Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Dari Hati ke Hati


__ADS_3

Di sebuah cafe yang terletak di depan gedung kampus, sepasang manusia sedang duduk tanpa ada yang memulai untuk bicara.


Dengan makanan dan minuman yang sudah di pesannya terlebih dulu tapi seakan tak di perdulikan makanan itu karena sang pemesan tidak ada yang mau memakannya.


Lama mereka cukup diam, akhirnya sang wanita yang mengalah untuk memulai pembicaraan.


Mereka yang yak tak lain adalah Puspa dan Kemal, yang baru saja memulai untuk menjalin hubungan walau di mulai dengan kata 'Jalani saja dulu, yang di artikan mencoba.


''Kau tidak perlu perlebihan seperti itu, Kem,'' ucap Puspa, Kemal yang mendengar ucapan Puspa hanya bisa mendengus kesal.


''Berlebihan, jadi menurut mu, aku berlebihan untuk mengexpresikan rasa perduli ku pada mu, Puspa.'' Ucap Kemal dengan tatapan datar serta memanggil nama benar Puspa yang menandakan ia tengah marah.


Puspa menelan salivanya setelah mendengar penuturan Kemal, sudah lama Ia tidak mendengar dan melihat Kemal bersikap sedingin itu.


Apa Ia tengah cemburu? pikir Puspa, pipinya bersemu merah dengan di barengi tingkah yang serba salah.


''Apa kau cemburu?'' tanya Puspa dengan ragu.


''Apa salah aku merasa cemburu dengan kedekatan kalian,'' jawab Kemal dengan cepat, dan membuat Puspa semakin salah tingkah.


''Kau sungguh cemburu, Kem?'' tanya Puspa lagi untuk lebih memastikan.


Tidak ada jawaban dari mulut Kemal, wajah nya yang di tekuk dengan tangan yang bersedekap menandakan suasana isi hati yang sedang buruk.


''Kau bahkan tidak pantas cemburu,'' goda Puspa.


''Kenapa?'' tanya Kemal dengan heran.


''Wajah mu tidak mendukung,'' tawa Puspa menggelegar sampai penghuni cafe menoleh dan menatap heran ke arah Puspa.

__ADS_1


Tawa Puspa seakan menular ke Kemal, sampai Ia pun tak sadar ikut mengangkat bibir membentuk senyum bulan sabitnya.


''Kau jangan tersenyum Kem, aku bahkan lebih menyukai wajah cemberut mu,'' goda Puspa lagi dengan diiringi tawanya.


''Awas kau ya,'' Kemal tidak tahan menahan senyum sehingga Ia ikut tertawa juga.


Banyak pasang mata yang menatap ke arah meja tempat Puspa dan Kemal duduk, banyak yang ikut senang dengan interaksi kedua manusia itu, karena menganggap itu adalah sebuah hubungan yang sangat romantis serta humoris.


Merekapun memakan pesanan yang mungkin sudah dingin karena lama di angguri.


.


.


.


Di sebuah Mansion kediaman keluarga Carroll.


''Sudah lama Daniel tidak pulang ke sini,'' ujar Dinar kakak kandung Daniel.


''Ya mungkin dia sibukkan dengan urusan asmara nya dengan gadis itu,'' timpal Nadia dengan nada yang seakan tidak suka dengan kedekatan Daniel dan Devita.


Dinar sadar dengan expresi yang di tujukan Nadia, Ia sangat mengenal Nadia sedari kecil maka dari itu Dinar sangat paham dengan perasaan Nadia, tapi Dinar bersikap biasa saja seakan tidak tahu menahu dengan perasaan gadis di depannya.


''Iya, tapi aku senang melihat Daniel bisa menjalan hubungan dengan seorang gadis yang baik seperti Devita,'' ucap Dinar lagi, Nadia hanya bisa mendengus kesal.


''Ka Dinar bahkan belum mengenal dia lebih jauh, tapi kenapa bisa menilai Devita itu gadis baik.'' Tanya Nadia dengan menyelidik.


''Karena aku sangat paham dengan adik ku. Daniel tidak akan sembarangan memilih seorang gadis untuk di jadikan kekasihnya.'' Jawab Dinar dengan wajah yang ceria.

__ADS_1


Dengan jawaban Dinar, Nadia semakin kesal di buatnya.


'Aku yang di kenalnya jauh lebih lama dari Devita bahkan tidak pernah di puji seperti itu.' batin Nadia kesal.


Di sela-sela obrolan yang menyulutkan rasa kesal itu, seorang wanita paru baya dengan penampilan glamour nya mendekat ke arah mereka dan duduk tanpa di persilahkan.


''Dinar, dimana suami mu, kau sudah hampir dua bulan disini, tapi suami mu bahkan tidak berniat untuk menyusul mu.'' Ucap wanita paruhbaya itu yang tak lain adalah Ibu kandung nya sendiri. Mirna Celline.


''Urusan Ibu apa, menanyakan suami ku?'' tanya Dinar dengan santainya tapi menyirat kebencian.


''Ya aku hanya menanyakan menantu ku saja, apa itu salah,'' jawab Mirna.


''Ingin meminta uang bukan?'' skak mat Dinar, Mirna tidak menjawab nya tapi ia menyunggingkan senyum sinisnya.


Nadia yang menyadari keberadaan nya di tengah-tengah mereka sangat mengganggu, akhirnya Nadia pamit undur diri beralasan untuk kembali ke kamarnya.


''Ka aku kembali ke kamar dulu,'' ucap Nadia yang mendapatkan anggukan dari Dinar.


''Saya permisi, Tante.'' ucapnya tanpa di jawab oleh Mirna.


Setelah Nadia berlalu pergi, Dinar menatap sendu wajah sang Ibu yang sudah mulai di tumbuhi kerutan halus di area dahi dan pipinya.


Dengan menghela nafas, Dinar mencoba berbicara pada sang Ibu dari hati ke hati, dan berharap mendapatkan respon yang baik.


''Bu, mau sampai kapan Ibu seperti ini, apa ibu tidak lelah dengan gaya hidup Ibu, bahkan Daniel pun sampai sekarang tidak ingin mengakui mu sebagai Ibunya.'' Ucap Dinar dengan nada selembut mungkin.


Mirna sedikit terkejut mendengar penuturan anak sulung nya, bahkan hatinya sedikit tergerak namun Ia tidak ingin terlihat lemah di mata anak sulung nya.


''Peduli apa kau dengan ku,'' ketus Mirna.

__ADS_1


''Aku bukan sekedar peduli, tapi aku sangat peduli dengan Ibu, bagaimana pun Ibu, Ibu tetap wanita yang melahirkan ku,'' jawab Dinar lagi.


Mirna tidak lagi bisa berkata apa-apa, Ia bungkam seribu bahasa, mencoba acuh tapi tidak dengan hatinya.


__ADS_2