Mam, kami sudah tak punya siapa2 selain suami kami kini dan kau diuntungkan karenanya. Jika Emma masih punya orang tua... ia pasti sudah pulang ke rumah orang tuanya. Jadilah rumah yang nyaman untuk istri dan anak2mu son, kau kini sudah bukan anak2 lagi... kau kini menjadi seorang suami dan ayah dari 2 orang anak...grow up son. Mam percaya Emma adalah seorang wanita yang setia, minta maaf dan berjanjilah padanya kau akan berubah. Mam hanya bisa mengatakan ini, selebihnya bagaimana masa depanmu dan istrimu ada di tanganmu " nasehat Marsha sebelum meninggalkan keduanya.
Sean duduk di balkon kamar Daniel, ia tak bisa tidur malam ini... sebungkus rokoknya sudah habis di lahapnya. Sesuatu yang tak pernah di lakukannya, selama ini paling hanya 1-2 batang saja itu pun sangatlah jarang.
Pikirannya mengembara... entah kemana, ratusan kali kakinya Ingin melangkah ke kamar twins namun urung dilakukannya, Ia takut Emma akan semakin marah padanya dan pergi meninggalkannya. Sean bahkan sudah memperketat pengamanan di Mansionnya...ia tak akan mengambil resiko sekecil apapun kehilangannya Emma. Jika ia harus mengurungnya Emma seumur hidupnya Ia akan mengambil resiko itu dari pada kehilangannya.
Rokok terakhir sudah habis, Ia menginjak Sisa puntungnya... Sean berjalan berlahan ke kamarnya dan membukanya. Nampak Marsha tertidur di ranjang... dibukanya berlahan Pintu penghubung ke kamar twins setelah memastikan Emma terlelap melalui layar cctv.
Sean masuk ke kamar twins... di angkatnya berlahan kedua anaknya ke ranjang masing-masing , lalu Sean berebah di hadapan Emma dan memandanginya berjam-jam sampai subuh menjelang.
__ADS_1
See you next eps
Jangan lupa like komen dan vote nya