
Zen terus menggerutu, langkah nya di buat panjang rasa kesal mendengar Linda pergi dengan seorang pria dia merasa ada sesuatu yang membuat nya marah tapi dia juga tidak tahu kondisi apa yang ada di perasaan nya.
'' Makan malam, ck, akal bulus,'' gumam Zen yang saat ini sedang menyetir sambil dengan mata yang terus melirik kanan dan kiri mencari tempat makan yang kemungkinan Linda dan temannya datangi.
Dan benar saja, di sebuah cafe di sanalah Linda dan seorang pria sedang duduk menunggu pesanannya, Zen menghentikan mobilnya di sebrang jalan memperhatikan dari jauh.
'' Oh di sana, cih mengajak seorang wanita makan kok di pinggir jalan,'' ucap Zen dengan kekehannya.
Zen memutar kemudianya untuk berputar agar mobilbya terparkir di depan cafe itu, setelah mobilnya sudah terparkir apik, Zen pun turun dari mobilnya dan melangkahkan kakinya menuju meja dimana Linda dan Nando berada.
Tanpa permisi Zen duduk di antara mereka dan membuat Linda juga Nando merasa risih. '' Kau di sini Tuan?'' ucap Linda.
'' Ya kebetulan saya lewat dan melihat kalian,'' jawab Zen dengan mengarang.
'' Pelayan, buatkan saya makanan yang sama dengan mereka, dia yang bayar,'' ucap Zen pada pelayan yang saat ini sedang menyajikan pesanan Linda dan Nando.
'' Saya?'' tanya Nando menunjuk dirinya sendiri.
'' Iya, kenapa? apa kau keberatan?'' ujar Zen dengan senyum miringnya.
'' Ti-tidak, pesanlah apapun yang anda inginkan,'' jawab Nando.
Tanpa permisi lagi, Zen menarik piring yang ada di depan Nando dan memakannya.
'' Aku sudah lapar, kau makan makanan yang ku pesan saja,'' ucap Zen.
Linda yang mengetahui kejahilan Zen hanya terkekeh dalam diam dan menggelengkan kepalanya.
Dengan sengaja Zen memesan lagi makanan bahkan lebih dari satu untuk dia bawa ke rumah sakit untuk Dinar juga Puspa, Nando tercengang mendengar pesanan Zen yang terbilang makanan mahal di sana.
'' Tuan Zen, kau memesan makanan untuk siapa?'' tanya Linda.
'' Ka Dinar dan Puspa,'' jawab Zen yang sedang menyantap makanan milik Nando.
'' Makanlah,'' ucap Zen lagi yang melihat Linda belum juga memakan makanannya.
Entah kenapa Linda tidak berkata-kata lagi dan hanya menurut ucapan Zen dan memakan makanannya, setelah Linda juga Zen menyelesaikan makanan nya, pesanan Zen pun datang beserta makanan yang seharusnya untuk dia tapi dia berikan ke Nando untuk pengganti makanannya yang di makan Zen.
'' Kau sudah selesai makannya?'' tanya Zen dan Linda menganggukan kepalanya.
'' Ya sudah ayo kita kembali ke rumah sakit, ka Dinar dan Puspa pasti sudah lapar,'' ucap Zen tanpa tau malu.
__ADS_1
'' Dan terima kasih untuk traktiran nya ya, lain hari saya yang akan mentraktir mu,'' ucap Zen yang sudah beranjak dari duduknya.
'' Tapi..'' ucap Linda yang merasa tidak enak pada Nando karena sikap Zen.
'' Sudah ayo, kita pamit ya,'' sela Zen yang menarik tangan Linda untuk ikut ke mobilnya.
Nando yang mendapatkan perlakukan seperti itu hanya tercengang bingung.
'' Kenapa malah aku yang di tinggal,'' gumam Nando.
Zen membukakan pintu mobil untuk Linda dan berputar untuk masuk ke mobilnya juga.
Zen pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit lagi dengan dua bungkus makanan untuk Dinar juga Puspa.
Linda terkekeh geli mengingat sikap Zen pada Nando. '' Kenapa tertawa? apa ada yang lucu,'' ucap Zen yang tidak mengerti dengan tawanya Linda.
'' Kau yang lucu Tuan, bisa-bisanya kau menjahili Nando,'' jawab Linda yang masih tertawa geli.
'' Menjahili?''
'' Iya, kau menjahilinya abis-abisan,'' tawa Linda semakin geli.
'' Tidak bagaimana, pertama kau ambil makanan dia dan kedua kau memesan lagi untuk di takeaway dan setelah itu meninggalkannya sendirian, hahahah.'' Linda menyebutkan satu persatu kejahilan Zen.
Zen yang melihat Linda tertawa seakan terbawa ke dalamnya dan dia pun ikut tertawa bersama Linda.
'' Kau lihat tidak wajah bingung nya, sangat lucu, haha.'' Tawa Zen tanpa sadar.
'' Iya, tapi aku merasa lega karena bisa pergi lebih cepat dari sana, terima kasih tuan kau datang tepat waktu,'' ucap Linda dengan sisah tawanya.
Linda menoleh ke samping dan melihat langsung wajah Zen yang sedang tersenyum namun tetap dengan pandangan ke depan jalan, ada rasa kagum saat melihat wajah manis Zen yang sedang tertawa itu.
Tidak pernah ia melihat wajah ceria Zen dan saat ini Linda menyaksikan nya langsung sungguh luar biasa. '' Kau berbeda saat tersenyum'' celetuk Linda tanpa sadar tapi ucapan Linda membuat Zen menyadari kalau dia saat ini sedang tidak seperti dia biasanya.
Dengan cepat Zen merubah expresi nya seperti semula, datar tanpa Expresi.
'' Lupakan saja,'' ucap Zen dengan dingin.
'' Haah? lupakan apa?'' tanya Linda yang tidak mengerti arah ucapan Zen.
'' Ya lupakan jika kau sudah melihat ku sedang tersenyum,''
__ADS_1
Lagi-lagi Linda tertawa namun tawanya kali ini berbeda, Linda tertawa terpingkal-pingkal karena ucapan Zen.
'' Kau aneh Tuan, aku di minta melupakan yang sangat langka seperti itu,'' tawa Linda.
Zen tidak menjawab nya dia hanya fokus menyetir mobilnya.
Linda masih saja tertawa dan sesekali Linda berucap dengan ledekannya pada Zen dan membuat Zen kesal sampai menghentikan mobilnya.
'' Tertawa terus,'' ucap Zen yang mendekatkan wajahnya ke wajah Linda agar berhenti tertawa dan itu berhasil membuat Linda seketika terdiam.
'' Apa kau tidak mau tertawa lagi, ayo tertawa, tertawai aku sepuasmu,'' ucap Zen lagi.
Posisi wajah mereka sangat lah dekat hanya menyisakan beberapa senti saja, yang awalnya Zen hanya ingin mengunci mulut Linda agar berhenti tertawa namun karena posisinya sangatlah dekat membuat Zen dan Linda sama-sama terdiam karena terbawa suasana.
Mata mereka bertemu cukup lama, tangan Zen menyentuh wajah linda dengan jari sebagiannya menyentuh belakang telinga, Linda memejamkan matanya dan 'Cup'
Bibir Zen mendarat indah di bibir Linda yang saat ini masih terpejam, awalnya hanya menempel kan bibirnya namun karena terbawa suasana, Zen mendalamkan ciumannya.
Dengan tidak adanya penolakan, Zen pun semakin berani yang kemudian mengigit bibir bawah Linda agar membuka mulutnya untuk ia bisa leluasa mengabsen setiap gigi serta menelusuri isi mulut Linda yang terasa hangat dan manis itu.
Cukup lama mereka berperang bibir juga lidah yang pada akhirnya Zen mengakhiri nya karena melihat Linda yang sudah kehabisan oksigen karena aktivitas yang mereka lakukan.
Nafas keduanya tersengal-sengal saling memburu oksigen di dalam mobil yang hilang karena kegiatan mereka.
Setelah sudah cukup oksigen, Zen melajukan kembali mobilnya tanpa mengucapkan apapun begitu juga Linda yang mengunci mulutnya dengan wajah yang memerah.
Sesampainya mereka di Rumah sakit, mereka pun turun secara bersamaan dan melangkah menuju ke dalam rumah sakit dan secara kebetulan mereka kembali berpapasan dengan Nando yang baru saja tiba.
'' Kalian? kalian baru sampai?'' tanya Nando dan membuat Linda juga Zen seketika salah tingkah.
'' Iy-iya, kami baru sampai,'' jawab Linda dengan gugup.
'' Tapi kan tadi kalian pergi lebih dulu,'' ucap Nando lagi yang semakin membuat kedua orang itu salah tingkah.
'' Saya permisi,'' ucap Zen yang berlalu meninggalkan Linda bersama Nando di sana.
'' Nando, aku permisi juga ya, bye,'' ucap Linda yang berpamitan juga menyusul langkah Zen.
Nando terdiam dengan menatap aneh tingkah Linda dan Zen yang salah tingkah itu. '' Mereka kenapa?'' Gumamnya.
TBC...
__ADS_1