
Zen yang merasa kesal dengan dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol dirinya hanya bisa mengatur nafas agar normal kembali.
Diapun pergi melangkahkan kakinya menuju dimana Linda juga pergi.
Sebelum masuk ke ruangan Kemal ia duduk di depan kamar kembali menyiapkan dirinya untuk berpapasan dengan Linda tapi saat ia ingin beranjak pintu kamar terbuka dan Linda lah yang keluar dari sana.
Mata mereka bertemu dan Linda juga yang mengakhirinya dan berlalu dari hadapan Zen dengan wajah ketusnya.
'' Mau kemana dia,'' gumam Zen yang ingin tahu kemana tujuan Linda.
Linda yang mendapat telpon beberapa kali merasa terganggu dan berniat mengangkatnya namun menjauh dari keramaian.
'' Ada apa kau menghubungi ku lagi,'' tanya Linda dengan seseorang di sebrang sana.
'' Ada apa kau bilang, apa ada alasan seorang kekasih menghubungi wanitanya,'' ucap seseorang di sebrang sana.
'' Apa kau belum puas menyakiti ku Friz!!'' ucapnya lagi dengan nada tinggi.
'' Linda maafkanlah aku, aku benar-benar menyesali perbuatan ku, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, dan katakan lah sekarang kau ada di mana?'' jawab orang itu yang ternyata dia adalah kekasihnta Linda atau bisa di bilang mantan kekasih nya.
'' Aku mohon jangan mengganggu ku lagi,'' ucapnya yang sudah kembali dengan nada lembut.
'' Linda berilah aku kesempatan sekali lagi. kemarin aku benar-benar menyesal,'' ucap Frizi dengan memohon.
Tanpa mengucapkan apapun, Linda menutup panggilan nya dengan sepihak. ''Cih, maaf katanya,'' gumam Linda, Linda pun memblokir nomor mantan kekasihnya itu.
Saat dia ingin berbalik kembali ke kamar Kema, Linda di kejutkan dengan hadirnya Zen yang sudah ada di belakang nya.
'' Astaga kau sedang apa!!'' bentak Linda karena terkejut.
'' Siapa yang menghubungi mu sampai menerima telpon saja menjauh seperti ini,'' ucap Zen dengan jelas.
Alis Linda menyatu sempurna karena pertanyaan Zen.
__ADS_1
'' Memangnya urusan mu apa? apa kau juga perlu mengetahui siapa yang aku telpon dan siapa yang menelpon ku.''
'' Jelas,''
'' Cih, menyebalkan,'' gumam Linda.
'' Jangan mengatai ku,'' cetus Zen.
Mereka berdua masih saja berdebat sampwi pada akhirnya Linda yang mengalah dan pergi dari sana.
Di taman rumah sakit.
Puspa duduk di tengah mendung nya langit, dengan tatapan mengarah ke atas langit dan setetes demi setetes air mata terus membasahi pipi mulusnya.
'' Kenapa harus ada pertemuan tapi akhirnya ada perpisahan, Tuhan ku berharap kau mau memberi kesempatan untuknya agar bisa menepati janjinya pada ku,'' gumam Puspa.
'' Semua orang akan kembali kepadanya, dan kita yang masih di percayakan disini jangan pernah menyia-nyiakannya,'' ucapan seseorang membuat Puspa menoleh cepat dengan tatapan tajamnya.
'' Apa maksud mu?'' tanya Puspa dengan ketus karena tidak menyukai ucapan orang tidak ia kenal.
'' Sangat salah, ucapan mu mengarah pada orang yang telah tiada sedangkan dia sedang berjuang hidup,'' jawab Puspa.
'' Apa kau kekasihnya Kemal?'' tanya Reksa.
'' Ya, kenapa?''
'' Tidak, perkenalkan. Saya Reksa anak buah Kak Kemal yang di percayakan untuk mengurus Restoran nya semenjak beliau menjadi Dosen.'' Ucap Reksa memperkenalkan dirinya.
'' Aku Puspa,'' jawab Puspa.
'' Boleh saya duduk,'' ucap Reksa dengan sopan, tanpa menjawab Puspa menggeser duduknya sampai ke ujung kursi.
Reksa pun duduk. '' Saya paham dengan perasaan kamu, tapi kamu juga harus kuat karena kamu harus memberi semangat untuk Kemal,'' ucapan Reksa membuat Puspa termenung.
__ADS_1
'' Dia butuh suport dari orang yang tersayang nya kan, kembali lah ke kamar Kemal ajak dia bicara agar dia tau kalau ada seseorang yang menunggu nya di dunia nyata ini.'' Ucap Reksa lagi.
'' Ya kau benar, terima kasih,'' ucap Puspa dengan senyum tipisnya.
'' Baiklah saya permisi, ada pekerjaan di restoran,'' pamit Reksa yang sudah beranjak berdiri.
Reksa menoleh dan memberikan senyum ramahnya dan berlalu dari hadapan Puspa.
Puspa menatap langit dan beranjak dari duduk nya untuk kembali ke kamar Kemal.
Dengan semangat nya Puspa melangkah namun saat langkah nya sudah hampir sampai matanya melihat beberapa orang yang berdiri di depan ruangan Kemal dengan kepanikan.
'' Kak, Kemal kenapa?'' tanya Puspa.
Pertanyaan Puspa tidak ada yang menjawab nya, mereka hanya diam dengan tatapan sendunya.
'' Kenapa tidak ada yang menjawab pertanyaan aku,'' ucap Puspa dengan sedikit berteriak.
'' Tolong jawab! Kemal baik-baik aja kan,'' desak Puspa dengan suara yang bergetar.
'' Pu, kamu yang tabah ya,'' lirih Devita yang melangkah menghampiri Puspa.
Air mata Puspa menetes dengan sendirinya, ucapan Devita menjawab semua pertanyaan Puspa dengan jelas.
'' Tidak, ini tidak mungkin kan ka,'' Puspa menghampiri Daniel dengan deraian air matanya.
Daniel hanya diam dengan terus menundukkan kepalanya. '' Kemalll!!!'' teriak Puspa dengan histeris.
'' Pu,'' Devita langsung memeluk tubuh sahabat nya, ia tahu kalau Sahabat nya sedang terpukul dengan mendengar nya kabar buruk ini.
'' Kemal kamu jahat! kamu belum melunasi janji mu padaku,'' tangis Puspa semakin pilu dan membuat orang yang disana ikut terbawa ke dalamnya.
'' Dev, Kemal masih bisa sadar kan,'' Puspa bertanya dengan lirih, matanya menatap Devita langsung berharap Devita menjawab 'iya dengan pertanyaan dia.
__ADS_1
'' Pu, jangan seperti ini,'' Devita yang tidak lagi kuat menahan sedihnya, dia pun ikut menangis dengan memeluk tubuh Puspa yang sudah tidak lagi mempunyai tenaga untuk berdiri.
'' Kemal tidak akan pergi Dev, dia masih mempunyai janji pada ku, huhuhuhu,'' tangis Puspa tidak lagi terkendali, ia benar-benar merasakan dunia nya telah berhenti bersamaan dengan perginya kekasih hatinya.