
Melihat seorang gadis menangis sungguh kelemahan Jonathan, hati dinginnya tidak bisa sama sekali mengacuhkan setiap gadis yang dilihatnya sedang menangis.
Perlahan Jonathan mendekat ke arah gadis itu, dan duduk di sampingnya, entah kenapa tangannya tanpa sadar membawa kepala gadis itu ke bahunya agar kepala gadis itu bersandar di bahun kekarnya.
''Menangis lebih baik, dari pada kau harus berdiam diri namun menyimpan banyak luka di dalam nya.'' Ucap Jonathan dengan tangan yang menepuk lembuh pundak gadis itu.
''Kenapa dunia terlalu kejam, aku tidak salah tapi kenapa aku yang di salahkan,'' gadis itu terus meracau berbarengan dengan isakan tangisnya.
''Kita tidak bisa mengatur seseorang untuk menilai diri kita itu benar, dan yang harus kau lakukan adalah membuktikan sesuatu yang kau anggap benar itu,'' jawaban Jonathan membuat gadis itu menjauhlah kepalanya dari bahu Jonathan dan menghapus air matanya dengan kasar dan menatap langsung manik mata yang berwarna coklat milik Jonathan.
''Caranya?'' tanya nya.
''Perkenalkan aku Jonathan, kau?'' Jonathan tidak langsung menjawab tapi dia memperkenalkan dirinya terlebih dulu.
''Aku Amaira,'' jawab gadisbitu dengan menyebutkan namanya.
''Jadi benar, dia yang di maksud,'' gumam Jonathan yang tersendiri samar-samar di telinga gadis yang bernama Amaira itu.
''Hemm, kamu berbicara sesuatu?'' tanya Amaira.
''Oh tidak, tidak,'' elak Jonathan.
''Jadi bagaimana? issshh maksud ku, aku bertanya bagaimana caranya agar aku bisa membuktikan kalau aku benar.'' Amaira berbicara dengan mata polosnya itubpun tak luput dari tatapan Jonathan.
Mata yang polos, bulu mata yang lentik, hidung yang bangir membuat wajah cantiknya sangat terlihat nyata disana.
''Hei Jonathan, kenapa kau diam?'' tanya Amaira yang menyadarkan lamunan Jonathan.
''Ah maaf,'' Jonathan mengalihkan pandangan nya ke arah yang lain.
''Kau bertanya bagaimana caranya, ya dengan cara kau berani menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi,'' ucap Jonathan tanpa melihat ke arah Amaira lagi.
''Itu tidak akan bisa,'' lirih Amaira.
__ADS_1
''Kenapa?'' Jonathan menoleh lagi melihat ke arah wajah Amaira.
''Karena bagaimana pun pasti tetap aku yang di salahkan,'' Jonathan melihat ada keanehan disini, wajah Amaira yang ketakutan dan tidak tidak percaya diri nya yang sangat dominan di sana.
''Aku bisa membantu mu jika kau mau,'' ucapan Jonathan bagaikan angin segar bagi Amaira.
''Sungguh? kau sungguh mau membantu ku?'' tanya Amaira dengan excited.
Jonathan mengangguk pelan, senyum lembut Amaira sangat menawan bagi siapapun yang melihat nya.
Seorang suster tiba-tiba datang membawa kursi roda dan meminta Amaira untuk kembali ke kamar nya, karena sudah terlalu lama ia berada di sana.
''Biar saya yang antar, Sus.'' Ucap Jonathan yang mengambil alih kursi roda yang sedang suster itu pegang.
''Baik,''
Jonathan mendorong kursi roda itu dengan perlahan, Amaira terus tersenyum karena merasa senang mendapatkan teman baru sebaik Jonathan yang berniat ingin membantunya.
''Kau istirahat lah, besok aku akan kembali lagi.'' Ucap Jonathan setelah membantu Amaira kembali ke ranjangnya, Amaira hanya mengangguk kecil dan mengucapkan kata Terima kasih dengan suara lembut nya.
Jonathan pun berlalu keluar dari kamar Amaira.
''Semoga dia benar-benar membantu ku,'' gumam Amaira dengan harapan yang mendalam.
Jonathan memasuki lift menuju lantai dimana tempat Devita di rawat, Jonathan terus memikirkan bagaimana ia harus membantu Amaira agar terbebas dari masalahnya, sudah terlanjur janji, Jonathan harus melaksanakan nya dan tidak boleh ingkar, tekat Jonathan.
Jonathan mengetuk pintunya terlebih dulu setelah sampai di depan pintu kamar Devita, pintu terbuka yang ternyata Puspa lah yang membukakanya.
''Selamat siang, Tuan Daniel.'' Sapa Jonathan dengan sopan.
''Ya, Terima kasih kalian mau menjenguk Vita.'' Jawab Daniel dengan ramah.
Alis Puspa menyatu, Puspa melirik ke arah Jonathan yang ternyata sedang melirik nya juga.
__ADS_1
'Terima kasih? apa dia mengucapkan itu dengan sadar.' Pikir Puspa.
''Sudah kewajiban kami untuk menjenguk nya,'' jawab Jonathan dan Daniel hanya mengangguk.
''Bagaimana Tuan, apa ada kemajuan?'' tanya Jonathan.
''Kemarin Devi sudah mulai merespon kata ka Daniel.'' Bukan Daniel yang menjawabnya tapi Puspa yang mewakili nya.
''Benarkah?'' Jonathan ikut bahagia mendengar nya.
''Iya, tapi kata dokter itu sudah biasa terjadi pada pasien yang sedang koma.'' Kali ini Daniel yang mengeluarkan suaranya.
Daniel berusaha mengakrabkan dirinya pada Orang-orang yang dekat dengan kekasihnya, walau itu sulit menurut Daniel, karena notabene nya Daniel memang sangat susah akrab dengan seseorang.
''Tidak apa-apa, itu sudah bagus karena sudah ada respon.'' Ujar Jonathan.
Semua kembali diam, Puspa yang duduk di ranjang Devita tepat di kaki Devita dengan tangan memijat pelan kaki sahabat nya itu, Daniel yang berada di kursi samping Devita tepatnys bersebrangan dengan Puspa, dan Jonathan yang duduk di sofa dengan memainkan ponselnya.
Tiba-tiba mata Puspa melihat jari-jari Devita yang bergerak kecil.
''Ka, tangan Devi bergerak,'' ucapan Puspa membuat Daniel dan Jonathan menoleh ke arah yang Puspa bilang, dan benar saja jari Devita bergerak dengan berbarengan suara yang sangat lirih keluar dari bibir mungilnya.
''Ay-yaah,'' lirih Devita.
''Dan-niel,'' lirih Devita lagi.
Daniel dan Puspa saling melihat satu sama lain, ada pancar kebahagiaan disana.
''Akubakan memanggil Dokter,'' Jonathan berlalu kelaur, dan sesaat kemudian dokter pun datang bersama dia suster lainnya.
''Maaf Kalian bisa keluar sebentar,'' ucap suster satu menyuruh mereka keluar dengan sopan.
Daniel yang sebenarnya tidak rela untuk meninggalkan Devita hanya menurut begitu juga Puspa dan Jonathan.
__ADS_1