Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Pertemuan yang Tak Terduga


__ADS_3

Hari sudah pagi, suasana yang berbeda dari negara asalnya sangat terasa menurut Devita.


Gadis berusia 23 tahun itu sedang berdiri menghadap kaca besar yang menampilkan suasa kota yang ramai.


Merasa tidak asing dengan suasana yang di lihat nya, gedung-gedung tinggi, jalanan yang ramai dengan kendaraan-kendaraan yang lalu lalang untuk tujuannya masing-masing.


''Apa ini di Indonesia?'' gumam Devita yang masih memperhatikan sekeliling.


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Devita, berjalan dengan cepat untuk membukakan pintu.


Ceklek


Seorang wanita yang berprofesi sebagai pelayanan kamar berdiri dengan nampan di tangannya yang berisikan sarapan untuk Devita.


''Nyonya Carroll?'' tanya pelayan kamar itu.


Devita yang mendengar ucapan pelayan kamar itu sedikit terkesip. Nyonya? Carroll? Devita masih bungkam karena speechless.


''Nyonya?'' panggil pelayan itu lagi.


''Aah, iya.'' Jawabnya dengan wajah yang terkejut.


''Nyonya Carroll?'' ulangnya.


''Iya, saya sendiri.'' Jawab Devita dengan senyum kaku nya.


''Ini sarapan untuk anda, yang di pesankan langsung dari Tuan Carroll.'' Ucap pelayan itu dengan bahasa Indonesia yang fasih.


''Oh iya, Terima kasih.'' Devita mengambil nampan itu dan pelayan itupun permisi pergi.


''Benar ini di Indonesia,'' gumamnya.


''Tapi tunggu, tadi pelayan itu menyebut ku, Nyonya Carroll.'' Pipi Devita bersemu merah, Ia merasa senang mendengar nya, Ia meyakini Daniel lah dalangnya.


Devita meletakkan nampan itu di atas nakas samping tempat tidurnya.


Matanya melihat sekeliling untuk mencari sling bag nya.


Setelah menemukan apa yang di cari, Ia merogoh tas itu untuk mengambil benda pipihnya dan berniat untuk menghubungi seseorang.


''Halo Daniel, kau dimana?'' tanya Devita, ya yang di hubunginya adalah Daniel.


''Apa kau merindukan ku, Vita?'' goda Daniel.


''Isshh, terlalu percaya diri sekali,'' jawabnya menahan senyumnya.

__ADS_1


''Aku tadi keluar sebentar, dan ini aku sudah di jalan menuju hotel, memang nya kenapa?'' tanya Daniel lepas menjawab pertanyaan Devita.


''Memang nya kau habis dari mana?'' tanya Devita ingin tau.


''Rahasia,'' jawab Daniel dengan usilnya.


''Menyebalkan, ya sudah aku tutup dulu,'' tanpa menunggu jawaban Daniel, Devita menutup sambungan telpon nya.


Daniel tertawa kecil dengan merajuknya Devita.


''Baru kali ini ada yang berani menutup telpon saat masih bicara dengan ku,'' gumam Daniel dengan bibir yang terus melengkung.


Devita sudah selesai dengan sarapan nya, Ia yang tadinya ingin menunggu Daniel untuk sarapan bersama, tapi dengan rasa kesalnya akhirnya Devita sarapan duluan tanpa Daniel.


Saat Devita pergi keluar untuk berjalan-jalan sekeliling taman hotel karena bosan, ada seorang pria sedang berjalan tanpa melihat depan karena sibuk dengan ponselnya.


Bruugh.


Devita dan pria itu bertabrakan tanpa sengaja, ponsel keduanya jatuh secara bersamaan.


''Maafkan aku. Ini ponsel mu,'' ucap keduanya berbarengan.


Ya mereka salah mengambil ponsel dan berniat untuk mengembalikan ke pemilik nya.


Mata mereka saling bertemu dan saling terkunci, Devita bungkam dan pria itu pun sama bungkamnya.


''Devi,'' ucap pria yang bernama Dimas itu.


''Maaf aku tidak sengaja, kalau begitu aku pergi dulu,'' ucap Devita setelah tersadar dari keterkejutan nya.


Devita berbalik dan melangkahkan kakinya secepet mungkin, namun teriakan pria yang bernama Dimas itu membuat Ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk pergi.


''Devi, kau Devi kan?'' ucap Dimas.


''Kau salah orang, aku bukan Devita.'' Jawabnya dengan cepat namun tanpa berbalik.


''Kau lucu sekali, Dev.'' Tawa Dimas yang melangkahkan kakinya menghampiri Devita dan berdiri tepat di depan Devita berdiri.


''Apa maksud mu?'' tanya Devita dengan heran.


''Aku bertanya kau Devi bukan, bukan bertanya Kau Devita,'' ujar Dimas dengan senyum manisnya.


Wajah Devita seketika pucat pasih, dalam hatinya Ia merutuki kebodohan nya sendiri.


''Kau sedang apa disini?'' tanya Dimas

__ADS_1


''Bukan urusan mu, maaf aku ada urusan,'' Devita berusaha untuk menghindari Dimas namun lagi-lagi Dimas menahannya.


Tapi kali ini Dimas menahannya dengan cara mencekal pergelangan tangan Devita.


''Dev, maafkan aku,'' lirih Dimas dengan wajah sendunya.


''Maaf, untuk apa?'' tanya Devita dengan menatapnya datar.


''Maafkan aku karena sudah pergi tanpa pamit,'' lanjutnya.


''Aku sudah melupakan nya Dim, tolong lepaskan aku, aku ada urusan.'' Ucap Devita dengan ketus.


''Aku tau kau berbohong, kau ingin menghindari ku kan,'' ucapnya.


''Tidak,''


''Kalau tidak, ayo kita pergi untuk sekedar meminum kopi,'' ajak Dimas, namun belum di jawan Devita, Dimas sudah menarik tangan Devita menuju restoran hotel.


''Dim, aku tidak bisa,'' tolak Devita tanpa ada sahutan dari Dimas.


Saat sudah di Restoran hotel, Dimas mendudukan Devita di sebuah kursi dan Dimas pun ikut duduk.


Tanpa bertanya lagi, Dimas memesan kopi untuk Devita.


''Tidak Dim, aku sedang Jetlag, jadi tidak bisa meminum kopi,'' ucap Devita.


''Oh ya sudah, saya memesan kopi satu dan lemon tea satu,'' ucap Dimas pada waiters, setelah mencatat pesanan waiters itu pun pergi.


''Katakan pada ku, sedang apa kau disini?'' tanya Dimas lagi.


''Aku sudah bilang, ini bukan urusan mu,'' jawabnya.


''Hemm ya sudah tidak apa-apa jika kamu tidak ingin mengatakan nya,''


''Kalau begitu kita ganti topik pembicaraan,'' lanjutanya, Devita masih diam.


''Hemmm bagaimana kabar mu?'' tanya Dimas dengan lembut.


''Seperti yang kau lihat,'' jawabnya dengan acuh.


''Dev, aku mohon jangan bersikap dingin seperti itu, dimana Devi ku yang dulu.'' Ucap Dimas denga memegang buku tangan Devita.


Tapi dengan sigapnya Devita menghindar.


''Maaf,'' lirih Dimas.

__ADS_1


Devita mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan untuk Daniel, agar tidak membuat Daniel khawatir karena Ia tidak ada di kamarnya.


__ADS_2