
Seperginya Nadia dari ruangannya, Kemal masi berpikir kenapa Nadia dengan tiba-tiba nya membahas soal Devita dan ingin membantunya untuk mendapatkan Devita.
Kemal berdecih heran. ''Ada apa sebenarnya,'' gumamnya.
Ponsel nya berdering, nama 'Sweet Girl' disana yang telah menghubungi nya, dengan cepat Ia mengangkatnya dengan hati yang senang.
''Halo sayang,'' ucap Kemal.
''Kemal, kau sedang apa?'' tanya Puspa, ya yang di beri nama Sweet Girl itu tak lain adalah Puspa sendiri.
''Aku sedang merindukan mu,'' goda Kemal.
''Aku serius, aku mengganggu mu tidak?'' ucap Puspa dengan nada serius.
''Tidak, kenapa?''
''Kita bisa bertemu, saat ini aku sedang berada di Mansion Ayah Devita, kau bisa menjemput ku, ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu,'' ujar Puspa.
''Baik, aku akan kesana, kirimkan lokasinya.'' Kemal menyetujui dan Puspa memutus sambungan telepon nya.
''Ada apa ini? sepertinya serius sekali.'' Gumam Kemal.
Kemal beranjak dari duduknya dan berlalu menggunakan mobil nya menuju alamat yang di Kirimkan Puspa.
''Apa dia tau, kalau Nadia datang ke restoran dan dia cemburu soal itu,'' gumam Kemal menduga-duga.
''Aah aku harus menjelaskan nya,'' Kemal melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk segera tiba dan bertemu dengan kekasihnya itu.
Jarak di antara restoran dan tempat tujuannya memang lah terbilang cukup jauh, Empat puluh lima menit perjalanan akhirnya Kemal telah sampai di depan gerbang besar yang terdapat ada empat pengawal berbadan besar.
''Astaga, ternyata Ayah dari Devita bukan orang sembarangan juga,'' gumam Kemal, sampai ada yang mengetuk kaca mobilnya Ia baru tersadar.
''Astaga, kau mengejutkan ku,'' ucap Kemal setelah membuka pintu dan Ia keluar dari mobilnya.
__ADS_1
''Kenapa kau malah turun, aku mengetuk agar kau membukakan kunci pintu mobil mu.'' Omel Puspa, Kemal terkekeh geli.
''Hahaha, iya Maafkan aku, aku sedang tidak fokus,'' Kemal membukakan pintu dan Puspa pun masuk begitu juga Kemal.
''Kita bicara di taman depan sana saja, aku melihat ada taman di sana,'' ucap Puspa dengan tangan menunjukkan arah kemana Kemal harus tuju.
''Iyah tuan putri,'' goda Kemal.
Tibalah di taman yang lumayan sepi karena memang baru jam Tiga sore, belum ada banyak orang yang datang kesini.
Kemal dan Puspa menuju kursi yang berada di tengah-tengah taman.
''Kemal aku ingin menanyakan sesuatu,'' ucap Puspa yang langsung pada intinya.
''Sebelum kau bertanya, aku seperti nya sudah tau pertanyaan mu itu,'' potong Kemal, Puspa mengernyitkan alisnya.
''Kau tau?'' tanya Puspa dengan melebarkan mata bulatnya.
''Iya kau ingin bertanya tentang Nadia yang sedang apa di Restoran ku kan. Jadi begini, Nadia datang yang katanya hanya sekedar mampir, namun aku merasa ada yang aneh. Tiba-tiba dia menawarkan jasa untuk membantu ku merebut Devita dari Daniel, tanpa dia tau kalau aku sudah memiliki gadis manis sebagai kekasih ku,'' cerocos Kemal dengan panjang lebar.
''Aku harap kau jangan marah ya, aku tidak ingin ada kesalah pahaman di antara kita,'' ucap Kemal lagi.
''Kemal,'' lirih Puspa.
''Emmm,''
''Aku bahkan tidak tau kalau Nadia datang ke restoran mu,'' ucapan Nadia membuat Kemal keheranan.
''Jadi,''
''Ya aku sangat senang karena kamu sudah mau berbicara jujur padaku,'' ucap Puspa tersenyum dengan lembut.
Kemal menghela nafasnya lega. ''Jadi kau ingin bertanya soal apa?'' tanya Kemal.
__ADS_1
''Ini menyangkut soal Nadia juga, seberapa kenalnya kau dengan dia?'' tanya Puspa dengan tatapan menyelidik.
''Aku cukup kenal tapi tidak terlalu akrab, karena kita teman kecil dan besar bersama,'' jawab Kemal dengan jujur.
''Kau tau sifat dia?'' tanya Puspa lagi.
''Setahuku Nadia gadis yang periang, baik polos dan apa adanya. Memangnya kenapa kau bertanya tentang Nadia?''
''Cih, bahkan kau memuji wanita lain di depan kekasih mu sendiri,'' cetus Puspa.
''Bukan, bukan itu maksud ku, kau kan bertanya ya aku hanya menjawabnya dengan apa yang aku tahu.'' Jawab Kemal dengan gelagapan.
''Kau tau, apa yang kau lihat tidak seperti apa yang sebenarnya, kau tahu itu,'' ucap Puspa dengan nyalang.
''Maksudnya bagaimana, aku tidak mengerti,''
Puspa pun menceritakan semua tentang Nadia, yang mulai dari Ia meminta bertemu dengan Devita dan meminta nya untuk menyerahkan Daniel untuk nya sampai saat tadi bertemu di restoran.
Kemal ternganga, antara percaya dan tidak. Karena yang Ia tahu memang Nadia sangat baik, tapi ucapan Puspa dengan apa yang di katakan Nadia padanya sungguh sinkron.
''Tunggu-tunggu, jadi Nadia selama ini memakai topengnya untuk bersandiwara,'' ucap Kemal dan di angguki Puspa.
''Sungguh sangat luar biasa,'' gumam Kemal.
''Dan aku memberi tahu mu untuk meminta bantuan mu juga, Kem.''
''Bantuan, bantuan apa?''
''Saat ini Devita sedang gundah, Ia merasa iba dengan apa yang di ucapkan Nadia, tapi Ia juga tidak bisa melepaskan Daniel, dan kau tahu. Devita sekarang sedang salah paham mengenai Daniel makan bersama dengan Nadia.'' Ujar Puspa.
''Jadi menurut kamu, aku harus apa?''
''Kau harus menjelaskan semua yang kau dengar dari ku ke Daniel tanpa terlewat sedikitpun,'' ucap Puspa dengan tegas.
__ADS_1
Kemal menelan ludahnya dengan sulit. Jangankan mengajaknya mengobrol menatap langsung mata Daniel saja Ia tidak mampu, bukan Ia takut hanya saja rasa bersalah karena ibunya merebut Ayah dari merekalah yang membuat Kemal tidak sampai hati mendekatkan dirinya pada mereka.